Retorika Maskulinitas Berlebihan para Capres

Dalam hal gender, Indonesia perlu sesekali mempertimbangkan studi banding ke Bikini Bottom, bukan ke dunianya Shiva. Tapi kenapa ujug-ujug saya ingin ngomong tentang gender di hari-hari yang tidak menentu ini? Kenapa tidak berbicara tentang “aksi damai” dan kerusuhan yang terjadi di beberapa tempat di Jakarta pasca pengumuman peraih suara terbanyak pemilu 2019? Mungkin karena permasalahan gender ini ada pada kedua calon, dan sering terjadi tanpa disadari, dan dia bisa berpotensi menjadi lebih parah, seperti lazimnya permasalahan yang tak terdeteksi.

Calon Presiden Nomor Urut 01, Joko Widodo (kiri) dan no urut 02, Prabowo Subianto bersalaman usai Debat Kedua Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019. (Foto : kompas.com).

Oleh: Wawan Eko Yulianto*

Terakota.id–Hingga pada masa kampanye kemarin, banyak persoalan yang berdimensi gender yang membutuhkan kepekaan kita. Di antara berbagai persoalan itu, ada satu yang gejalanya muncul di berbagai wilayah, yaitu maskulinitas yang berlebihan, atau bahkan maskulinitas beracun. Dua contohnya yang berkaitan dengan pilpres adalah ketika Pak Jokowi mengatakan “menabok PKI” dan Pak Prabowo mengatakan “laki-laki minum kopi.” Semoga kita semua belum lupa. Kalau lupa, silakan lagi lihat videonya di sini:

Dan satunya lagi adalah ini:

Kedua momen dalam kampanye pilpres ini hanya dua gejala kecil saja yang mudah berlalu. Dan di tengah-tengah memanasnya hari-hari ini di beberapa bagian Jakarta, dua momen ini semakin mudah dilewatkan untuk menjadi bagian dari kisah manis Pilpres panas kita.

Meski demikian, akan salah bila kita menganggap kedua momen ini tidak lagi relevan. Justru inilah kenangan dari Pilpres 2019 yang akan tetap relevan, setidaknya sampai maskulinitas berlebihan tidak lagi menjadi gejala umum di masyarakat kita. Atau sampai semua orang menyadari persoalan ini dan terus menyorotinya setiap kali kecenderungan serupa muncul.

Tapi, sebelum terlalu jauh, memang apa salahnya maskulinitas berlebihan atau maskulinitas beracun itu? Atau, apa sebenarnya maskulinitas berlebihan itu?

Maskulinitas berlebihan adalah kecenderungan orang untuk mengunggulkan stereotipe laki-laki sebagai kelompok yang gagah, kuat, tegar, pemberani, hebat, dan sejenisnya. Implikasi dari kecenderungan ini adalah anggapan bahwa sikap lemah lembut, perasa, emosional, dan sejenisnya  bukanlah sifat “laki-laki sejati” dan karenanya bisa disebut “cewek” atau “banci” atau “tidak jantan.” Contoh yang lazim dipakai adalah ketika seorang anak menangis karena disakiti dan orang tuanya mengatakan “masak anak laki-laki menangis?” seolah-olah menangis hanya untuk anak perempuan. Kalau ditafsirkan lebih jauh lagi, sikap seperti ini bisa masuk ke dalam wilayah misoginis (benci atau menganggap rendah perempuan) dan homofobik (anti-gay).

Dampak dari kecenderungan semacam ini cukup banyak sebenarnya. Yang paling tampak adalah lestarinya sikap esensialis yang menganggap laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Ketidakmampuan laki-laki mengungkapkan perasaannya (karena mengungkapkan perasaan bagi pria dianggap tabu) dan sehingga yang terjadi adalah konflik. Terbatasnya akses bagi perempuan untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu atau hal-hal tertentu. Khusus yang terakhir ini, jangan anggap kita sudah terbebas dari masalah itu. Lihatlah berita penolakan kepala dukuh perempuan ini dan retorika yang dipakai untuk menyatakan penolakan tersebut. Saya yakin kita semua bisa men-google sendiri berbagai dampak dari maskulinitas berlebihan ini.

Kembali ke soal munculnya maskulinitas berlebihan di Pilpres 2019, kita bisa melihat bahwa pada contoh pertama, presiden bilang ingin “tabok” orang yang nyebar hoaks. Memang ucapan ini tidak dalam konteks kampanye, tapi kita tahu bahwa segala tindak-tanduk para calon tidak bisa mereka sendiri maupun media lepaskan dari kontestasi pencalonan. Ucapan ini disambut sorak-sorai seperti halnya ketika presiden Jokowi juga ingin “menggebuk” pihak-pihak yang ingin membangkitkan PKI beberapa tahun sebelumnya.

Di tempat lain, pada contoh kedua, di hadapan relawannya, Pak Prabowo minta kopi dan melanjutkan dengan menegaskan “laki-laki minum kopi.” Hal ini pun dianggap manis dan dirayakan dengan sorak-sorai media. Selalu ada alasan untuk mencintai orang yang kita kagumi yang ternyata manusia biasa yang suka kopi.

Kalau dipikir-pikir, apa ya harus seperti itu, menggebuk atau menabok untuk menyelesaikan masalah? Tentu tidak. Kalau semuanya diselesaikan dengan menabok, apa bedanya Indonesia yang katanya didasari semangat gotong-royong ini dengan kehidupan di kota Vedas, kotanya Shiva di ANTV. Dimana semua masalah bisa diselesaikan dengan menabok penjahat? Kalau mau tahu yang saya maksud, lihat ini:

Di situ tampak Shiva menghajar penjahat sementara teman-temannya, termasuk teman gadisnya, hanya menunggu Shiva menyelesaikan masalah itu. Motif ini berulang-ulang dalam serial kartun ini: Shiva menyelesaikan masalah dengan kekerasan, teman-temannya melihat atau membantu, teman perempuannya menjadi korban dan tidak punya kekuatan untuk melawan, dan sejenisnya. Tentu bukan seperti ini semestinya hidup di tempat kita. Semestinya solusi tidak bisa sesederhana itu, Alfredo.

Hidup kita ini, kalau menurut pandangan saya, semestinya lebih menyerupai hidup di Bikini Bottom. Di negeri bawah air itu, masing-masing individu punya motif yang lebih kompleks ketika melakukan sesuatu, sehingga untuk menanganinya dibutuhkan berbagai macam cara. Dan, yang lebih penting lagi, cara-cara penyelesaian itu tidak terbatas pada “cara pria” atau “cara perempuan” saja. Bahkan, cara-cara itu merupakan cara-cara unisex, yang bisa dijalankan siapa saja tak peduli jenis kelaminnya.

Ucapan gagah-gagahan para capres itu sekilas terlihat biasa saja. Yang pertama mungkin terlihat gagah dan berani, menepis citra lemah dan tidak perkasa yang sering diolokkan oleh para pendukung lawan politiknya. Yang kedua mungkin terlihat lucu dan manis—sambil menegaskan kejantanan—karena ternyata si calon yang dikenal tegas dan berpengalaman itu ternyata suka kopi, sama seperti kita-kita yang suka nongkrong di kedai kopi, entah yang kedai kopi “sejati” maupun kedai kopi bungkusan.

Apakah kita masih butuh sikap yang mengandung chauvinisme kejantanan begini? Apakah masih perlu kita bertingkah bahwa hanya pria sejati yang begini, hanya pria tulen yang begitu? Kenapa masih dan yang mengatur-ngatur bagaimana kita mesti menjadi lelaki yang betul?

Mungkin ini bukan salah dari kedua calon presiden kita tersebut. Sikap maskulinis yang seperti ini adalah satu gejala dari kecenderungan maskulinis di masyarakat kita secara luas. Kedua calon tersebut bersikap begini karena beliau berdua adalah bagian dari masyarakat kita juga. Kalau boleh memakai gaya Pak Prabowo pada debat terakhir, saya katakan: Bapak berdua tidak salah, Pak.

Kedua bapak capres itu mungkin hanya bagian dari khalayak umum yang masih belum menyadari adanya masalah dalam sikap maskulinis berlebihan itu. Tapi, karena ini muncul dari orang-orang yang bisa dibilang paling penting di Indonesia saat ini, sikap ini berpotensi menjadi pupuk bagi tetap suburnya sikap maskulinis berlebihan itu. Padahal, selain dampak-dampak yang saya sebutkan di atas, maskulinitas berlebihan itu bisa juga berdampak ke kebijakan publik.

Hal ini juga patut diperhatikan mengingat, pertama, pemilu presiden kita kita ini terasa sangat laki-laki. Memang banyak tokoh perempuan penting dari kedua kubu—yang bahkan disebut srikandi kubu Jokowi dan Prabowo. Tapi untuk posisi utama, kita hanya melihat laki-laki. Beberapa waktu yang lalu sempat muncul suara yang mendambahkan bu Sri Mulyani untuk maju ke pencalonan presiden. Tapi aspirasi ini berangsur-angsur tenggelam begitu mendekati pendaftaran calon. Bahkan tidak terdengar sama sekali bakal capres perempuan ketika itu. Yang lebih ditekankan justru keislaman para calon. 

Hal penting kedua adalah bersikap waspada dan mencurigai retorika maskulinis berlebihan ini penting mengingat bagaimana kondisi sosial di negara kita terkait gender. Dalam bulan-bulan terakhir ini, selain copras-capres, ada juga kasus-kasus di mana perempuan dikalahkan dalam sistem legal maupun di lingkup sosial. Tidakkah kita miris melihat seorang guru yang dilecehkan secara verbal dan menyimpan barang bukti dengan merekam pelecehan tersebut justru mendapat hukuman untuk delik UU ITE ketika rekamannya bocor ke publik di luar kendalinya—sementara si pelaku pelecehan tidak mendapatkan hukuman apa pun?

Tidakkah kita peduli ketika seorang mahasiswi menjadi korban pelecehan seksual dan pelakunya tidak mendapatkan sanksi berat (dan bahkan disebut tidak melakukan pelanggaran berat demi menjaga #namabaikkampus seperti yang diberitakan secara berseri di Tirto.id ini)? Jangan lupa perhatikan bagian-bagian ini di tautan yang baru saja saya bagikan itu:

retorika-maskulinis-berlebihan-para-capres

Kedua hal ini adalah perwujudan dari bagaimana berkuasanya ideologi patriarkal di masyarakat kita. Dan maskulinitas berlebihan adalah satu elemen pendukung pelestarian ideologi patriarkal itu. Sulit rasanya kita mengharapkan sebuah masyarakat dengan kesetaraan gender bila tidak ada usaha untuk mengikis maskulinitas berlebihan atau “maskulinitas beracun” itu. 

Jadi, alangkah baiknya kalau setidak-tidaknya bahasa yang dipakai para calon pemimpin negara kita menunjukkan kesadaran gender. Kalau menggunakan perumpanan serial TV, mungkin kita ingin dunia yang lebih mirip dunianya Spongebob Squarepants daripada dunia Shiva. Kita ingin dunia yang tidak hanya laki-lakinya tapi juga perempuan yang bisa menjadi penentu narasi.

Kita ingin seperti di Bikini Bottom, di mana Spongebob si karakter utama (yang laki-laki) pernah melakukan kesalahan dan kemudian harus menerima pembenaran dari Sandy si tupai (yang perempuan, kalau dilihat dari bagaimana bikininya pernah dikaburkan) sehingga bersama-sama mereka menjadi lebih baik. Kita tentu tidak ingin dunia di mana semua masalah diselesaikan dengan pertama-tama marah sambil teriak “Jangan panggil aku anak kecil, paman!” dan kemudian dilanjutkan dengan tendangan atau pukulan (yang dipotong) yang menyebabkan ada tokoh yang tersungkur dan babak belur dan minta ditangkap.

Indonesia yang lebih baik adalah Indonesia yang penuh optimisme seperti Bikini Bottom. Di negeri itu, bahkan seorang penjahat yang keji seperti Sheldon J. Plankton pada akhirnya mau bergabung dengan Spongebob dan Tuan Krab ketika ada warga dari dunia luar (dari daratan) mencuri resep rahasia Krabby Patty, kenikmatan pamungkas di dunia bawah air.

Kita ingin begitu, dan untuk mencapai itu kita tidak perlu retorika tabok-tabokan dan gagah-gagahan ala laki-laki sejati. Ucapan yang sekilas sederhana itu, yang sayangnya merupakan gejala dari kehidupan bermasyarakat kita yang lebih luas tersebut, sebenarnya mampu menghalangi perubahan yang lebih besar, yang lebih vital, yang menyasar kemaslahatan separuh penduduk negeri ini (kalau perempuan jumlahnya separuh dari populasi Indonesia).

Persoalan ketimpangan gender di masyarakat kita tidak hanya domain yang harus diperjuangkan aktivis gender. Itu medan juang kita semua, dan lebih cepat berhasil kalau baik yang di bawah maupun yang di atas ikut memperjuangkannya. Atau setidaknya tidak memperparahnya. Dan, yang lebih penting dari itu, siapa pun presidennya, ini adalah persoalan yang harus diselesaikan, karena kalau tidak dampaknya adalah kerugian pada satu kelompok sosial yang ada baik itu di antara pendukung calon 01 maupun calon 02, yaitu kalangan perempuan. 

Oh iya, tolong perhatikan bahwa di Bikini Bottom, Tuan Krab yang haus duit dan Plankton yang culas itu tidak pernah memandang remeh orang karena gendernya. Masak ya kita begitu? Kalau saya sih mungkin pernah begitu. Tapi kan saya sudah mencoba hijrah dan saya juga bukan calon presiden?

*Dosen Sastra Inggris Universitas Machung.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini