Revolusi Mental: Pendidikan Karakter Ala Ki Hadjar Dewantara

revolusi-mental-pendidikan-karakter-ala-ki-hadjar-dewantara

Judul Buku       Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara

Penulis             Sita Acetylena

Penerbit           Madani, Kelompok Intrans Publishing

Ukuran Buku    15,5 x 23

Ketebalan         xxii + 136 halaman

ISBN                978-602-0899-59-6

Harga P. Jawa   Rp65.000

 

Terakota.idBangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi krisis orang jujur, kata Kasino Warkop. Sejak awal kemerdekaan, Soewardi Soerjaningrat yang akrab disapa Ki Hadjar Dewantara –aktivis kemerdekaan sekaligus bapak pendidikan Indonesia—menyadari pentingnya pendidikan karakter untuk memperkokoh pondasi kepribadian manusia Indonesia. Tidak mudah goyah.

Berpendirian pada nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, kekeluargaan, jiwa merdeka, jiwa kebangsaan, berjiwa pemimpin, merakyat, tertib, dan damai. Itu cita-cita Ki Hadjar Dewantara. Seiring waktu berjalan pendidikan karakter tergerus dan luntur. Benar saja, terjadi kemerosotan mental. Keresahan dialami Sita Acetylena, yang kemudian melakukan penelitian yang dibukukan berjudul “Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara”.

Kemerosotan moral dan kebobrokan mental yang terjadi belakangan ini tidak mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia. Menguatnya isu SARA, maraknya pencemaran lingkungan, semakin menjamurnya seks bebas, penggunaan obat-abatan terlarang, praktik korupsi, kolusi, nepotisme yang merajalela, ketidakadilan hukum, serta kesenjangan sosial-ekonomi-politik yang semakin besar.

Kondisi demikian merugikan segenap bangsa Indonesia, sehingga dibutuhkan revolusi mental seperti yang digagas Bung Karno di masa lampau. Revolusi mental sehubungan dengan integritas, kerja keras, dan semangat gotong-royong. Gagasan itu kembali digaungkan Presiden Joko Widodo sebagai gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Tidak lain agar krisis kepribadian bangsa lekas pulih.

Pendidikan Karakter Ki Hadjar merupakan intisari dari pendidikan yang menggerakkan perubahan sosial menuju peradaban yang bernilai utama “kemerdekaan lahir batin”. “Pamong” menjadi konsep utama pendidikan karakter. “Pamong” merupakan bahasa Jawa yang tercipta dari kata “among, “momong”, dan “ngemong” artinya mengasuh, mengajar, dan mendidik.

Hipotesis penulis, bahwa dalam perjalannya ada kesalahan tafsir para guru Taman Siswa terhadap teks pendidikan Ki Hadjar sehingga memperoleh refleksi dan implementasi yang berbeda. Penerapannya, ada pamong semu dan pamong sejati. Pamong semu lebih berorientasi pada hasil bukan proses, dan mengutamakan hal-hal fisik, baik berupa materi, sanjungan, status, maupun jabatan. Sementara pamong sejati bermakna adanya kebersihan hati dengan menyadari, memperbaiki, dan melaksanakan seluruh bagian pendidikan karakter dengan kerja keras, cerdas, dan tulus.

Pamong sejati terangkum dalam “ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso tut wuri handayani” dalam bahasa Indonesia artinya “di depan, seorang pendidik harus menjadi teladan; di tengah, pendidik harus bisa menciptakan ide; dan di belakang, seorang pendidik harus bisa memberi dorongan”. Pendidikan tidak dapat terlepas dari kebudayaan suatu bangsa. Falsafah tersebut merupakan buah pikir Ki Hadjar yang dijadikan lambang pendidikan Indonesia.

Tulisan ini memberikan perspektif baru yang sangat relevan dengan keadaan, betapa bernilainya kepribadian atau karakter bagi sebuah bangsa. Penulis buku ini turut menjelaskan secara gamblang mengenai makna pembangunan karakter bangsa baik secara filosofis, ideologis, historis, dan sosiokultural. Berbagai perpektif tersebut cukup kompleks memberikan pemahaman jelas dan luas mengenai pembangunan karakter bangsa.

Para pendiri bangsa mencetuskan gagasan besar pembangunan karakter bangsa demi adanya kesamaan pandangan mengenai budaya dan kepribadian yang holistik sebagai bangsa. Hal tersebut penting sebagai pondasi dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia. Sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 dan Pancasila.

Buku terbitan Instrans Publishing ini menyajikan enam bab bahasan yang disusun secara sistematis mulai dari filosofi hingga praksis. Bab pertama mengkaji tentang ‘Pembangunan Karakter Bangsa’. Bab dua menyuguhkan perihal ‘Ki Hadjar Dewantara dan Makna Sebuah Nama’. Bab tiga memaparkan terkait ‘Taman Siswa, Sejarah dan Nilai-nilainya’. Bab empat menelaah tema ‘Penafsiran Guru Taman Siswa’. Bab lima mengulas ‘Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara’. Terakhir, pada bab enam pembaca akan diajak berpikir berkenaan pentingnya ‘Bahasa dan Pendidikan Karakter’.

Tulisan ini merupakan hasil penelitian disertasi yang membuatnya kaya akan temuan dan gagasan teraktual. Karya tulis nan elegan ini layak dan perlu dibaca oleh setiap orang yang mencintai pendidikan dan ingin belajar berkenalan dengan karakter luhur bangsa. Jika pun disematkan kata ‘wajib dan penting’, maka akan tertuju kepada mereka yang bergerak di sektor pendidikan. Guru pada semua tingkatan.

Tidak hanya akan menambah wawasan tentang pendidikan karakter, juga sebagai pondasi sekaligus pemicu menyemai karakter luhur bangsa kepada generasi muda sebagaimana digagas oleh Bapak Pendidikan Indonesia. Perguruan Taman Siswa sebagai gagasan taman pengetahuan dan etika –Ki Hadjar Dewantara. Buku ini sungguh menarik untuk dibaca bukan? ingin baca selengkapnya? Silahkan kunjungi laman berikut, untuk memesan buku tersebut secara online di sini 

Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini