Rengginang Lebaran

rengginang-lebaran
Rengginang banyak disajikan saat lebaran dengan ditemani kopi panas. (Foto : Tokopedia).

Oleh: Sugeng Winarno *

Terakota.idSeperti pada tahun-tahun sebelumnya, lebaran kali ini saya mudik ke rumah ibu bapak mertua di Yogyakarta dan pulang kampung ke rumah kelahiran saya di Jombang. Kegiatan silaturahmi door to door saya dan keluarga lakoni dengan mengunjungi rumah sanak saudara dan handai taulan di kedua kota itu.

Selepas sholat Idul Fitri, nyekar, dan sungkeman pada orang tua dan sesepuh, perjalanan silaturahmi tahunan itu kami lanjutkan. Saya dan keluarga berkunjung ke rumah Eyang, Paklek, Bulek, Pakde, Budhe, Paman, Bibi, keponakan, dan beberapa kerabat dekat. Semua saya datangi, tak ada yang terlewat.

Hampir di setiap kunjungan silaturahmi, saya disuguhi aneka kue dan minuman lebaran. Tak semua jajanan lebaran saya suka. Saya hanya rindu satu penganan lebaran yang namanya rengginang. Ya, rengginang. Kue lebaran yang terbuat dari beras ketan itu hingga kini masih saya temui jadi suguhan tamu lebaran.

Di kampung, lebaran masih sangat identik dengan rengginang. Waktu saya kecil, untuk menandai datangnya Idul Fitri, saya hanya niteni kalau ibu sudah membuat kue rengginang. Pokoknya kalau ibu sudah menjemur rengginang, itu artinya lebaran segera tiba. Seperti halnya ibu, beberapa orang kampung biasanya menyiapkan kue rengginang seminggu sebelum hari raya tiba. Rengginang basah diletakkan di atas tampah (wadah dari anyaman bambu) dan di jemur di halaman atau atap rumah.

Kue Penawar Rindu

Bagi saya, rengginang lebaran tak sekedar kue biasa. Rengginang punya makna yang lebih dari sekedar jajanan. Kue ini serasa jadi obat penawar rindu pada kampung halaman, pada masa kecil, dan pada rasa kebersamaan.  Rengginang yang renyah, kriuk, dan kemremes itu selalu membawa saya pada nostalgi kebersamaan dengan teman dekat, kerabat, dan saudara saat lebaran tiba.

Kue rengginang, apalagi kalau dipadu dengan minuman kopi atau teh hangat rasanya memang istimewa. Keistimewaan rengginang bukan terletak pada bahan dan cara penyajiannya. Namun rengginang menjadi sangat spesial karena mampu mengobati rindu pada masa lalu. Rengginang mampu menggugah kenangan masa lampau pada kehidupan kebersamaan di kampung.

Rengginang telah hadir sejak lama sebagai kue pelengkap saat sesama warga berkumpul, bertamu, sekedar ngobrol, rembug warga, hingga hajatan sunatan dan mantenan. Rengginang identik dengan masyarakat kampung yang guyub rukun. Rengginang identik sebagai kue pemantik suasana keakraban dan renyahnya suasana kebersamaan sesama warga.

Ketika kini banyak orang kampung yang telah hijrah ke kota, rengginang mampu jadi obat penawar rindu para pemudik pada kampung halaman mereka. Kriuk atau kremes rengginang itu mengobati rasa rindu pada kampung dan desa. Pada suasana kebersamaan dan kesederhanaan masyarakat kampung.

Walau rengginang saat ini dengan mudah bisa dibeli di supermarket dan pusat oleh-oleh yang menjamur di pinggir jalan kota, namun rengginang masih identik dengan kue tradisional. Mereka yang mengenal dan suka dengan rengginang hampir bisa dipastikan punya kenangan tak terlupa di kampung halaman mereka masing-masing.

Rengginang Itu Kesederhanaan

Di rumah ibu, rengginang di taruh dalam wadah kaca beling yang besar. Wadah toples biasa kami menyebutnya. Dalam toples bening itu, rengginang di tata ibu bersusun rapi. Melihat sepintas sudah terbayang renyahnya. Ya, ibu selalu menyajikan rengginang versi jadul, tanpa modifikasi bahan lain dan tanpa teknik penyajian yang lebih modern.

Kue rengginang tergolong kue yang bahan dan cara membuatnya mudah. Pertama, beras ketan dicuci hingga bersih dan direndam selama satu malam. Setelah itu beras ketan dikukus hingga matang, diberi bawang putih dan garam secukupnya. Selanjutnya dibentuk, dijemur kurang lebih tiga hari hingga kering, dan digoreng.

rengginang-lebaran
Seorang ibu menjemur adonan bahan kue rengginang. (Foto : Detik).

Kue ini tak butuh bahan yang rumit. Tak perlu keterampilan yang sulit pula agar bisa membuat rengginang. Kebanyakan orang kampung bisa membuat kue rengginang. Keterampilan membuat rengginang sudah turun temurun dari generasi ke generasi. Ada beberapa modifikasi kue rengginang saat ini, namun bahan dasarnya tetap sama, beras ketan.

Di meja-meja ruang tamu masyarakat kota tak selalu tersaji rengginang. Mungkin rengginang dianggap tak selevel dengan aneka kue modern. Rengginang seperti tak pantas bersanding dengan kue butter cookies, wafer, aneka biscuit kaleng, kastengel, dan beragam kue kekinian yang lain.

Kini, rengginang yang setiap kepingnya mengandung sekitar 12 kalori, lemak 0.17 gram, kabohidrat 2,23 gram, dan protein 0,2 gram itu masih banyak yang suka. Tak hanya di desa dan kampung, kue ini juga di jual di pusat-pusat perbelanjaan. Pembelinya hampir bisa dipastikan punya memori makan rengginang di kampung halamannya.

Rengginang hingga kini masih tetap eksis sebagai kue lebaran jadul yang masih mampu bertahan. Tak ada yang berubah dari kesederhanaan rengginang, walaupun banyak orang menyajikannya dalam kaleng biscuit Khong Guan. Rengginang masih tetap kue lembaran yang renyah, gurih, kriuk, dan kremes.

rengginang-lebaran
Tak ada yang berubah dari kesederhanaan rengginang, walaupun banyak orang menyajikannya dalam kaleng biscuit Khong Guan. (Foto : Gurunesia).

Kesederhanaan kue rengginang menyiratkan pesan bahwa merayakan lebaran tak harus bermewah-mewah. Beruntunglah kita yang saat bersilaturahmi lebaran masih menemukan suguhan rengginang. Itu artinya kita menemukan obat rindu akan masa lalu. Rindu pada kesederhanaan, kekeluargaan dan kebersamaan yang tercipta bersama rengginang.

Apapun wadah dan kalengnya, rengginang masih tetap jadi dirinya sendiri. Rengginang tak akan berubah rasa, bentuk, dan arti walau dimasukkan di kaleng aneka biscuit kekinian. Selamat melanjutkan silaturahmi lebaran dan menikmati renyahnya rengginang. Kriuk,…kriuk,…kriuk,…. (*)

*) Penulis adalah Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini