Rekaman Kisah Transpuan dan Fenomena Sosial

rekaman-kisah-transpuan-dan-fenomena-sosial
Sejumlah teman Merlyn Sopjan mengajak berfoto bersama dalam peluncuran buku biografi Merlyn. (Foto : Courtesy Cameo Project).

Terakota.id–Kisah transpuan, transgender perempuan berjudul “Perempuan tanpa vagina” diputar di acara Gebyar Indonesia Inklusi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis 17 Oktober 2019. Ratusan pasang mata menonton film berdurasi 17 menit 12 detik yang diproduksi Cameo Project.

Film documenter yang diunggah 4 Oktober 2019 ini mengangkat kisah Merlyn Sopjan seorang transpuan kelahiran Kediri. Merlyn bukan sosok asing di Kota Malang, ia mengenyam pendidikan tinggi di Kota Malang. Selain itu pernah menjadi Ketua Ikatan Waria Malang (Imawa).

“Perempuan bukan perkara fisik, tapi jiwa. Ini bukan pilihan, saya dilahirkan sebagai Ario Pamungkas,” katanya dalam film yang telah ditonton 677.340 orang. Disukai 26 ribu orang dengan 2.500 lebih komentar pro dan kontra, sebagian besar mendukung Merlyn. Ia merasa berjiwa seorang perempuan sejak usia empat tahun.

Merlyn terpilih sebagai Putri Waria 1995 saat berusia 22 tahun, dan tengah menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Malang. Putra waria juga kembali disabet pada 1996 dan 2006 Merlyn berharap pencapaian itu membanggakan orang tuanya.

Ternyata tidak, ayahnya menganggap kontes kecantikan hanya menampilkan fisik semata. Ia kecewa. Lantas Merlyn berusaha mengembangkan diri, minat dan pengetahuan. Setelah delapan tahun terpilih menjadi putri waria, pada 2002 ia memimpin Iwama untuk mengembangkan proyek percontohan penanggulangan HIV/AIDS di kalangan waria.

rekaman-kisah-transpuan-dan-fenomena-sosial
Merlyn Sopjan jika meninggal ingin dimakamkan dengan pakaian perempuan. Batu nisan bertulis Ario Pamungkas dan Merlyn Sopjan. (Foto : Courtesy Cameo Proect),

Proyek penanggulangan HIV/AIDS pertama untuk waria di Indonesia. Sejak saat itu, ia disorot media. Kumpulan kliping koran disampaikan kepada orang tua. Merlyn meneteskan air mata saat menceritakan oran tua telah membaca kliping dan berkirim pesan pendek dari ayahnya.

“SMS papi berbunyi ‘papi bangga.’ Itu saya bersyukur. Saya yang waria, berbeda ini bisa memberikan kebahagiaan kepada orang tua,” katanya. Merlyn mengaku ingin membanggakan orang tua. Terlihir dengan kondisi berbeda, katanya, tak menghilangkan hak menjadi baik.

“Saya berbeda. Tak diterima tak masalah. Tapi bagaimana memanusiakan manusia,” kata Merlyn kepada para mahasiswa dan masyarakat yang menghadiri Gebyar Indonesia Inklusi. Program ini diselenggarakan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Merlyn kini aktif di PKBI.

Membanggakan itu menjadi pencapaian terbesar dalam hidupnya. Setelah ayahnya menerima kondisi Merly, ia menawarkan operasi kelamin, Tanpa pikir panjang Merlyn menyatakan menolak. Ia mengaku bahagia dengan kondisi seperti itu.

“Esensi hidup bukan kelamin. Orang tua dengan jiwa besar menerima anaknya berbeda. Dianggap sebagai special gift dari Tuhan,” katanya. Merlyn tak berharap masyarakat yang menonton filmnya mengubah pandangan tentang waria. Namun, ia berharap siapapun agar tak menyakiti sesama makhluk Tuhan.

Dulu, orang memandang sebelah mata para waria. Namun kini lebih toleran. Merlyn mengaku tak bisa mengubah stigma. “Kalau meninggal saya mau pakain baju perempuan. Nisan bertulis Ario Pamungkas dan Merlyn Sopjan. Saya ingin dikenang sebagai Ario Pamungkas dan hidup sebagai Merlyn Sopjan,” katanya.

Film dan biografi itu dipersembahkan Merlyn untuk mendiang kedua orang tuanya. Selain film documenter yang diproduksi Cameo Project, juga diputar film mengenai penyintas perkara Talangsari, Lampung. Sebuah peristiwa aparat militer menerang kampung pada 6-7 februari 1989.

Merlyn Sopjan, Lilik HS dan sejumlah narasumber lain berdiskusi usai menonton film dokumenter. (Terakota/Eko Widianto).

Sebanyak 45 orang terbunuh, lima diperkosa, 88 hilang, 36 disiksa. dan 173 ditahan. Peristiwa ini dikenal dengan tragedi Talangsari 1989. Kasus telah berlangsung 30 tahun, namun stigma kepada para penyintas tetap terjadi. “Mereka terkucil. Termarjinalkan. Tak dapat layanan listrik, pendidikan dan kesehatan. Mereka disebut orang lokasi,” kata Program Manager Indonesia untuk Kemanusiaan (IKA), Lilik HS.

Peristiwa itu dialami warga Dusun Takangsari III, Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur. Kini, nama Talangsari diubah menjadi Dusun Subing Putra III. Pergantian nama untuk menghilangkan trauma. Para penyintas tertekan, dan tak percaya diri.

“Tak berani. Mereka tertekan. Tak mampu memulihkan diri. Sulit digambarkan,” katanya.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Rinekso Kartono mengatakan Gebyar Indonesia Inklusi memberi beragam perspektif kepada publik dan mahasiswa. Serta dipertontonkan masalah sosial juga usaha mencari solusi. “Manusia memiliki tugas sebagai khalifah. Berbarap PKBI jadi bagian kampus ini. Saling belajar mendukung mencari solusi,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini