Sejarah Samaan, Permukiman Tua di DAS Brantas

Reporter : Imam Rosyadi

Terakota.idPuisi berjudul obrolan di tepi kali Brantas membuka peluncuran buku sejarah kampung atau Kelurahan Samaan, Klojen, Kota Malang. Puisi yang ditulis Cak Inun ini ada dalam buku berjudul Kelurahaan Samaan dalam lintasan sejarah Malang. Puisi disampaikan saat peluncuran buku di Kelurahan Samaan, Jumat 10 Agustus 2018.

“…..Menggali sejarah masa silam. Dari zaman megalitikum hingga Raja Mpu Sindok. Dari dusun bioro hingga dusun panggung. Dari masa Hindu, Budha hingga masa Islam. Dan juga dari Mbah Tugu sampai Mbah Honggo Leksono dan Mertowijoyo dan juga Mbah Antol. Yang semuanya adalah pendiri-pendiri cikal bakal dusun ini.”

Suasana hening, warga Samaan khusuk mendengarkan pembawa acara yang tengah membacakan puisi dengan semangat. Buku ditulis sejarawan muda, Devan Firmansyah. Ia merupakan warga asli Samaan, tinggal di RT 3 RW 7. Devan lahir dan dibesarkan di Samaan, dia terpanggil menulis sejarah daerah tempat tinggalnya.

Devan lulusan jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang ini menulis buku setebal 250 halaman. Berisi situs sejarah, asal usul, hingga perjalanan Samaan sampai sekarang. Samaan, kata Devan, merupakan salah satu permukiman tua di Malang.

Secara geografis wilayah Samaan berada di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Dilewati anak-anak sungai, yang menandakan kampung ini subur pada masa lampau. Banyak sumber mata air terdiri dari Sumber Waras, Kedung Kaji atau Kedung Singa, Kedung Bulus dan Kedung Sinyo. “Menandakan kampung ini pada masa lampau cocok menjadi kawasan agraris,” kata Devan.

Ditemukan sejumlah artefak. Terdiri dari artefak purbakala berupa batu lumpang (stone mortar) dan batu gores. Penemuan itu menandakan setidaknya ada peradaban pada zaman Megalitikum atau zaman batu besar. Hingga berlanjut ke masa Hindu-Budha.

Secara toponimi nama Samaan berasal dari kata Sema (Bahasa Jawa kuno atau Jawa Kawi) atau Smasana (bahasa Sanskerta).  Berdasarkan Toponomi diperkirakan dulu daerah ini difungsikan sebagai tempat menyimpan jenazah untuk upacara ngoben atau perabuan.

Wilayah Samaan pada masa Hindu Budha dekat dengan Kedaton Tamwlang di Dusun Tembalangan, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Kedaton Tamwlang merupakan Ibukota Kerajaan Medang atau Mataram Kuno di bawah Raja Mpu Sindok yang pertama kali di Jawa Timur. Sebelum pindah ke Watugaluh, Jombang.

Keberadaan Kedaton Tamwlang juga disebut dalam Prasasti Yuryyan  pada 929 Masehi . Terdapat pada baris terakhir prasasti itu. Sejumlah foto masa lalu sebagai bukti Kelurahan Samaan merupakan wilayah dengan taraf kebudayaan yang cukup maju. Temuan artefak di Situs Punden Mbah Tugu berupa Menhir atau Tugu Batu, Dolmen (Alter Sesajen), miniatur lumbung batu, dan juga lempengan emas berjumlah 29 keping.

Semua temuan disimpan di Museum Nasional Jakarta. Sehingga menunjukkan Kelurahan Samaan bukan tempat pemakaman saja. Melainkan tempat pusat peribadatan yang membentang sampai dekat DAS Brantas di Kelurahan Klojen.

Kelurahan Samaan juga pernah menjadi salah satu pusat syiar agama Islam. Duktikan dengan pendirian “Langgar Cangkruk.” Kini masjid bersalin nama menjadi An-nur Celaket. Pendirian tempat ibadah digunakan untuk kepentingan dakwah oleh Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman sendiri merupakan ulama besar keturunan Sunan Gunung Jati. Sulaiman dimakamkan di Mojoagung, Jombang.

Sejarah panjang peradaban di Kelurahan Samaan patut dikenang bersama. Banyak peningalan pendahulu yang patut dijaga bersama. Penulisan buku sejarah Kelurahan Samaan merupakan salah satu upaya mengingat kembali sejarah agar tidak hilang. Buku ini sekarang di kelola sendiri oleh Karang Taruna setempat, belum melibatkan penerbit.

Selama ini, Devan aktif membantu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang meneliti sejarah. Kepala Seksi Sejarah dan Nilai Tradisi dan Permusiuman Disbudpar Kota Malang Wiwik Wiharti Rodiyah berharap masyarakat turut menjaga warisan leluhur. “Sejarah ini jangan sampai dilupakan,” tuturnya.

 

 

 

Tinggalkan Pesan