Sampah Plastik Kemasan “Membanjiri” Hulu dan Hilir Sungai Brantas

Plastik kemasan sekali pakai membanjiri sungai Brantas tepat di kawasan bendungan Sengguruh, Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. (Foto: Envigreen Society Malang).

Terakota.idSampah plastik kemasan dari 10 merek multinasional dan nasional mencemari sungai Brantas. Kemasan sekali pakai yang diproduksi dibuang ke sungai, menjadi sampah. Kesepuluh merek adalah  PT Unilever, PT Wings, PT Indofood, P&G, PT Unicharm, PT Softex Indonesia, PT Ajinomoto, PT Kao, PT Heins ABC dan PT Nabati.

Plastik kemasan terdiri atas personal care yakni kosmetik, sikat gigi, sabun, sampo, popok, pembalut wanita dan pasta gigi dan household product meliputi pembersih lantai, pembersih piring dan pembunuh serangga dan food packaging berupa pembungkus  makanan minuman berbentuk botol plastik minuman, sachet kopi, susu, bumbu dan softdrink.

“Banyak ditemukan di sungai dan pesisir, muara Sungai Brantas,” kata mahasiswa jurusan Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahin Malang, Alaika Rahmatullah dalam siaran pers yang diterima Terakota, 22 September 2021.

Brand audit dilakukan tujuh komunitas lingkungan poros Malang-Surabaya di bendungan Sengguruh, Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, pada 12 September 2021. Ketujuh komunitas antara lain Envigreen Society Malang, Komunitas Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, River Warrior Surabaya, NoWaste Surabaya, Komunitas Pecinta Lingkungan Mahasiswa Agrobisnis Universitas Trunojoyo Madura, Rotaract Surabaya Persada, Komunitas Lindungi Hutan Surabaya dan Teen Green.

 “Tujuannya untuk mengetahui merek yang mencemari Sungai Brantas dan pesisir timur Surabaya,” kata Alaika Rahmatullah. Brand audit, merupakan  kali kedua. Yakni hulu sungai Brantas di bendungan Sengguruh, dan hilir di Muara Kali Brantas tepatnya di Pantai Wonorejo Surabaya pada 19 September 2021.

Sampah di hulu sungai Brantas sebagian besar berupa sampah plastik kresek. Tumpukan sampah plastik umumnya berasal dari kawasan hulu mulai Kota Malang,  Kepanjen dan Batu. Air membawa beragam jenis sampah plastik menumpuk di Sengguruh.

Sedangkan di Wonorejo, pantai timur Surabaya menemukan empat merek multinasional seperti Unilever, Danone, Ajinomoto dan  Frisian Flag. Sampah menumpuk di muara dan menyangkut di mangrove Wonorejo.

Sampah plastik memenuhi kawasan pesisir dan menyangkut di hutan mangrove Wonorejo, Surabaya. (Foto: Komunitas Lindungi Hutan Surabaya).

Brand audit di Wonorejo untuk identifikasi produsen penghasil sampah plastik yang memenuhi pesisir,” kata koordinator brand audit Sofi Azilan Aini. Ia menjelaskan sampah plastik merupakan masalah besar Indonesia. Setiap tahun sebanyak delapan juta ton sampah plastik dihasilkan penduduk Indonesia, namun hanya tiga juta yang terkelola. Sedangkan sisanya lima  juta ton terbuang ke alam.

”Sebagian besar atau sekitar lima juta ton masih di bumi. Sebagian dibakar, ditimbun dalam tanah dan sebagian besarnya sekitar 2,6 juta ton dibuang ke sungai dan berakhir ke lautan,” kata Sofi Azilan Aini. Produsen, katanya, harus bertanggungjawab atas sampah yang dihasilkan dan ditemukan mencemari lingkungan. Selain itu juga merusak ekosistem sungai dan pantai,

Koordinator River Warrior Thara Bening Sandrina menjelaskan setiap produsen bertanggungjawan atas sampah yang dihasilkan. Negara, ujarnya, melalui Undang-Undang Pengelolaan Sampah nomor 18 tahun 2008 mengatur mekanisme Extended Produsen Responsibility (EPR), artinya produsen harus mengurus kemasan yang mereka hasilkan pasca produk digunakan.

Meliputi menyediakan tempat khusus atau mengganti bungkus pengemasan yang bisa didaurulang atau menghindari pemakaian sachet. Thara bening sandrina mengajak warga Surabaya dan Malang untuk turun tangan membersihkan pantai dari sampah plastik Sekali Pakai.

Seorang aktivis lingkungan cilik Aeshnina Azzahra menyatakan akan mengirim surat protes kepada produsen multinasional dan nasional. Agar mereka bertanggung jawab atas produknya yang mencemari sungai dan pantai. “Plastik yang tertimbun di alam karena proses paparan matahari akan terfragmentasi menjadi mikroplastik yang mengancam keamanan pangan laut atau seafood” katanya.

Sampah plastik memenuhi kawasan pesisir dan menyangkut di hutan mangrove Wonorejo, Surabaya. (Foto: Komunitas Lindungi Hutan Surabaya).

Aktivis river warrior ini juga meminta produsen membuat sistem pengumpulan sampah plastik  atau residu sendiri.  Selain itu juga meminta pemerintah daerah bertanggungjawab atas sungai wajib menyediakan sarana pengolahan sampah berupa Tempat Pengolahan Sementara berbasis 3R, Reduce, Reuse dan Recycling (TPS3R).

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini