Rinding, Harpa Mulut dari Malang

Bejo Sandy tengah meraut bambu untuk menjadi instrumen harpa mulut, rinding. (Terakota/ Eko Widianto).

Terakota.idBejo Sandy duduk bersila di sudut ruangan Dewan Kesenian Malang (DKM) akhir pekan lalu. Tangan kiri memegang sebilah bambu dan cutter di tangan kanan. Pelan-pelan ia meraut sebilah bambu dengan telaten. Siapa sangka, ia tengah membuat intrumen musik. Warga Malang menyebut rinding, sebuah instrumen musik yang memainkannya dengan cara ditarik agar bergetar menghasilkan bunyi.

“Ada yang menyebut lindring, runding, rendhing. Beda ucapan. Sekitar 60 persen warga Malang menyebut rinding,” ujar Bejo yang kini juga dikenal dengan sebutan Bejo Rinding. Sejak delapan tahun terakhir, ia menekuni alat musik yang disebut juga sebagai harpa mulut. Bejo menelusuri dari kampung ke kampung di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu).

Bertemu perajin dan pemain rinding di Lawang, Singosari. Jodipan, Jabung, Tumpang, dan Kepanjen. Awalnya, ia tak menyangka Malang memiliki instrumen harpa mulut ini. Bejo mengenal instrumen harpa mulut sejak SD di kampungnya pada 1985. Saat kuliah di Malang, ia lebih fokus dalam seni musik, teater dan sastra. Mulai 2012, ia bertemu pelaku instrumen Karinding asal Jawa Barat di Malang.

Serta belajar membuat pikon khas Papua, dan genggong khas Bali. Pelan-pelan bertambah, ia mengoleksi harpa mulut di Indonesia. Awalnya, dia memainkan karinding untuk instrumen teater. Mulai 2016, ia ajak masyarakat untuk terlibat dan menelusuri aktivitas rinding di Malang. Bertemu para perajin dan pemain rinding.

Bertemu para seniman yang juga dulu memainkan rinding, termasuk bersama Mbah Soleh dalang topeng Malang di Tumpang dan pegiat gending Malangan mendiang Mbah Sumantri. “Semakin senang, dan mencintai rinding,” katanya.

Bejo Sandi memainkan rinding sembari membaca puisi antikorupsi di ruang sidang Balai Kota Malang. (Terakota/Tegar Muharom).

Sejumlah seniman sepuh menyampaikan rinding menjadi alat permainan semasa kecil. Berangkat dari keprihatinan, kini rinding semakin langka di Malang. Sehingga semakin memantapkan Bejo menekuni membuat, memainkan dan mengenalkan rinding. “Lo, ternyata Malang ada,” katanya.

Kini, Bejo juga tengah berproses menyusun buku mengenai Rinding Malang. Ia menelusuri wilayah di Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu. Dalam perjalannya ia bertemu seorang seniman sepuh yang menangis. Keduanya dipertemukan dalam sebuah kegiatan seni di Candi Penataran, Blitar. “Alat musik ini mengiringi aku menari,” kata Bejo menirukan penjelasan seniman sepuh itu.

Alat Musik, Ritual dan Pengusir Hama

Sementara di Bali, tarian kodok selalu diiringi genggong. Selain harpa mulut ini digunakan untuk hiburan. Para peternak sapi yang tengah angon atau mengembala ternak dengan memainkan rinding. Sementara dulu, rinding juga digunakan untuk mengusir hama. Sebuah perguruan tinggi di Semarang mengambil resonansi rinding yang dipancarkan di hamparan sawah, hasilnya petak yang dekat dengan sumber bunyi bersih dari hama.

Harpa mulut ini menggunakan tiga sistem untuk membunyikan. Antara lain dengan cara dicolek, dipukul dan ditarik. Bahkan harpa mulut di Papua bernama Susap menggunakan sistem ditarik ke dalam. Sedangkan instrumen lain ditarik keluar. “Ini satu-satunya yang juga,” ujarnya.

Sedangkan bentuknya juga beragam, pendek hingga panjang dilengkapi dengan ornamen dan ukiran khas daerah tertentu. Sedangkan nada yang dihasilkan di Malang, rata-rata menggunakan nada dasar rendah mulai D, C dan, B. Namun, kini dengan perkembangannya nada yang dihasilkan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Bejo Sandy memainkan instrumen Rinding saat pembukaan Pasar Seni Dewan Kesenian Malang, Senin 28 Desember 2020. (Terakota/ Wulan Eka).

“Kita bisa mainkan dengan nada E dan seterusnya,” ujar Bedjo. Jika bagian lengan tipis nada menjadi low, sedangkan jika lidah tipis nada menjadi hight.

Untuk membuat rinding, ia menggunakan berbagai peralatan sederhana antara lain pangot atau cutter, parang, dan gergaji. Awalnya satu ruas bambu dibelah dengan parang, lantas dibelah dan dipotong menjadi bagian kecil dengan gergaji. Tahap berikutnya diberi ukuran sesuai modul dan dibentuk pelan dengan cutter.

“Sehari bisa memproduksi 10, kadang sehari satu pun tak bisa,” ujarnya. Bejo membuat rinding dengan pelan-pena. Apalagi, jika menemukan bambu tua seperti yang tengah dipegang, bambu berumur 25 tahun. Bambu berumur panjang, katanya, sayang kalau tak jadi rinding. Semakin tua dan kering, reosinansi suara yang dihasilkan lebih bagus.

Sedangkan bambu berumur muda, masih bisa diproses dengan dikeringkan. Saat hujan seperti sekarang menggunakan sulfur, selain bambu cepat kering juga agar terhindar dari jamur. Bejo juga memiliki teknik khusus mengeringkan bambu dengan asap dupa. Asap dan minyak dupa juga membuat rinding wangi.

Selain itu, asap dupa melapisi pori-pori bamhu sehingga bambu semakin solid dan awet. “Suara lebih cling,” katanya. Dengan asap dupa, rinding menghitam dan bisa bertahan sampai lima tahun. Semakin sering dipakai, rinding akan semakin baik kualitasnya.  Umur harpa mulut ini juga tergantug perawatan, karena berbahan organik bisa mudah lapuk dan patah. Rata-rata umur rinding sekitar lima tahun, asal dirawat dan dijaga dari kelembaban.

Rindi instrumen tradisonal yang dimainkan di swah untuk mengusir hama. (Foto : koleksi Bejo Sandy).

Intrumen rinding bersifat personal, satu orang menggunakan satu interumen. Selain itu dengan cara ditiup dengan mulut sehingga hanya dimainkan secara pribadi. Harga rinding disesuaikan dengan jenis dan fungsi. Apakah digunakan untuk pemusik profesional, sekadar hiburan atau kolektor. Sebab proses dan pemilihan bahan berbeda. Harga dibanderol mulai Rp 250 ribu.

“Beda jenis dan harga. Seperti gitar bisa produksi untuk biasa atau khusus untuk pemain profesinal,” katanya. Namun, seorang wisatawan asing mengapreasiasi karinding dengan membayar seharga 200 dolar Amerika Serikat.

Rata-rata, katanya, rinding dipesan khusus untuk pemain musik. Sekitar 20 persen untuk koleksi dan cinderamata. Bejo percaya rinding seperti jodoh yang akan memilih pembeli. Biasanya ia meminta pembeli memilih rinding yang disukai.

Kimung basis “Burger Kill” kini menjadi penulis instrumen harpa mulut khususnya Karinding. Ia menelusuri semua pemusik dan perajin di Jawa Barat. Bahkan berburu sampai ke sebuah museum di Belanda. Museum berisi beragam harpa mulut Indonesia. Tertua Pikon dari Papua diproduksi  1820-an, dan termuda Karinding Jawa Barat diproduksi 1930-an.

“Alat musik begini sekitar 158 jenis disimpan di museum Belanda. Ada 24 versi Indonesia yang masih ada. Di Jawa Barat disebut Karinding, Bali disebut genggong, orang Sumba menyebut gunggi,” tutur Bejo Sandy. Sementar bejo baru mengumpulkan 27 jenis.

Kimung membuka setiap lemari berisi koleksi harpa mulut memegang satu per satu dan dokumentasikan. Kimung menjadi saksi sejarah koleksi harpa mulut masa lalu di Indonesia. “Mereka menghargai karya seni di Indonesia, ada yang patah tetapi masih disimpan,” katanya.

Kimung telah meluncurkan buku “Sejarah Karinding Priangan” yang dilakukan penelitian dan dokumentasi selama 10 tahun. Hasil penelitian kimung, ada 11 macam karinding.Buku setebal 950 halaman, Kimung harus keliling dan menjelajahi seluruh wilayah Jawa Barat. Bejo menyebutnya kitab karinding.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini