Romantisme Musisi dan Penyair dalam Akupili

Sejumlah pengunjung ikut menampilkan musik akustik dan membaca puisi. (Terakota.id/Permata Ariani)

 

Terakota.id-Suara petikan gitar mengiringi rintik gerimis di ujung gang Joyosuko Metro, Mertojoyo, Kota Malang, Jumat malam 13 Januari. Sejumlah pengunjung duduk meriung, di depan panggung kecil. Setiap meja tersuguh hidangan berupa kudapan dan secangkir minuman hangat.

Sehangat pertemuan, dan obrolan bersama teman sambil menikmati alunan musik.  Pengunjung ikut dalam pertunjukan, mereka menampilkan music akustik, membacakan puisi, atau ikut berdendang.

Sementara pengunjung lain, cukup duduk dan menikmati sajian Akupili di Wisma Kalimetro. Ini ada gelaran keempat, Akupili merupakan singkatan dari akustikan pinggir kali. Sesuai namanya, Komunitas Kalimetro menghadirkan pertunjukan musik akustik di tepi Kali Metro selemparan batu dari lokasi acara.

Komunitas Kalimetro rutin menyelenggarakan Akupili setiap Jumat malam. Komunitas Kalimetro menggagas Akupili untuk memberikan ruang ekspresi bagi musisi dan penyair di Malang. “Untuk bersua dan menjalin komunikasi antar musisi dan penyair,” kata salah seorang pegiat Komunitas Kalimetro Yogi Fachri Prayoga.

Akupili diselenggarakan lantaran minimnya ruang bagi seniman dan budayawan muda Kota Malang memperkenalkan karyanya. “Padahal ruang-ruang perjumpaan semacam ini penting untuk menjaga kegiatan kebudayaan melalui apresiasi karya,” kata Yogi.

Awalnya Akupili digagas untuk apresiasi musik, seiring perjalanan waktu  berkembang sebagai panggung apresiasi puisi. Yogi melanjutkan gelaran Akupili semakin meriah, pengunjung ramai bertambah dari waktu ke waktu. “Kalo ada acara begini kan bisa jadi titik simpul buat seniman, musisi, atau penyair untuk saling bertemu,” turutnya.

Mereka bisa saling memamerkan karya, jadi bisa lebih berkembang dan terpacu lebih produktif  berkarya. Setiap pengunjung  dapat menampilkan keahlian bermusik, menyanyi atau deklamasi puisi. Panggung tidak dibatas, siapapun bisa terlibat. “Ini menjadi salah satu usaha meramaikan geliat kebudayaan di Kota Malang,” kata mahasiswa fakultas ilmu administrasi Universitas Brawijaya tersebut.

Salah seorang pengunjung, Nabila Rizky mengaku Akupili menjadi sebuah panggung terbuka,  mengakomodir banyak kalangan bertemu. Sudah dua kali gadis berjilbab ini datang dan meramaikan panggung dengan suara merdunya. Setiap penampilannya Nabila ditemani Andi Rosandi alias Odang yang mengiringi dengan petikan gitar akustik.

Dua mahasiswa asal Banten ini menyanyikan beberapa lagu di depan penonton. Nabila dan Odang mengaku tampil di depan umum bagi mereka menjadi pengalaman baru, sehingga Akupili merupakan sarana mengasah percaya diri.

“Acaranya menarik, sederhana, tapi aku suka orang-orangnya. Semoga kedepan semakin banyak yang ikutan manggung,” tutur Nabila.

Gerimis tak menyuritkan penampilan para musisi dengan musik akustik di Akupili. (Terakota.id/Permata Arini)

Sementara itu, pengunjung yang datang hanya untuk menikmati secangkir minuman dengan penampilan musik akustik. Fathul Qorib, datang dari Batu untuk menikmati Akupili. Menurut Qorib, Akupili memberikan sentuhan malam Sabtu yang menyenangkan sekaligus menenangkan.

“Akupili pilihan yang kekinian namun sarat makna bagi generasi millenial yang sedang menumbuk gagasan. Lebih dari sekadar nongkrong di kafe atau warung kopi,” ujarnya.

Menjelang tengah malam, musisi dan seniman telah menampilkan kebolehannya. Panggung Akupili berakhir. Meski pertunjukan akustik dan puisi sejumlah pengunjung masih asyik bercengkrama sambil menikmati minuman.

Seperti Faris Naufal Ramadhan, yang juga menjadi deklamator puisi mengaku menikmati suasana meski panggung telah ditutup. “Masih betah di sini meski acaranya sudah selesai. Bisa ngobrol-ngobrol dulu sama yang lain sambil tukar ilmu,” tutur mahasiswa hukum salah satu perguruan tinggi di Malang.

Akupili hadir sebagai salah satu agenda rutin di Kota Malang, panggung pertunjukan sekaligus mengasah talenta muda. Yogi dan seniman lain berharap Akupili menjadi salah satu alat penggerak bagi geliat kebudayaan di Malang untuk terus berkembang. Hujan mulai reda, sejumlah pengunjung tak beranjak. Obrolan semakin hangat meski secangkir kopi mulai dingin.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini