Saling Silang Budaya di Klenteng Eng An Kiong (1)

Adzan maghrib berkumandang dari sebuah musala di kawasan Kota Lama, Kota Malang. Suara adzan merdu terdengar menyeruak di sela-sela kesibukan para etnis thionghoa menyiapkan peringatan Cap Go Meh di Klenteng Eng An Kiong medio Maret 2016. Aroma harum dupa tercium saat kaki menjejak di Klengteng Eng An Kiong. Lilin berbagai ukuran mulai sebesar jari sampai berdiameter tubuh orang dewasa menghiasai sejumlah altar pemujaan.  Di tengah gedung serba guna, ribuan piring menumpuk di atas meja. Hidangan lontong cap go meh lengkap dengan lontong, sayur rebung dan sepotong ayam menyambut kedatangan para tamu undangan.

Warga Malang mulai berduyun-duyun mendatangi Klenteng. Pelataran parkir dipenuhi kendaraan. Bahkan kendaraan para tamu harus diparkir di sepanjang jalan Laksamana Marthadinata Kota Malang. Polisi sibuk mengatur arus lalu lintas untuk mengurai kemacetan. Para tamu berdiri berjajar antre, tak seberapa lama sepiring lontong cap go meh berpindah ke tangan. Piring berisi irisan lontong, sayur rebung kuah santan dan opor ayam. Mereka duduk berjajar menyantap lontong cap go meh sambil menunggu aneka pertunjukan kesenian yang disajikan oleh pengurus Klenteng Eng An Kiong, “Disediakan 5 ribu porsi,” kata juru bicara Klenteng, Bonsu Anton Triyono.

Setelah perut kenyang, tamu undangan bisa menikmati atraksi pertunjukan kesenian tradisi etnis thionghoa seperti liang liong dan barongsai. Tarian naga yang sering dipertontonkan di Klenteng namun tak menyurutkan warga untuk melongok kesenian tradisi etnis thionghoa tersebut. Sorak sorai penonton bergemuruh setiap barongsai beratraksi melompat dari tiang besi satu ke tiang lain. Atraksi penuh resiko itu juga didokumentasikan oleh para penonton dengan kamera foto maupun kamera di telepon seluler. Usai pertunjukan barongsai dan liang lioang, sayup-sayup terdengar gending gamelan dari aula Klenteng. Kidung karawitan terdengar merdu keluar dari bibir duo sinden. Sinden duduk bersimpuh sambil menembang diiringi musik gamelan.

Baca juga :  Jeritan Jiwa Pekerja Freeport

Aula berkapasitas seribu penonton itu berderet kursi tertata rapi. Banyak kursi kosong, sinden tetap setia bernyanyi membelakangi penonton. Sedangkan Niyaga atau pemain alat musik gamelan tekun mengiringi nyanyian sinden. Tepat pukul 19.30 WIB, warga berangsur memenuhi kursi penonton. Para penonton terdiri dari berbagai etnis meliputi Jawa, Thiongho bahkan sejumlah turis mancanegara juga memenuhi kursi penonton. Mereka menunggu pagelaran Wayang Wong atau Wayang  Orang Bara Pra Tama. Sejumlah pemain wayang orang merupakan warga keturunan thionghoa.

Sejumlah penonton bahkan mengenakan pakaian tradisi seperti mengenakan blangkon, berbusana tradisional Bali, Cina dan Dayak. Kehabisan tempat duduk, sebagian penonton terpaksa berdiri. Aula terasa berwarna, terjadi akulturasi budaya Cina dan Jawa. Sejumlah ornamen ruangan menunjukkan tradisi Cina seperti lampion berwarna merah yang terpasang di langit-langit aula melingkari seluruh ruangan. Kain berwarna merah berlapis kuning emas mewarnai panggung. Sementara alat musik gamelan khas Jawa komplit tertata di depan pangggung.

Pertunjukan wayang orang dimulai dengan pertunjukan tari gambyong untuk menghormati atau menyambut para tamu yang hadir.  Penari bergerak gemulai selaras mengikuti iringan alunan gamelan. Gerakan tangan, lengan, tubuh dan kepala bergerak halus secara harmonis. Sejumlah penari bergerak secara beriringan. Disusul sejumlah penari membawa gunungan wayang kulit bergerak mengelilingi panggung, tanda dimulainya pagelaran wayang.

Dalang, Bondan Rio mulai membuka pertunjukan wayang orang berjudul Anoman Obong, para penonton terhipnotis dengan pertunjukan wayang berdurasi 90 menit. Sebagian besar penonton tampak menikmatin setiap adegan. Mata penonton menatap ke atas panggung, mereka bergeming duduk di kursi penonton. Terutama saat adegan pertarungan antara Anoman dengan Rahwana untuk membebaskan Putri Shinta. (bersambung)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini