Sajian untuk Ken Dedes sebagai Wanita Utama Jawa

sajian-untuk-ken-dedes-sebagai-wanita-utama-jawa
Tari bapang wanara karya Wibie Suryomentaram menjadi puncak peringatai hari Ibu di Taman Ken Dedes, 21 Desember 2019. (Foto : Isa Wahyudi).

Reporter : Thema Pertiwi | Ayu Dirgantara

Terakota.id–Mendung menggelayut, tak menyurutkan para seniman menampilkan seni tari,  musik, drama, puisi dan mural. Beragam seni ditampilkan di taman Ken Dedes, Arjosari, Kota Malang. Pelataran di depan patung raksasa Ken Dedes menjadi panggung bagi para seniman. Mereka menuangkan semua karya seni bertema Hatur Agung Kagem Biyung atau persembahan untuk Ibu, Sabtu 22 Desember 2019.

Para seniman ini berkolaborasi untuk memperingati hari Ibu. Sebanyak 200 an seniman yang berkolaborasi di depan patung Ken Dedes. Bahkan, hujan gerimis juga tak menghalangi mereka mempersembahkan penampilan terbaik bagi hari Ibu. Mereka tetap tampil meski rintik hujan mewarnai penampilan, penonton juga tak beranjak melihat sampai selesai.

Sebuah kolaborasi Kampung Budaya Polowijen bersama Padepokan Patembayan Citralekha, Kagama Beksan Malang dan Surabaya, Sanggar Gong Production, Sanggar Budaya Ken Arok, Sanggar Padma Gayatri, Angklung Singosari, Forhati Kota Malang, HMJA Universitas Widya Gama, Mahasiswa KKN Fakultas Seni Sastra Universitas Negeri Malang, Sanggar Seni Bel Baba Fakultas Psikologi UMM, Kuswalalita Jalasena, Wadyabala Walandit.

Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi menjelaskan jika ibu merupakan sumber segala kehidupan. Sehingga patut dirayakan dan diperingati bersama. Para seniman merayakan dalam dua tempat yakni sarasehan di Sumur Windu Ken Dedes Polowijen dan Taman Ken Dedes, Arjosari.

Sedangkan sarasehan budaya menghadirkan arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono, seniman topeng Malang Suroso dan Ketua RW Polowijen, Edi Wijanarko. Kendedes, katanya, merupakan seorang ibu yang melahirkan keturunan Raja di Jawa. “Keagungan, kecantikan dan keutamaan Ken Dedes diperingati sebagai tokoh utama Jawa,” katanya.

Konsep kegiatan, kata Isa, merupakan bentuk tasyakuran. Dimulai dengan memotong tumpeng. Serta dilakukan secara bergotong royong bersama, melibatkan masyarakat, mahasiswa, seniman dan pegiat seni budaya.

Selain itu, Isa juga mengajak para seniman untuk menjadikan taman Ken Dedes sebagai area publik yang bisa digunakan utnuk mengapresiasi seni dan budaya. Gerimis tak mengusik aktivitas seni, penonton tak beranjak. Menikmati sajian tarian dan musik sampai selesai.

Para seniman menari memperingati Hari Ibu di Taman Kendedes Arjosari, Sabtu 21 Desember 2019. (Terakota/ Thema Pertiwi).

Tari bapang wanara garapan koreografer Wibie Suryomentaram menutup pertunjukan sore itu. Ia memadukan seni tari topeng Bapang asal Malang dengan Tari Beksan Wanara merupakan tarian klasik dari Yogyakarta. Memadukan seni tari lintas budaya. Selain itu, juga memadukan dua warna kostum tari bapang dominan merah sedangkan Tari Beksan Wanara berwarna putih.

“Bapang merah dan wanara putih, merupakan bentuk kecintaan ibu pertiwi yang mempersatukan anak bangsa. Nusantara, Indonesia,” kata Wibie dalam orasi budaya Hatur Agung Kagem Biyung usai penampilan tari. Tarian yang disajikan 40 penari ini juga berusaha membangun persatuan, solidaritas dan kebersamaan. Serta membangun jiwa nasionalisme.

Selain itu juga ditampilkan musikalisasi puisi dan drama Jaka Tarub. Serta beragam apresiasi untuk ibu. Salah seorang mahasiswa jurusan Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Malang Ahmad Fahrurozi menjelaskan para mahasiswa dari jurusan desain komunikasi visual, pendidikan seni rupa, musik dan tari ikut terlibat menampilkan kreasi.

Mereka menampilkan seni tari dan mural. Mahasiswa ini menampilkan atraksi live painting. Mereka melukis di atas papan sosok Ken Dedes sebagai ibu raja di Jawa. Kegiatan ini menarik, katanya, lantaran menggunakan taman Ken Dedes sebagai arena pertunjukan. “Karya mural akan dipamerkan di Kampung Budaya Polowijen,” ujarnya.

Mahasiswa seni Universitas Negeri Malang membuat mural bertema Ken Dedes. (Terakota/Thema Pertiwi).

Sejarawan Dwi Cahyono menjelaskan Ken Dedes merupakan tokoh sejarah perempuan yang mendapat predikat sebagai wanita (stri) utama. Ken Dedes dalam kitab gancaran “Pararaton” dinyatakan sebagai “strinaneswari (stri- nara-iswari”. Keutamaannya, katanya, bukan hanya karena parameswari Ken Angrok yang bergelar Raja Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi.

Namun sekaligus ibu raja Kerajaan Tumapel maupun Kerajaan Majapahit. Ken Dedes merupakan model ibu utama yang cantik (ahayu, sulistya), baik wadag (fisiografis)-nya diibaratkan melebihi kecantikan Hyang Sasadara atau rembulan, sekaligus cantik kepribadiannya atau inner beauty. Ken Dedes adalah sosok “wnitotomo” atau wanita utama masa lalu.

Malang Raya menjadi penanda gerakan perempuan bahwa Malang menjadi episetrum tokoh- tokoh perempuan utama. Tokoh perempuan lain di Malang seperti Kusumawardani dan Proboretno Istri Panji Pulang Jiwo.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini