River Warrior Tuntut Amerika Hentikan Ekspor Sampah ke Indonesia

. Bendera amerika di tumpukan sampah impor yang mengotori kawasan pemukiman di desa Bangun, Mojokerto. (Foto : River Warrior).

Terakota.idOrganisasi anak muda yang fokus penanganan dan pencegahan pencemaran sampah plastik di Sungai Brantas River warrior melayangkan surat ke Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya.  Surat ditandatangani Co-Captain River Warrior Aeshnina Azzahra Aqilani, 13 tahun. Meminta agar Amerika Serikat menghentikan ekspor sampah kertas dan plastik tercampur dan kotor ke Indonesia.

Selain itu, menuntut agar membersihkan tumpukan sampah plastik yang dibuang di perdesaan sekitar pabrik kertas. “Mengelola sendiri sampah di negaranya sendiri dan tidak diekspor ke negara berkembang sebagai tempat pembuangan sampah,” tulis Nina sapaan akrab Aeshnina Azzahra Aqilani.

Serta memperketat pengawasan di pelabuhan Amerika agar tidak mengekspor sampah plastik dan kertas yang kotor dikirim ke Indonesia. Amerika Serikat, katanya, merupakan negara yang paling banyak mengirimkan sampah plastik dan kertas kotor ke Indonesia. Sampah, katanya, seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing Negara dan harus dikelola sendiri. Tapi Amerika Serikat justru mengirimkan ke negara berkembang seperti Indonesia.

Nina melakukan observasi untuk mengidentifikasi tempat buangan sampah plastik impor dari amerika di desa sekitar pabrik kertas. (Foto : River Warrior).

Padahal aturan perdagangan global mengenai ketentuan batas jumlah dan kondisi sampah yang diperjualbelikan mulai berlaku 1 Januari 2021. Perdagangan sampah plastik telah diatur dalam Konvensi Basel New Plastics Amendments mewajibkan Negara pengekspor memberikan informasi sampah plastik yang akan diekspor berupa sampah bersih rendah kontaminasi. Sedangkan Negara penerima memiliki kapasitas memadai untuk mengolah sampah dengan cara yang aman.

Namun sayang, Amerika Serikat belum meratifikasi kesepakatan Konvensi Basel dan data perdagangan sampah plastik dari Amerika Januari 2021. Sikap ini, kata Nina, menunjukkan ekspor skrap plastik Amerika ke Negara terindikasi melanggar kesepakatan Konvensi Basel. Menuntut Amerika menjadi anggota Konvensi Basel untuk mendukung pengelolaan sampah plastik yang adil dan bertanggung jawab.

Ekspor Sampah Amerika Melonjak

Jumlah ekspor sampah plastik bekas dari Amerika Serikat ke Negara miskin naik dari 45 juta ton menjadi 48 juta ton pada Januari 2021. Amerika masih terus mengirimkan sampah plastik kotor ke Indonesia. Dibuktikan dengan temuan kontainer berisi sampah plastik kotor dikirim ke Pelabuhan Belawan Medan pada 16 Maret 2021.

Sampah yang diekspor Amerika Serikat ke Indonesia tidak seluruhnya dapat didaurulang. Lantaran terkontaminasi sampah kotor dan beracun. Sampah plastik impor yang tidak dapat didaurulang dibuang sembarangan di pekarangan atau di tepi sungai. Bahkan dibakar secara terbuka untuk menghilangkan tumpukan sampah.

Sejak 2019, River Warrior mengirim surat ke kedutaan besar Amerika Serikat. Namun belum mendapat respon atas permasalahan dampak pembuangan sampah dari Amerika. “Salah satu balasan surat yang dikirimkan kepada kami menyatakan bahwa Amerika Serikat berjanji akan meningkatkan menejemen sampah dan daur ulangnya dan berkontribusi dalam upaya penanganan pencemaran sampah plastik global,” kata Nina.

River Warrior melakukan kegiatan meliputi advokasi, edukasi, dan observasi. Visinya untuk mewujudkan lingkungan yang bebas dari sampah plastik. Selain pencemaran plastik di dalam negeri, Indonesia juga menjadi tempat pembuangan sampah dari negara maju yang diimpor sebagai bahan baku industri daur ulang kertas dan plastik. Nina berharap Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya Mark McGovern bersedia beraudiensi dengan River Warrior.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini