Revitalisasi Bahasa Terselubung ala Budaya Pop

Ilustrasi

Terakota.id–Tidak ada lagi yang bisa memungkiri bahwa satu demi satu bahasa mati di seluruh dunia. Di Indonesia, ada sekitar 25 bahasa yang hampir punah menurut pakar.  Sebelumnya, pada tahun 2012 National Geographic pernah mengangkat tema suara-suara yang hilang, yang mencakup temuan bahwa secara rata-rata satu bahasa mati setiap 14 hari sekali karena ekspansi bahasa-bahasa utama dunia. Ada berbagai sebab yang butuh satu buku sendiri untuk membahasnya, mulai dari bencana alam, kolonialisme, kalah oleh bahasa pendatang baru yang lebih luwes, hingga perkawinan lintas etnis.

Dalam sarasehan yang diadakan Komunitas Kalimetro pada Rabu 25 Februari yang lalu, narasumber membahas sejumlah kekhawatiran itu. Yusri Fajar, sastrawan dan akademisi di bidang humaniora, mengatakan bahwa untuk Indonesia, bahasa ibu berada di sebuah persimpangan. Demi nasionalisme kita menggunakan bahasa Indonesia yang pada akhirnya menjauhkan kita dari bahasa daerah.

Namun, atas nama identitas, kita merasa bahasa ibu adalah sesuatu yang perlu dipertahankan. Selaras dengan itu, Fida Pangesti mengawali acara dengan menyatakan bahwa penyebab utama kematian sebuah bahasa adalah putusnya transmisi, atau ketika seseorang memutuskan untuk tidak mengajarkan bahasa tersebut kepada anak dan penerusnya.

Melihat tren yang ada saat ini, ketika semakin lazim saja orang tua memilih berbahasa Indonesia atau bahkan berbahasa asing kepada anaknya, sepertinya memang bahasa ibu sedang menuju senjakala. Maka, yang perlu diupayakan adalah berbagai usaha untuk setidaknya mengulur waktu kematian bahasa ibu tersebut. Dan itu termasuk juga mencari usaha-usaha di luar upaya normatif yang lazimnya dilakukan otoritas bahasa.

Dukungan untuk Pelestarian Bahasa Ibu

Usaha revitalisasi bahasa daerah bukanlah hal baru. Dari tahun ke tahun, kita melihat ada berbagai usaha dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Bahasa melakukan berbagai usaha semacam ini. Usaha dalam berbagai tingkat juga telah dilakukan mulai dari kajian vitalitas untuk mengetahui status bahasa hingga usaha-usaha formal melakukan revitalisasi).

Kita juga bisa menemukan acara-acara penghargaan terhadap karya-karya sastra berbahasa daerah. Berbagai penelitian juga telah dilakukan untuk memahami tata bahasa, meneliti pola pembentukan kosakata, mendokumentasikan penggunaan bahasa-bahasa dari berbagai daerah di Indonesia dan dunia. Kalau asumsi bahwa bahasa daerah pada akhirnya akan mati, mestinya tujuannya adalah agar memungkinkan bila suatu saat kelak sebuah bahasa perlu dibangkitkan lagi dari kematian.

Menghidupkan bahasa yang mati tidaklah mustahil, dan itu pernah terjadi. Di sini kita berbicara tentang bahasa Ibrani yang saat ini dipakai di Israel (yang juga disebut sebagai bahasa Ibrani Modern). Bahasa Ibrani yang pada masa kuno dipakai oleh orang-orang Yahudi di Timur Tengah itu juga telah terdampak oleh terpencarnya orang-orang Yahudi. Karena melebur dengan masyarakat di tempat-tempat migrasi mereka, orang-orang Yahudi semakin sedikit menggunakan bahasa Ibrani.

Pada abad ke-3 Masehi, dalam keseharian bahasa Ibrani sudah digantikan oleh dialek Aram barat. Bahasa Ibrani hanya dipakai untuk ritual, sehingga yang menguasainya terbatas pada pemuka agama; praktis bahasa Ibrani telah mati sebagai media komunikasi keseharian. Khusus orang-orang Yahudi di Eropa Tengah dan Timur, orang-orang Yahudi sudah mulai menggunakan bahasa-bahasa daerah yang merupakan hasil evolusi bahasa Ibrani dengan campuran pengaruh bahasa lain, seperti misalnya bahasa Yiddish yang memiliki elemen bahasa Ibrani, Arab, bahasa-bahasa Romanik, dan lain-lain.

Tapi, ketika populasi orang-orang Yahudi mulai meningkat di Palestina ketika orang-orang Yahudi Palestina mendapat tambahan orang-orang Yahudi dari berbagai daerah di dunia, bahasa Ibrani pun dihidupkan kembali dengan sebuah keputusan untuk menggunakan lingua franca untuk orang-orang Yahudi. Dan akhirnya, kini bahasa Ibrani pun sudah menjadi bahasa resmi di Israel dan dikuasai banyak orang Yahudi di seluruh dunia.

Belum lama ini, satu usaha untuk mendokumentasikan bahasa yang telah sekarat adalah upaya untuk menyelamatkan bahasa Gotschee. Bahasa yang berasal dari kawasan dataran tinggi Slovenia ini saat ini hanya diucapkan oleh beberapa ribu orang saja, dan di Amerika Serikat, di kalangan imigran di Queens, New York, penutur bahasa ini tinggal hitungan jari saja.

Upaya dokumentasi populer ini dikerjakan oleh Wikitongues, sebuah lembaga nirlaba yang pada tahun 2014 memproklamasikan ambisi mendokumentasikan bahasa-bahasa dengan merekam percakapan para penutur dan menghadirkannya sebagai arsip publik. Saat ini, kanal YouTube mereka menampilkan potongan klip orang berbicara dalam berbagai bahasa dunia, termasuk bahasa Jawa dialek Ngapak ini.

Kembali lagi ke konteks Indonesia, apakah sudah cukup usaha kita mengajarkan, mengkodifikasi tata bahasa, dan mendokumentasikan bahasa-bahasa ibu yang ada? Tentu akan ada perdebatan sendiri soal ini. Tapi, buat kita-kita yang bukan spesialis di bidang bahasa, ada satu wilayah yang sangat memungkinkan kita terlibat upaya konservasi dan revitalisasi bahasa daerah. Wilayah itu adalah budaya pop.

Budaya Pop, Revitalisasi Terselubung

Kenyataannya, budaya pop ada satu wilayah yang tanpa gembar-gembor sebenarnya sudah melakukan upaya aktif revitalisasi bahasa daerah: yaitu budaya pop. Karya-karya budaya pop yang bisa berupa film, lagu, aktivitas media sosial, dan sejenisnya tersebut menggunakan bahasa daerah dan menunjukkan pengaruh yang bisa diamati dalam hal membuat orang tetap berbicara bahasa daerah.

Sebelum terlalu jauh, mungkin perlu diberikan disclaimer di sini bahwa sayangnya dalam esai ini saya akan berbicara tentang sejumlah fenomena revitalisasi a la budaya pop hanya untuk konteks bahasa Jawa. Betapa pun besar dominasi bahasa Jawa di Indonesia, menurut Balai Bahasa Jawa Timur, bahasa Jawa termasuk bahasa yang mengalamai degradasi jumlah penutur. Sudah semakin banyak orang di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang tidak lagi menguasai corak tertinggi bahasa Jawa (krama alus) atau bahkan tidak lagi mengajarkan bahasa Jawa ke anak-anak mereka.

Salah satu karya budaya pop yang sepertinya telah cukup populer dengan elemen bahasa Jawa akhir-akhir ini tentu saja musik dan film populer. Yang wajib dibahas pertama kali tentu saja Sultan Ambyar kita Didi Kempot. Lagu-lagu Didi Kempot yang sebagian berusia lebih dari dua puluh tahun itu akhir-akhir ini mengemuka kembali dan bahkan menjadi arus utama yang dibahas di berbagai media, termasuk televisi nasional.

Selain Didi Kempot, penyanyi-penyanyi lain yang menjadi sangat populer dengan lagu-lagu mereka seperti misalnya Via Valen dan Nella Kharisma. Berbeda dengan Didi Kempot yang menggunakan bahasa Jawa penuh dengan corak yang lebih tinggi dan menggunakan idiom-idiom yang lebih lebih subtil, Via Valen dan Nella Kharisma menggunakan bahasa Jawa yang banyak dipakai anak-anak muda di Jawa saat ini, dengan campuran bahasa Indonesia. Popularitas Via Vallen dan Nella Kharisma dan dangdut koplo banyak membuat orang menyatakan secara terbuka menyukai musik dangdut koplo yang sebelumnya cenderung diasosiasikan dengan musik pinggiran di warung-warung.

Di dunia film, beberapa tahun terakhir ini Indonesia menyaksikan seri film Yo Wis Ben yang dibuat oleh YouTuber asal Malang Bayu Skak. Seri Yo Wis Ben ini dikenal membawa bahasa Jawa corak Malangan ke kancah nasional dengan menampilkan tokoh-tokoh nasional seperti Joshua Suherman yang berasal dari Surabaya itu.

Di seri pertama, film ini menampilkan bahasa Jawa Malangan secara penuh dan membangkitkan minat anak-anak sekolah untuk bangga menggunakan bahasa Jawa. Di film kedua, film ini menampilkan bahasa Jawa dan sekaligus bahasa Sunda. Beberapa orang telah membuktikan sendiri dampak dari film ini, seperti misalnya yang saya alami sendiri dengan anak saya yang masih SMP dan merasakan kebanggaan untuk belajar berbahasa Jawa sejak menonton film Yo Wis Ben 2 seperti pernah saya tulis di sini.

Hal serupa ini juga dapat ditemukan di kanal-kanal YouTube yang populer karena menggunakan bahasa Jawa. Selain Bayu Skak yang disebut di awal, ada beberapa lagi tokoh YouTuber yang populer berkat penggunaan bahasa Jawanya, termasuk Dave Jephcott, seorang pemuda Australia yang besar di Surabaya dan sesekali membuat video prank menggoda orang dengan berpura-pura tidak bisa bahasa Indonesia, padahal sebenarnya bahasa Jawa Suroboyoannya sudah sangat natural.

Di Instagram, salah satu media sosial yang paling populer saat ini, kita bisa menemukan banyak InstaGrammer yang menggunakan bahasa Jawa dan tampak cukup populer. Salah satu yang memiliki cukup banyak pengikut adalah Sam Calo (@abdikeluarga_) dari Probolinggo. InstaGrammer ini seperti memiliki bank petuah bijak, permainan bahasa yang lucu, dan materi bahasa Jawa terkait patah hati. Meskipun bahasanya ada kalanya sangat kasar dan tidak jarang juga seksis, eksplorasi rima dan permainan kata-katanya sepertinya cukup banyak menarik penonton, hingga setiap postingannya dilihat lebih dari seribu kali.

Banyak di antara tokoh-tokoh pop di atas berhasil merebut minat para penikmat budaya pop berkat konten yang mereka sajikan. Namun, bahwasanya mereka melakukan itu dengan bingkai bahasa Jawa adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Apalagi, banyak dari karya-karya pop ini membuat orang muda tetap menggunakan bahasa Jawa. Selaras dengan penekanan Fida Pangesti yang disitir di awal tulisan ini, semakin muda penutur sebuah bahasa berarti semakin lama sebuah bahasa akan tetap bertahan. Singkatnya, budaya pop bisa memperpanjang nafas sebuah bahasa—meskipun siapa saja bisa bilang bahwa kematian dan kehidupan itu di tangan Tuhan.

Titik Lemah Budaya Pop

Tapi memang, selalu ada risiko jika kita menggunakan budaya populer untuk tujuan konservasi. Budaya pop mendapatkan popularitasnya karena berbagai hal mulai dari pesona fisik pelaku hingga konten-konten yang kurang sensitif etnis maupun gender. Kualitas estetis dan ilmiah cenderung kalah oleh kualitas-kualitas lainnya. Hal ini menjadikan budaya popular secara kualitas tradisional tidak bisa sepenuhnya diandalkan. Sebagai misal, bahasa Jawa yang digunakan oleh Via Valen secara linguistik cenderung tidak sesuai dengan tata bahasa Bahasa Jawa.

Hal ini tentu saja menjadikan hasil budaya pop jauh berbeda (dan tidak mustahil dianggap lebih rendah) dibandingkan elemen-elemen konservasi dan revitalisasi yang bersifat ilmiah atau lebih sistematis. Hasil-hasil penelitian tentu bisa dianggap lebih kuat dan terukur dalam hal kemampuan melakukan konservasi dari sudut pandang tradisional.

Upaya-upaya konservasi yang lebih sistematis dan terukur seperti proyek Enduring Voices yang digagas oleh National Geographics dan Wikitongues yang berambisi mendokumentasikan bahasa-bahasa di seluruh dunia itu jelas lebih terukur dan hasil yang didapatkan tentunya bisa untuk tujuan revitalisasi bagi bahasa-bahasa yang memang sudah mendekati kematian.

Namun, budaya populer memiliki keunggulannya sendiri. Popularitas dan keberhasilan melibatkan massa dalam jumlah besar yang telah dicapai oleh Dangdut, film, video YouTube tentu saja membuat banyak orang tetap kerasan dan justru lebih tertarik menggunakan bahasa Jawa.

Alih-alih mengkhawatirkan dampak negatifnya, yang lebih perlu dilihat dari keberhasilan budaya pop ini adalah bahwa ini bisa dianggap sebagai usaha konservasi yang bisa melengkapi usaha-usaha konservasi yang bersifat ilmiah dan sistematis. Bila memang lebih banyak orang yang tanpa sadar terlibat konservasi ini, maka yang terjadi adalah hal ini sekurang-kurangnya menambah jumlah tahun bertahannya bahasa Jawa.

Menyadari Privilese Jawa

Melihat potensi yang ditawarkan oleh budaya pop itu, satu hal yang masih terus perlu dipertimbangkan adalah bagaimana caranya memaksimalkan dampaknya tanpa harus mematikan bahasa daerah lain yang ada di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, Jawa memiliki banyak privilese dalam konteks Indonesia. Bahasa Jawa sangat diuntungkan dengan berbagai kekuatan ekonomi Jawa yang menjadi magnet bagi seluruh Indonesia.

Hingga saat ini, budaya pop yang menggunakan bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia (atau bahkan bahasa Indonesia dengan corak luar Jawa) memang cukup banyak. Video-video mop Papua yang beberapa tahun lalu sempat populer dan dibahas di berbagai media adalah utamanya berkat kegigihan tim YouTuber Epenkah Cupentoh atau lebih dikenal dengan Epen Cupen.

Karya-karya semacam itu tetap perlu hadir di budaya pop nasional dari waktu ke waktu. Bali yang sangat populer secara internasional juga sepertinya semakin jarang masuk ke dalam budaya pop nasional dalam wajah barunya. Begitu juga dengan bahasa Minang yang juga tidak lagi muncul di budaya pop nasional (meskipun dulu di tahun 80-an sempat menasional melalui sinetron seri legendaris Sitti Nurbaya dan Sengsara Membawa nikmat).

Sepertinya otoritas bahasa nasional perlu juga mendorong proyek-proyek populer, selain tentunya terus melanjutkan proyek-proyek revitalisasi klasik yang telah dijalankan selama ini. Budaya pop adalah wilayah yang terlepas dari sejumlah kelemahannya tetap memiliki magnet yang kuat. Budaya pop sangat mungkin membuat orang terlibat dalam proyek revitalisasi tanpa mereka sendiri menyadarinya.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini