Republik Gubuk Menyebarkan Virus Literasi di Sudut Kampung

Tari Bapang membuka Acara Bincang Non Formal (Abnormal) dan pelantikan pengurus IPNU-IPPNU Ranting Talangsungko, Turen, Kabupaten Malang. (Foto : Fachrul Alamsyah).

Terakota.idTari Bapang membuka Acara Bincang Non Formal (Abnormal) dan pelantikan pengurus IPNU-IPPNU Ranting Talangsungko, Turen, Kabupaten Malang. Penari mengenakan topeng berwarna merah dan kostum hitam. Gerakan tangan direntangkan dengan mengangkat sampur atau selendang tari berwarna senada, merah. Sementara dada membusung.

Tarian ini menggambarkan perjalanan karakter Bapang Jayasentika dari Kadipaten Banjarpatoman saat menghadap Prabu Klana Sewandana.  Bapang berkarakter gagah gerakan tangan yang lebar yang direntangkan ke kiri dan ke kanan. Salah satu kaki diangkat. Ciri khas Bapang, topeng berwarna merah dengan hidung panjang. Bapang merupakan salah satu karakter drama tari topeng Malang.

Dramatari topeng Malang bercerita lakon Panji atau budaya Panji. Epos Panji mengisahkan perjalanan Raden Inukertapati atau Panji Asmarabangun yang berkelana mencari istrinya, Dewi Sekartaji yang hilang. Tarian Bapang ini merupakan persembahan Republik Gubuk, Jabung binaan Fachrul Alamsyah.

Tari Bapang membuka Acara Bincang Non Formal (Abnormal) dan pelantikan pengurus IPNU-IPPNU Ranting Talangsungko, Turen, Kabupaten Malang. (Foto : Fachrul Alamsyah).

Facrul Alamsyah yang akrab Irul ini sejak tujuh tahun lalu mendirikan Gubuk Baca Lentera Negeri di Sukolilo, Jabung, Kabupaten Malang. Kini, gerakan literasi yang dibagunnya telah berdiaspora. Menyebar, sebanyak 40-an gubuk baca berdiri di sekitar Jabung dengan beragam identitas dan karakter masing-masing. Menjelma dalam jejaring bernama Republik Gubuk.

“Gubuk tak murni hanya untuk meningkatkan minat baca saja. Gubuk baca ini pintu masuk untuk pemberdayaan masyarakat,” katanya. Gubuk baca menjadi pusat kreativitas anak mulai bermain permainan tradisional, menggambar, mewarna, bermusik, hingga menari tarian tradisional seperti tari topeng Malang.

Irul berkeliling kampung membawa buku, permainan tradisional dan instrumen musik. Menggerakkan pemuda di kampungnya menyediakan wadah mencetak pemimpin, agen perubahan, dan pelaku perubahan. Sehingga beragam kegiatan positif dilahirkan di gubuk baca.

“Menular ke sejumlah kampung, seperti virus,” ujar Irul. Termasuk menggerakkan pemuda gang tato yang terkenal “nakal”. Suka mabuk, dan merajah tubuh dengan tato. Sejak 2016, mereka mendirikan gubuk baca gang tato. Menggerakkan para pelajar dan anak-anak untuk akrab dengan buku, seni tradisi, peduli dengan lingkungan setempat.

“Saya sempat terkesima dengan ucapan pelan dari salah satu rekan/rekanita IPNU dan IPPNU Ranting Talangsuko. Suara samar di antara tawa bersama berucap Pustaka Aswaja,” tulis Irul di laman Facebook. Irul membayangkan jika terwujud, akan menggerakkan ratusan atau bahkan ribuan Pustaka Aswaja yang di inisiasi para generasi muda NU.

“Sebagai jalan sederhana mencetak generasi masa depan NU. Serta membangun bangsa dan menjaga budaya nusantara melalui gerakan literasi,” kata Irul.

Sementara Ketua Lakpesdam MWCNU Turen, M. Mihron Zubaidi Menjelaskan literasi tak hanya sekadar menulis dan membaca buku. Namun, memiliki makna lebih luas, yakni membaca lingkungan, membaca alam dan kearifan lokal. “Membaca, Iqro itu maknanya luas. Tak hanya membaca buku, lihat kondisi lingkungan dan alam sekitar kita,” ujarnya.

Acara Bincang Non Formal (Abnormal) dan pelantikan pengurus IPNU-IPPNU Ranting Talangsungko, Turen, Kabupaten Malang. (Foto : dokumentasi IPNU Talangsuko).

Wakil Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (TBM) Jawa Timur Ahmad Ichwan Susilo membeberkan data mengenai minat baca di Indonesia yang rendah. Tingkat literasi rendah, katanya, karena akses masyarakat terhadap buku bacaan terbatas. Buku mahal tak terjangkau. Masyarakat tak mudah mengakses buku. “Bukan berarti minat baca rendah, tapi akses buku yang susah,”ujarnya.

Salah seorang penggerak literasi di Talangsuko sekaligus pendiri TBM Lentera Ahmad Ainul Yaqin mengajak pemuda dan pelajar kader IPNU dan IPPNU untuk terlibat dalam gerakan literasi. Caranya dengan menyediakan ruang literasi bagi masyarakat setempat. “Mari membangun sudut baca di sudut-sudut kampung,” ujarnya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini