Saling Silang Budaya di Klenteng Eng An Kiong (3-Habis)

Shinta Dewi Mengabdi untuk Wayang Orang

Shinta Dewi Kusuma yang akrab disapa Ibu Rudi ini mengaku menyukai wayang sejak belia. Saat itu, katanya, wayang orang merupakan hiburan yang menarik dan atraktif. Dengan berjalan kaki, kakeknya Oei Kiem Ting menggendong menuju lokasi pertunjukan wayang orang. Setelah tumbuh dewasa, Shinta semakin keranjingan menonton wayang orang.

Kecintaannya terhadap wayang ditunjukkannya dengan membimbing ketiga anaknya untuk belajar menari dan mengikuti pementasan wayang orang. Anaknya, Hadi Wijaya, Roy Wijaya dan Irene Kartika Wijaya sejak kecil akrab dengan tari klasik yang ditampilkan dalam pagelaran wayang orang. Mereka awalnya berlatih menari dan bergabung Wayang Orang Ang Hien Hoo di Perkumpulan Sosial Panca Budhi. Wayang orang itu, sebagian besar pemain dan pengrawitnya merupakan warga etnis thionghoa. Saban akhir pekan mereka rutin berlatih tari, diiringi gending karawitan pengiring wayang orang. Ketiganya sering mengikuti pementasan, bahkan Irene menjadi primadona dalam setiap pementasan.

Mereka hanya bergabung selama dua tahun di Wayang Orang Ang Hien Hoo, lantaran terjadi perselisihan di internal pengurus wayang orang. Satu per satu anggota Ang Hien Hoo mengundurkan diri. Sampai akhirnya, wayang orang Ang Hien Hoo bubar. Lantas, Shinta bersama sejumlah pengurus Klenteng Eng An Kiong mendirikan Wayang Orang Bara Pra Tama. Bermodal sejumlah kostum wayang yang digunakan Irene, Shinta menambah koleksi aneka jenis kostum tokoh pewayangan. Mulai tokoh epos Ramayana, Mahabharata sampai cerita Panji dan pakaian etnis thionghoa. Dia mengumpulkan kostum bermodal Rp 600 juta. Pakaian  tokoh pewayangan disimpan rapi dalam delapan lemari.

Bara Pra Tama berdiri 7 Maret 1989, terdiri dari sejumlah seniman wayang orang meliputi etnis Jawa dan Thionghoa. Sebagian besar para pemain dan niyaga berasal dari wayang orang Ang Hien Hoo. Mereka berlatih tekun setiap pekan di  Klenteng Eng An Kiong. Selain berlatih karawitan, para niyaga juga memainkan gamelan pengiring wayang orang. Pementasan perdana Bara Pra Tama digelar di Hotel Taman Regent Malang selama dua hari 3-4 Juni 1989.  Pementasan hari pertama dengan lakon Satria Wisudha dan hari kedua Jongko Joyoboyo Anoman Mokswa.

Pementasan perdana disambut antusias, seluruh kursi penuh terisi penonton.  Dalam buku pagelaran wayang itu juga tertulis sambutan Wali Kotamadya Kepala Daerah Tingkat II Malang, Soesamto. Dalam sambutannya mendiang Soesamto berharap para pemuda ikut terlibat melestarikan kesenian tradisi. Sekaligus untuk menunjang bidang pariwisata. “Lebih giat berkarya, cintai dan hargai budaya sendiri,” tulis Soesamto.

Soesamto, kata, Shinta turut membantu tumbuh dan berkembangnya wayang orang Bara Pra Tama. Termasuk mendukung pembiayaan dan memberi ruang bagi seniman wayang orang Bara Pra Tama tampil di sejumlah kegiatan Pemerintah Kota Malang. Bara Pra Tama juga kerap mewakili Provinsi Jawa Timur dalam acara nasional. Bahkan Bara Pra Tama  berhasil menjadi penyaji terbaik dalam festival di Taman Ismail Marzuki pada medio 1990 an.

Setelah itu, frekuensi pertunjukan wayang orang terus berkurang. Marak film, video dan kepingan cakram padat menjadi “musuh” pertunjukan wayang orang.  Pementasan wayang orang berpindah ke acara syukuran dan pernikahan, namun bukan pertunjukan wayang orang secara utuh. Tetapi berupa tarian klasik wayang orang.

Dia sering merugi untuk membiayai pertujukan wayang orang. Namun biaya pertunjukan wayang orang yang mahal ditebus dengan pertunjukan para pemain Bara Pra Tama di atas panggung. “Meski sakit tetap mengurusi wayang. Sakit langsung sembuh setelah melihat wayang orang,” kata Shinta.

Saling Silang Budaya

Budayawan Joko Saryono menilai terjadi silang budaya antara etnis thionghoa dengan jawa sejak lama. Sebagai bentuk akulturasi dan adaptasi terhadap kesenian dan budaya setempat. Agar mereka diterima dan hidup bersama penduduk pribumi. Sebab bangsa keturunan Thionghoa jauh sebelum masa kolonial, jumlah mereka terus berkembang dan menyebar di sejumlah daerah. Sehingga ada Mpu pembuat keris merupakan warga keturunan thionghoa.

“Menggunakan nama Jawa dan bertutur Jawa,” ujar Joko. Bahkan mereka mengembangkan kerajinan membatik dan menciptakan motif batik termasuk mengembangkan kesenian tradisi seperti wayang orang. Sehingga terjadi integrasi budaya yang indah. Mereka menghidupkan kesenian tradisi secara total.

“Mereka menghidupi dan menghayati kesenian tradisi,” kata guru besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang ini. Sehingga banyak ditemukan warga etnis thionghoa lebih memiliki karakter dan tradisi jawa yang kuat dibandingkan orang Jawa. Kesenian wayang orang seperti yang ditampilkan Ang Hien Hoo dan Bara Pra Tama, katanya, memiliki kecanggihan estetis.

Kesenian mengalami kemunduran saat orde baru, setelah sejumlah seniman dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia.  Sehingga sejumlah sanggar kesenian memilih tiarap, tak ada latihan termasuk pertunjukan. Namun setelah era reformasi, setelah semua serba terbuka para seniman dituntut untuk kreatif demi melestarikan kesenian tradisi.

“Harus ada revitalisasi, dan promosi agar tetap eksis,” ujarnya. Termasuk melibatkan komunitas seniman untuk berdiskusi, dan berinteraksi untuk menghidupkan kembali kesenian tradisi. Salah satunya melibatkan Klenteng Eng An Kiong untuk mengekspresikan dan melestarikan kesenian tradisi. “Klenteng menjadi tempat yang terbaik dan aman untuk menyemaikan diri,” kata Joko. (Habis) (EW)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini