Rekreasi Sembari Terapi Mandiri di Boonpring

rekreasi-sembari-terapi-mandiri-di-boonpring
Sekitar seribu lansia berlatih terapi mandiri Ling Tien Kung di Boonpring. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Sejak pagi, sekitar seribuan lansia dari berbagai daerah di Malang menyemut di Boonpring, Andeman, Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Ahad 20 Oktober 2019. Berbaris, mereka mengikuti latihan senam Ling Tien Kung. Setiap peserta meniru gerakan yang dilakukan instruktur di depan sebuah panggung.

Senam Ling Tien Kung merupakan terapi mandiri berbagai penyakit kronis. Terapi mandiri dilakukan di Boonpring sebuah kawasan konsevasi air dan arboretum bambu. Udara sejuk dan nuansa alam menjadi alasan utama terapi secara mandiri di Boonpring.

“Terapi mandiri ini usaha penyembuhan segala penyakit dengan gerak tubuh. Sembuh tanpa obat, tanpa alat dan tanpa ragat atau biaya,” kata salah seorang instruktur, Mariyono.

Ia telah melatih ratusan orang dengan teknik gerakan Ling Tien Kung. Usai latihan, sejumlah peserta telah menunjukkan perkembangan kondisi kesegarannya semakin positif. “Saya merasa senang. Alhamdulillah. Sudah sehat kembali,” katanya.

Gerakan senam sederhana, dan menyenangkan. Para lansia tekun mengikuti setiap gerakan sekitar satu jam. Mereka antusias mengikuti gerakan instruktur. Ling Tien Kung merupakan terapi kesehatan yang mengambil energi dari alam dan memicu hormon dalam tubuh.

“Hormon yang kurang bertambah dan yang berlebih dikurangi,” katanya. Peserta terapi yang memiliki riwayat darah tinggi akan berkurang, yang punya darah rendah kembali stabil. Gerakan terapi kesehatan ini juga memacu hormon pada tubuh. Sehingga membentuk kekebalan tubuh untuk memproteksi dari penyakit dan menyembuhkan tubuh secara mandiri.

Salah seorang peserta pelatihan, Mahmud asal Sasana Jodipan Kulon, Kota Malang menjelaskan alasannya mengikuti latihan senam terapi mandiri. Pada Oktober 2018 Mahmud berdua dengan istri menjalankan ibadah umroh. Saat sya’i tawaf selalu bergandengan karena berjalan kaki selalu tertatih-tatih. “Usia saya 68 tahun,” katanya.

Para peserta pelatihan terapi mandiri Ling Tien Kung memberikan testimoni manfaat senam bersama. (Terakota/Eko Widianto).

Setelah rutin mengikuti terapi ia bergerak bebas. Leluasa. Bahkan bisa berlari. Sampai akhirnya ia menjadi instruktur. “Sekarang berjalan dengan normal. Tak sakit lagi,” katanya.

Sementara Budowir dari Sasana Kedok, Turen mengaku ikut latihan selama 13 kali. Namun, saat latihan ke lima kali, ia mengalami banyak perubahan. “Saking banyaknya, saya hanya bisa bersyukur,” katanya.

Di usia yang ke 70 tahun ia dulu berjalan tertarih. Sekarang sudah bisa berlari. “Dulu ngulek sambal tangan sudah bergetar. Alhamdulillah sekarang sehat,” katanya.

Terapi sengaja dilangsungkan di Boonpring agar bisa menikmati kesegaran alam dan berlatih dengan alamiah. Sesuai dengan kebutuhan energi di alam.

Ragam Varietas Bambu di Boonpring 

Sebanyak 75-an varietas bambu tumbuh di kawasan ekowisata Boonpring Andeman. Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Samsul Arifin menjelaskan arboretum bakal dikembangkan sebagai pusat penelitian bekerjasama dengan Lembaga Imu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI). Melibatkan pakar taksonomi bamboo Elisabeth Anita Widjaja.

Elisabeth meneliti dan identifikasi bambu di sini selama dua hari. Selanjutnya, bakal ditambah beragam jenis bambu koleksi Elisabeth. LIPI, juga tengah menyusun buku mengenai ragam jenis bambu.  Rata-rata pengunjung wisata sekitar 750 orang, sedangkan akhir pekan membludak sampai 3 ribu.

Sebanyak 75-an varietas bambu tumbuh di kawasan ekowisata Boonpring Andeman seluas 36,8 hektare. (Terakota/Eko WIdianto).

 

Bambu juga dikembangkan menjadi beragam kerajinan berbahan bambu. Meliputi lampu, miniatur kapal, tudung saji, dan ukiran bambu. Semua merupakan kerajinan yang diproduksi rumahan oleh warga Sanankerto. “Mereka menggantungkan hidup dengan bambu,” kata Aini.

Sehingga pengunjung Boonpring bisa belajar mengenal jenis, dan bertanam bambu serta memanfaatkan untuk kerajinan. Bambu ditanam di lahan khusus, berupa hutan bambu di kawasan ekowisata seluas 36,8 hektare.

Rumpun bambu menjadi bagian tak terpisahkan dengan sumber air di Boonpring. Selain itu, sumber air juga dimanfaatkan untuk menggerakkan generator. Bekerjasama dengan Fakultas Teknik UMM dibangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang menghasilkan 20 ribu watt.

“Turbin menggunakan propeller poros vertical,” kata teknisi PLTMH UMM, Suwignyo. Listrik yang dihasilkan untuk aktivitas wisata di Boonpring dan warga sekitar. Listrik dari energi baru terbarukan ini menjadi bagian dari kampanye energi hijau.

Boonpring cocok menjadi tempat rekreasi keluarga dan olahraga. (Terakota/Eko Widianto).

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini