Renungan Keserakahan dari Penny “Bansos”, Quan “Olimpiade” dan Diogenes “Kunikos”

Diogenes. Ilustrasi: hellenicaworld.com

Terakota.id–“Merjosari lagi ngetop rek,” tulis seorang teman di grup WhatsApp teman-teman SMP. Merjosari yang dimaksud ini adalah Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru di Kota Malang. Ngetop karena belakangan ini sedang jadi pemberitaan di media menyusul Senin (16/8/2021) Densus  88 menangkap pasutri yang diduga menjadi otak penggalang dana teroris melalui kotak amal. Pasutri terduga teroris itu diketahui berinisial CA dan L, warga Jalan Joyo Utomo, Kelurahan Merjosari.

Seminggu sebelumnya di kelurahan itu juga ditangkap seseorang. Bukan teroris, tetapi koruptor. Namanya Penny Tri Herdian (28), pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Malang, Jawa Timur, yang jadi tersangka kasus korupsi dana bantuan sosial (bansos) sebanyak  Rp 450 juta. Aksi tersebut dilakukan Penny selama tiga tahun yakni sejak 2017 hingga 2020. Perempuan asal Merjosari itu mengaku uangnya digunakan untuk pengobatan sang ayah yang sedang sakit. “Obat orang tua juga lumayan mahal,” kata Penny.

Sampai penggalan ini bisa jadi banyak orang yang simpati tetapi menyayangkan solusinya. Simpati karena demi mengobati sang ayah, tetapi menyayangkan kenapa musti berbuat buruk dengan korupsi. Namun tunggu, ikuti berita berikutnya. “Selain itu ia menggunakan dana bansos untuk membeli kebutuhan pribadi seperti motor, kulkas, TV, laptop, keyboard, dan AC,” begitu saya kutip dari media online Jawa Timur.

“Kalau beli motor ini memang untuk mobilitas. Elektronik ya buat di rumah. Sementara lainnya untuk biaya hidup,” kata Penny lagi. Alamak!

Penny Tri Herdian. (Foto: Surya Malang).

Jika Penny butuh biaya untuk pengobatan ayahnya, Quan mengaku butuh biaya pengobatan untuk ibunya. Siapakan Quan ini?.  Quan lengkapnya Quan Hongchan. Ia adalah atlet loncat indah asal Cina yang berhasil meraih emas dengan 466, 20 poin di Olimpiade Tokyo 2020. Gadis berusia 14 tahun itu dikabarkan menolak hadiah uang dan rumah atas prestasinya.

Rumahnya tak henti-hentinya kebanjiran hadiah berkat kesuksesannya di olimpiade.  Dari mulai makanan ringan, hingga ada yang memberi keluarganya rumah dan uang tunai mencapai 200 ribu yuan, atau setara Rp 443 juta. Namun keluarga Quan dengan rendah hati menolak bantuan-bantuan itu.

“Saya berterima kasih kepada mereka. Saya tidak mengambil apa-apa. Saya tidak mengambil sepeser pun,” kata ayah Quan Hongchan, Quan Wenmao.

Bagi Quan  apa yang ia peroleh sudah cukup memenuhi kebutuhannya. “”Ibuku sedang sakit. Saya tidak tahu penyakit apa yang dia derita. Saya hanya ingin mencari uang untuk berobat, karena keluarga saya membutuhkan uang untuk menyembuhkan penyakitnya,”” katanya.

Quan berasal dari keluarga pedesaan yang sederhana. Kedua orang tuanya adalah petani, tetapi ibunya mengalami kecelakaan lalu lintas beberapa tahun yang lalu, dan telah dirawat di rumah sakit beberapa kali. Kehidupan ekonomi rumah tangga mereka sangat bergantung pada ayahnya, dan dia ingin membantu biaya pengobatan ibunya.

Manusia Serakah

Kisah Quan dan Penny ini mengantarkan saya kepada pemikiran filsuf Diogenes. Filsuf yang berpegang teguh pada hidup asketik ini pernah menyatakan “Orang yang paling kaya adalah orang yang paling nyaman dengan kepemilikan yang paling sedikit”.

Diogenes itu mau menegaskan bahwa kekayaan materi adalah persoalan terkait jumlah. Bilamana menempatkan materi sebagai tujuan hidup maka jumlahnya tak terbatas. Walau jumlahnya banyak,  namun tetap saja merupakan kekayaan  semu. Tak ada batasnya.

Kekayaan sejati itu, kata Diogenes, jika kita sudah merasa cukup.  Ukuran cukup ini didasarkan atas pertimbangan akal budi, bukan dorongan emosi dan hasrat materi. Artinya jika manusia menerima kesederhanaan saat ini, maka ia sudah hidup dalam kekayaan.

Quan Hongchan. (Foto: Getty Images).

Tentu saja Diogenes paham benar arti kesederhanaan. Ia memang asketis. Bahkan ia digambarkan hidup seperti gelandangan. Tidur di jalanan ditemani anjing- anjing. Terbiasa ditemani anjing, keberaniannya juga seperti anjing. Diogenes dari Sinope ini dikenal dengan sebutan “si anjing” atau “Diogenes Kunikos” (dalam bahasa Yunani kunikos berarti anjing). Hal itu dikarenakan ia sangat berani dalam menyatakan pandangannya layaknya seekor anjing yang menyalak.

Jalan asketik diperoleh dari gurunya yang bernama Anthisthenes, yang merupakan murid dari Socrates. Umurnya sekitar dua puluh tahun lebih tua daripada Plato.

Plato juga pernah mengingatkan soal keserakahan. Menurut Plato, manusia perlu dan berkewajiban mengendalikan nafsu keserakahannya untuk memenuhi semua keinginan yang melebihi kewajaran. Sejalan dengan pandangan gurunya itu, Aristoteles menganggap bahwa kebutuhan manusia itu tidak terlalu banyak, tetapi keinginannyalah yang relatif tidak terbatas.

Banyak di antara kita menyamakan kebutuhan dan keinginan. Padahal berbeda. Kebutuhan ada batasnya. Keinginan tak terbatas. Terus dan terus, sehingga ditempatkan sebagai ketidakwajaran di mana yang dikejar adalah kepuasan semu.

Quan cukup sampai batas kebutuhan. Ia cukup memperoleh uang untuk biaya obat ibunya. Penny terjebak keinginan. Ia tidak cukup sampai kepada kebutuhan mengobati ayahnya, tetapi terus diperbudak keinginannya. Ingin punya motor, ingin keyboard maupun kulkas. Padahal sumber dana terbatas. Maka untuk memenuhi keinginannya itu ia pun korupsi.

Manakala manusia tidak pernah merasa cukup dan terus memburu keinginannya maka jadilah manusia serakah.  Filsuf Bernard de Mandellive dalam buku klasik The Fable of the Bees (1714) mengemukakan sifat serakah manusia yang selalu lebih mementingkan diri sendiri akan memberi dampak sosial bagi masyarakat.

Benar saja, tindakan  Penny cenderung merugikan masyarakat. Sementara Quan bermanfaat bagi martabat masyarakat China dan bagian lain di dunia ini. Sayang Penny tidak belajar kepada Quan bagaimana menjadi seseorang yang tidak serakah. Akibat keserakahannya, Penny pun dijebloskan  ke balik terali besi.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini