Saling Silang Budaya di Klenteng Eng An Kiong (2)

Melestarikan Kesenian Tradisi

Penonton tertawa lepas saat adegan goro-goro atau munculnya punakawan, semar, petruk, gareng dan bagong. Tak hanya menyajikan banyolan lepas, punakawan juga memberikan aneka petuah dalam falsafah jawa berbentuk candaan.  Penonton terkesima, tak terasa adegan demi adegan berlangsung selama dua jam. Sebagian penonton tetap tak meninggalkan tempat duduk, meski sebagian memilih pulang karena larut malam.

“Sayang ada yang pulang di tengah pementasan,” kata pembina Wayang Orang Bara Pra Tama, Kwee Kiat Siang atau Shinta Dewi Kusuma, 74 tahun.  Kekecewaan Shinta karena sebagian penonton meninggalkan ruang pertunjukkan tak menyurutkannya untuk melestarikan wayang orang.  Dia bersama sejumlah seniman lain tetap berharap wayang orang tetap lestari.

Salah seorang penonton dari etnis thionghoa Chambali Suwito menyayangkan alur cerita melompat tak beraturan. Dia mencontohkan dalam adegan Ramayana memerintahkan Anoman ke Kerajaan Alengka untuk menyelamatkan Dewi Shinta dari cengkeraman Rahwana, tak ada adegan Anggodo dan Anoman berebut untuk menjalankan perintah Ramayana.

“Adegan itu penting untuk menunjukkan kesetiaannya kepada Ramayana,” kata Chambali. Dia juga mengkritik permaianan gamelan dan karawitan yang tak tepat dalam setiap adegan. Mereka tak kompak, katanya, sehingga mengurangi kualitas tampilan wayang orang di atas panggung. Menurutnya, secara umum tampilan wayang orang Bara Pra Tama tersebut harus ditingkatkan.

“Karawitan tak kompak,” ujarnya. Sutradara wayang orang, Mujadi mengaku tak puas dengan tampilan Bara Pra Tama malam itu.  Penampilan karawitan yang jeblok menyebabkan pagelaran wayang kurang memuaskan para penonton. Pengrawit, katanya, merupakan siswa yang tengah belajar memainkan gamelan maupun menjadi sinden di Klenteng Eng An Kiong. Sehingga mereka tak siap saat mengiringi pagelaran wayang orang.

Baca juga :  Menyelamatkan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

“Tapi banyak juga yang memuji pertujukan malam ini. Tapi saya yang tahu prosesnya tak puas,” ujarnya. Mereka berlatih selama enam kali pertemuan, setiap pertemuan selama tiga jam. Berbeda dengan para sinden dan niyaga yang baru berlatih, para pemain wayang orang merupakan anggota Bara Pra Tama yang telah berulang kali memantaskan wayang orang di depan umum.

“Lebih dari separuh pemain sudah jadi,” katanya. Sedangkan sejumlah pemain baru langsung bisa mengikuti arahan sutradara dalam setiap adegan yang dimainkan. Kuncinya, katanya, terletak dalam teks dialog yang telah disiapkan untuk para pemain. Pemain tinggal membaca dan bertutur sesuai teks dalam setiap dialog. Berbeda dengan pemain profesional, katanya, yang telah mengenal tokoh yang dimainkan serta mengerti dialog dalam setiap adegan.

Tiga pemain wayang orang, katanya, merupakan warga etnis thionghoa. Namun, mereka telah sering bermain wayang orang. Terdiri dari Titik yang berperan sebagai Dewi Trijoto, Evi Cahyuni sebagai putri dan Roy Wijaya sebagai Jatayu. Ketiganya bermain maksimal, menari dengan halus dan memukau penonton. Dalam balutan busana dan riasan wajah, mereka tak tampak seperti warga keturunan thionghoa. Menurutnya, lakon Anoman obong dipilih sesuai dengan sio monyet api. “Anoman itu kesatria monyet putih dan obong artinya dibakar atau api,” katanya.

Evi Cahyuni yang terlahir bernama Hoo Fei Fei mengaku tak kesulitan dalam pementasan wayang orang. Latihan tekun dan mengenal karakter tokoh yang diperankan menjadi kunci untuk memainkan wayang orang secara maksimal. Dalam pementasan ini, Evi berperan sebagai putrid dan penari gambyong. Dia menyempatkan waktu untuk latihan bersama, di sela kesibukannya sebagai akuntan di lembaga pembiayaan dan pengajar tari di sejumlah sekolah di Malang.

Baca juga :  Cara Mudah Mengamati Burung dengan Burungnesia

“Latihan malam tak menganggu pekerjaan,” kata Evi.  Ia tak menemui banyak kesulitan saat latihan maupun pementasan lantaran dia menghafal dialog setiap adegan yang disodorkan sutradara. Meski dialog dalam wayang orang kerap menggunakan bahasa jawa halus, sedangkan saban hari dia lebih banyak bercakap dalam bahasa jawa ngoko dan bahasa Indonesia. Sedangkan bahasa mandarin jarang dipergunakan dalam komunikasi di keluarganya.

“Mengerti bahasa mandarin tapi tak bisa bertutur, termasuk menulis,” ujarnya.  Sutradara pula yang mengenalkan terhadap karakter tokoh yang diperankan, termasuk cengkok dan panjang atau pendek setiap kalimat. Sebagai pemain wayang orang, katanya, mereka harus disiplin dan kompak berlatih. Jika ada salah satu  pemain tak datang, latihan terancam batal.

Bermain wayang orang menjadi hobi, lantaran sejak kecil berlatih tari klasik dan bermain wayang orang sejak remaja. Sebab seni wayang orang tak bisa menjadi sandaran hidup. Apalagi, selama ini jarang pementasan sehingga praktis tak mendapat penghasilan dari kesenian wayang orang. Selama tiga tahun terakhir nyaris tak ada pagelaran wayang orang. “Dulu minimal setahun sekali. Rutin mengisi pementasan dalam acara Malang Tempo Doeloe setiap tahun.

Tiga jam sebelum pertunjukan, Evi beserta pemain lain sudah harus bersiap merias wajah sesuai karakter yang dimainkan. Di balik panggung para pemain duduk menghadap cermin, sebagian memoles wajahnya dengan bedak, menorehkan pensil warna di atas kulit wajah sesuai karakter yang diperankan. “Ada peñata rias khusus rias karakter,” katanya. (bersambung)

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini