Romantisme Kebun Apel Batu

Wisatawan memetik apel di kebun apel. Hamparan kebun apel membentang di lereng Gunung Arjuna. (Terakota.id)

Terakota.id–Usai menunaikan salat subuh Sunaryo, 55 tahun, petani apel di Desa Bumiaji Kota Batu bersalin pakaian. Ia menanggalkan sarung dan peci berganti dengan pakaian untuk ke kebun apel. Lantas beranjak ke belakang rumah sambil membawa peralatan pertanian. Udara dingin menusuk  tulang, namun tak menyurutkan Sunaryo berjalan menuju kebun apel. Dengan teliti, ia  memeriksa perkembangan tanaman apel yang dipeliharanya.

Mulai memeriksa pertumbuhan bunga, daun dan batang. Matanya menyapu ke setiap tanaman yang terhampar di daerah dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (m.dpl). Telaten setiap hari bersama sejumlah pekerja merawat dan memeriksa kesehatan tanaman. Kutusisik menjadi salah satu momok petani, agar buah yang dihasilkan melimpah.

“Petani apel semakin bergairah, harga apel naik,” katanya. Sejak serangan apel impor harga apel Batu anjlok petani melepas ke tengkulak seharga Rp 4 ribu per kilogram. Namun, sejak pemerintah membatasi impor pada pertengahan 2013 harga apel naik menjadi Rp 10 ribu.
Sekarang stabil antara Rp 8 ribu-Rp 9 ribu.

Setiap hektare mengeluarkan biaya sebesar Rp 25 juta per untuk pemupukan, pestisida, dan ongkos pekerja. Setiap tahun dua kali panen, sekali panen menghasilkan sebanyak 25 ton buah apel. Jika harga apel Rp 10 ribu per kilogram, total pendapatannya mencapai Rp 250 juta.

Bahkan, ia sempat meneguk untung besar pertengahan 2013 lalu. Saat itu, harga apel kualitas super jenis anna dan manalagi dari petani seharga Rp 13 ribu, sedangkan jenis roombeauty mencapai Rp 17.500 per kilogram. Sehingga petani apel diuntungkan dan mempertahankan tanaman apel.

“Padahal, banyak petani menebang tanaman apel diganti sayuran atau tebu,” katanya. Setelah harga apel naik, para petani pun menyesal. Awalnya, mereka membabat tanaman apel karena produktifitas tanaman rendah harga apel murah. Sedangkan biaya produksi terus melangit,
harga pupuk dan pestisida mahal. Sehingga banyak petani apel terlilit utang untuk membeli pupuk dan pestisida.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini