Riant Daffa dan Panggung Berlatar Sawah Oleh: Iiw Tualang*

Solois Riant Daffa meluncurkan album bertajuk “Pertanian Hari Ini” di Roia Coffee Kediri pada Rabu, 23 Maret 2022. (Foto: Iiw Tualang).
Iklan terakota

Terakota.ID-Selepas adzan Isya, di Roia Coffee, Jalan Ngasinan Nomor 52 Kota Kediri ditemani rintik hujan, solois Riant Daffa meluncurkan album bertajuk “Pertanian Hari Ini” pada Rabu, 23 Maret 2022. Album diluncurkan di sebuah kafe di kawasan Rejomulyo, Kediri yang berlatar area persawahan yang asri. Ini merupakan album kedua, tahun lalu Riant telah meluncurkan album berjudul “Janggal”.

Riant Daffa merupakan solois balada asal Kediri, yang tengah menempuh pendidikan Jurusan Budidaya Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.  Melalui petikan gitar dan harmonika Riant melawat ke berbagai daerah di Jawa. Menyambangi dan berinteraksi dengan dunia pertanian hingga gerakan agraria.

Peluncuran album kedua Riant dimulai dengan penampilan Heni Swastantri, yang mengenakan caping dengan gerak tari gemulai. Mengisahkan panen raya di sebuah area pertanian di Jawa. Disambung mahasiswa asal Madiun, Edwin yang bersolo menyanyikan dua lagu ciptaannya.

Usai itu, ia bernyanyi duo mendendangkan empat nomor folk ciptaan sendiri. Lantas menghadirkan Faried Punktomime yang menampilkan pantomim. Gerakan tanpa suara namun sarat pesan dan makna. Sementara Gayung Bersambut asal Pare turut serta pula memeriahkan acara menampilkan tiga lagu karya mereka. Berkisah tentang kehidupan desa, cuaca, dan anak-anak.

Solois asal Surabaya, Ranting juga turut menghidupkan suasana dengan petikan gitar berirama folk. Penampilan Ranting mampu mencuri perhatian penonton. Dilanjut kolaborasi musik dan puisi yang disuarakan Ferry dari Perjal Pare.

penampilan Heni Swastantri, yang mengenakan caping dengan gerak tari gemulai. Mengisahkan panen raya di sebuah area pertanian di Jawa. (Foto” Iiw Tualang).

Malam semakin larut, Riant Daffa naik ke atas panggung disambut gemuruh tepuk tangan. Berpenampilan khas, bertopi pet sembaring membawa gitar kesayangan. Sumringah ia meladeni berbagai celetukan penonton yang ditanggapinya dengan candaan khas.

Ia menghadirkan lagu “Mars War Wer Wor” sebagai nomor pembuka. Lagu yang tepat untuk dinyanyikan bersama, sehingga menciptakan suasana riuh. Para penonton yang hafal lagunya langsung koor massal. Meski lagi ini tak ada dalam album “Pertanian Hari Ini”, namun lagu cukup jitu menghidupkan sekaligus menghangatkan suasana tepi sawah dingin ditemani suara jangkrik.

Setelah itu barulah berturut-turut lagu-lagu dari album yang dirilis dilantunkan satu persatu. Tak lupa Riant Daffa menuturkan latar belakang atau cerita di balik lagu-lagunya. Seperti lagu “Petani Pahlawan Pangan Negeri” yang menceritakan kehidupan petani di desa. “Lagu tangis petani terinspirasi dari berita getir tentang sepasang petani yang mati bunuh diri menenggak racun tanaman,” kata Riant.

Sedangkan “Ladang Hutang” mengisahkan kesusahan petani yang terlilit hutang. Lagu “Hijau Kini Hilang Entah Kemana” yang sebelumnya kerap pula dibawakan dari panggung ke panggung sekaligus jadi lagu pamungkas. Lagu ini menceritakan kampung halamannya yang terdampak pembangunan bandara. Menghilangkan berhektar-hektar lahan pertanian dan keguyuban desa yang asri.

Album “Pertanian Hari Ini” dikemas dalam 13 track komposisi balada dengan dinamika tempo dan ritme yang beragam. Semacam rangkuman cerita-cerita tentang para penanam alias petani dengan segala problematikanya. Mulai kehidupan petani yang bekerja dari pagi, istirahat hingga malam. Harapan, hingga obituari tentang kematian sepasang petani yang putus asa karena permasalahan ladangnya.

“Untuk penjelasan album selengkapnya silakan baca buku “Pertanian Hari Ini” yang juga dirilis bersamaan dengan CD albumnya,” kata pemuda berkacamata sembari berpromosi.

Daffa memang kreatif, selain album berbentuk cakram padat, ia pun mengemas “Pertanian Hari Ini” dalam bentuk buku, kaos, totebag, dengan bonus stiker. Agar pembeli punya banyak pilihan sebagai bentuk dukungan untuk isu isu agraria dan pertanian.

Apa yang tersaji malam itu bisa dibilang angin segar bagi skena musik, khususnya di kota Kediri. Musik folk yang belakangan diidentikkan dengan senja dan romantisme masa muda dikembalikan khittahnya sebagai media penyampai kegelisahan kaum kecil yang terpinggirkan, yang didera kesusahan, terdesak oleh kemajuan dan pembangunan.

Sekaligus membuktikan anak muda peka dan mampu menangkap isu sosial di sekitarnya. Lantas mengolahnya menjadi komposisi nada dan irama agar tersampaikan dengan luas. Terutama untuk dikonsumsi kemudian direnungkan generasi seangkatannya.

Solois Riant Daffa meluncurkan album bertajuk “Pertanian Hari Ini” di Roia Coffee Kediri pada Rabu, 23 Maret 2022. (Foto: Iiw Tualang).

Usai berucap terima kasih, Riant mengajak para penampil, pendukung, maupun kawan-kawan yang membantu peluncuran album tampil di atas panggung. Acara peluncuran album disudahi sembari berfoto bersama dengan latar sawah yang bersebelahan dengan panggung. Malam larut, tampak wajah-wajah sumringah puas bertebaran menuju pulang.

*Pelapak di TUALANGBUKU, tukang sapu di KAKOFONI

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.