Revolusi Spiritual di Balik Pingitan

Dari kiri ke kanan: Soematri, Roekmini, Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat ayah dari Kartini, Kartini dan Kartinah. (Foto : KITLV)

Terakota.id--“Yang tidak berani, tidak menang.” Kalimat tersebut terasa sangat provokatif. Semboyan semacam ini biasanya digelorakan oleh para tokoh politik, terutama oposisi untuk melawan dominasi kekuasaan yang lalim. Namun tahukan Anda bahwa kalimat itu ditulis oleh Kartini untuk Nona Stella Zeehandelaar?

Ya, itu adalah semboyan Kartini, yang kalimat-kalimat berikutnya berbunyi: “Maju terus! Menerjang tanpa gentar dan dengan berani menangani semuanya! Orang-orang yang berani, menguasai tiga perempat dunia.” Jika kalimat-kalimat itu disampaikan secara oral, maka bayangan kita tuturan tersebut adalah sebuah pidato yang disampaikan secara menggebu-gebu.

Dalam surat itu, Kartini tak hendak memberontak terhadap penguasa zamannya, namun ia mengritisi habis fenomena sosial dan praktik keagamaan yang terjadi di sekitarnya, terutama masalah poligami. Sekalipun suara Kartini tak selantang pidato kampanye pilkada, namun gemuruh suara hati Kartini telah mengguncang dunia.

Surat tertanggal 6 November 1889 itu diawali dengan kalimat: “O, tentu saja Stella, tak terhingga terima kasih saya kepada orangtua atas pendidikan bebas yang mereka berikan kepada saya. Lebih baik seumur hidup berjuang dalam kesulitan daripada tidak mengenal segala sesatu pendidikan Eropa yang mengisi hidup saya.”

Stella, sahabat pena Kartini itu adalah seorang gadis Yahudi Belanda. Perkenalan keduanya melalui redaksi De Hollandse Lelie, sebuah majalah perempuan yang banyak memuat tulisan tentang sosial dan sastra. Kelak, bahasa yang digunakan Kartini dalam tulisan-tulisannya sangat diwarnai oleh majalah ini. Stella adalah perempuan yang idealis dan aktifis gerakan perempuan.

Sekalipun Kartini hidup dalam pingitan, namun dunia Kartini tak hanya selebar daun kelor. Wawasannya yang sangat luas dalam pelbagai bidang, dan pikirannya yang progresif yang melampau zaman dan lingkungan budayanya, maka tak salah bila pemerintah telah menjatuhkan pilihan bagi perempuan anak bupati Jepara ini sebagai pahlawan nasional.

Di kala itu, dan mungkin hingga kini, sebagian bangsa kita masih dalam kungkungan wawasan yang sempit dan fanatisme buta, Kartini telah membuka cakrawala yang menembus batas-batas pemikiran, kultur dan religi, di tengah  perjuangan kerasnya “menjebol” tembok istana tempatnya dipingit. Di tempatnya berdiam, dengan taman yang luas, namun ia harus dibatasi oleh empat tembok sebagaimana ia lukiskan, tak menghalanginya untuk melakukan pengembaraan pemikiran dan penjelajahan rohani dari aneka sumber.

Kepada Stella, Kartini tidak hanya menyampaikan curhatannya tentang poligami, namun ia juga menyatakan kegelisahannya tentang praktik keagamaan yang tidak selaras dengan spirit agama yang dipeluknya. Agama bagi Kartini, adalah berkah untuk kemanusiaan, untuk menciptakan pertalian antara sesama makhluk Tuhan. “Kita sekalian bersaudara bukan karena kita seibu sebapa kelahiran manusia, melainkan oleh karena kita anak seorang Bapak, anak Dia, yang bertahta di atas langit.

Dalam praktiknya, agama telah menjadi penghalang bagi relasi positif antar anak manusia. Dalam imajinasinya yang paling liar, Kartini bahkan berujar, “Ya Tuhan, kadang-kadang saya berharap, alangkah baiknya jika tidak pernah ada agama. Sebab agama yang seharusnya juga mempersatukan semua manusia, sejak berabad-abad menjadi pangkal perselisihan, pangkal pertumpahan darah yang sangat ngeri. Orang-orang seibu sebapa ancam-mengancam berhadap-hadapan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Esa dan Yang Sama.”

Tentang poligami Kartini menyatakan bahwa meskipun dalam ajaran Islam hal ini tidak dapat disebut dengan dosa, namun ia menganggap bahwa semua perbuatan yang menyebabkan orang menderita, dianggap sebagai dosa. Kata Kartini, “Dan dapatkah kamu membayangkan siksaan yang harus diderita seorang perempuan, jika suaminya pulang bersama perempuan lain sebagai saingannya yang harus diakuinya sebagai istrinya yang sah?”

Dalam surat selanjutnya kepada Stella pada 12 Januari 1900, Kartini menulis, “Pergi ke Eropa! Sampai napas yang penghabisan hal itu akan tetap menjadi cita-cita saya. Seandainya saya dapat mengecilkan diri, sehingga saya masuk ke dalam sampul surat, saya akan turut serta dengan surat ini mengunjungi kamu Stella, dan kakak kesayangan saya dan …. Diamlah!”  Sekalipun cita-cita Kartini untuk pergi ke Eropa tidak pernah terpenuhi, bahkan rencana ke Betawi saja tak pernah kesampaian, namun pengembaraan intelektual Kartini tak pernah berhenti. Dia bergulat antara Timur dan Barat.

Sulastin Sutrisno dalam kata pengantar karya terjemahannya terhadap Door Duisternis Tot Licht ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Surat-surat Kartini (Djambatan, 1979) menyatakan bahwa Kartini terombang-ambing antara nilai-nilai Barat, pola kebudayaan sendiri dan cinta kasihnya yang besar kepada ayahnya.

Penyerahan diri Kartini terhadap lelaki Jawa, bupati Rembang yang meminangnya tidak dapat diartikan sebagai ketertundukan dirinya terhadap adat yang dilawannya, namun lebih pada kepatuhan Kartini terhadap orangtuanya. Bagi Kartini, berbakti kepada orangtua adalah roh dari spiritualitas yang dibawa oleh semua agama.

Dalam banyak kasus perjuangan seorang perempuan, baik dalam fiksi maupun non fiksi, tak seluruhnya perjuangan harus meraih kesuksesan seratus persen. Ada nilai-nilai yang harus dipatuhi oleh seorang tokoh, sehingga harus mengorbankan nilai-nilai lainnya yang sedang diperjuangkannya. Pendobrakan terhadap tradisi kadangkala harus berbenturan dengan nilai luhur lain yang harus ditaatinya.

Tak dapat dipungkiri, melihat dari tulisan-tulisannya Kartini memiliki wawasan yang sangat luas, tidak hanya tentang seni, namun juga pengembaraan rohaninya telah melintas batas. Sekali pun ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang beragama Islam, namun Kartini banyak belajar khazanah hikmat-hikmat dari pelbagai agama. Sahabat penanya yang beragama Yahudi dan Kristen membuat Kartini menjadi kaya perbendaharaan tentang kedua agama tersebut.

Di luar kedua agama itu Kartini juga banyak membaca literatur agama Hindu dan Budha. Dalam salah satu suratnya Kartini menyatakan menerima karya Fielding dari Negeri Belanda yang membicarakan ajaran Budha. Terhadap agama Budha Kartini menulis untuk Tuan Dr. N. Adriani, “Ia mencita-citakan dan mempropagandakan keyakinannya yang sangat bagus: menakhlukkan kejahatan dengan cinta kasih. Sangat bagus dalam teori, tetapi bukan main sukarnya dalam pelaksanaan.”

Simpati yang besar Kartini terhadap agama Kristen ditunjukkannya dalam penguasaan yang baik terhadap kitab suci agama ini. Menurut putra tunggal Kartini, R.M. Singgih Susalit, sebagaimana dituturkan kepada Pramoedya Ananta Toer, yang ditulisnya dalam Panggil Aku Kartini Saja (Lentera Dipantara, 2003), Kartini mempunyai hubungan dengan Zending di Jepara, dan menguasai isi Injil.

Terhadap agama-agama yang dipelajari, Kartini tidak pernah tertarik terhadap bentuk-bentuk kepercayaannya, namun yang ia resapi adalah spirit kemanusiaan yang diajarkan oleh agama tersebut. Bagi Kartini, agama tidaklah terletak pada bentuk-bentuk kepercayaannya, namun lebih kepada hakikatnya. Kartini adalah orang yang terus haus untuk menimba aneka macam kebijaksanaan dari pelbagai agama.

Kartini juga mengritik keras terhadap praktik penyebaran agama yang hanya berorientasi pada beralihnya bentuk kepercayaan saja, namun kering dalam praktik pelaksanaan spiritualitas yang sejati. Jika itu yang dilakukan, maka hanya akan menimbulkan konflik antar keyakinan, antara komunitas agama lama yang dipeluknya, dan komunitas agama baru yang diyakininya.

Kartini mengimbau kepada para penyebar agama mengajak manusia agar berbakti kepada Tuhan dan beramal salih kepada semua makhluk. Kepada Tuan E.C. Abendanon, Kartini menulis, “Jika orang hendak mengajarkan agama juga kepada orang Jawa, ajarlah dia mengenal Tuhan Yang Esa, mengenal Bapak Pengasih dan Penyayang, Bapak semua makhluk, Bapak orang Kristen, orang Islam, orang Budha, Yahudi dan lain-lain. Ajarlah dia agama yang sebenarnya, yaitu agama yang melekat di rohani, sehingga orang dapat memeluk agama itu baik sebagai orang Kristen maupun sebagai orang Islam dan lain-lain.”

Apa yang disorot Kartini tentang spiritualitas masih relevan dengan kondisi masyarakat kita saat ini. Kartini meninggalkan karya-karya yang sangat revolusioner, meski sebagian di antaranya hanya relevan pada zamannya, namun sebagian lain adalah bacaan yang sangat baik untuk menertawakan diri kita sendiri. Dengan perasaannya yang halus, Kartini berhasil mengetuk pintu-pintu hati, tidak hanya kepada sesamanya kaum perempuan, namun kepada seluruh manusia yang bersimpati pada revolusi nurani.

Menanggapi tulisan-tulisan Kartini, Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa orang dengan perasaan halus, dengan perabaan tajam, dan daya cipta besar tidak boleh tidak pastilah seniman/seniwati, tak peduli di bidang apa pun. Dan tidak ayal lagi, kata Pak Pram, Kartini adalah seniwati – dan di berbagai bidang pula.

Sang Maha Indah dan Maha Halus telah melahirkan perempuan itu di negeri kita. Ia dengan fisiknya pernah berdiam diri, berkarya di negeri ini juga. Tembok-tembok batu dan pintu-pintu terkunci tidak menjadi penghalang bagi pengembaraannya. Setelah fisiknya lelah, pada akhirnya Kartini memang tidak ke Timur dan juga tidak ke Barat, namun ia telah tenang bersama Kedamaian Yang Abadi.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini