Refleksi Reog Ponorogo tahun 2022 dalam Symbolic Convergence Theory Oleh: Oki Cahyo Nugroho*

Pertunjukkan tari bujangganong masala di jalan HOS Cokroaminoto ponorogo pada 9/8/2022 (Foto: Oki Cahyo)
Iklan terakota

Terakota.ID–Pada tahun 2022 ini, pemerintah kota Ponorogo disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang menjadi identitas kota ini dalam bidang budaya yaitu reog ponorogo. Setelah badai covid 19 mereda, pertunjukkan reyog berangsur-angsur kembali dipertontonkan di masyarakat secara terbuka. Pertunjukkan reyog itu meliputi pertunjukkan reog yang ada di panggung atau disebut dengan pertunjukkan reyog Festival dan pertunjukkan reog yang ada di jalanan atau biasa kita sebut dengan reyog obyogan.

Tidak cukup sampai disitu saja, pemerintah ponorogo juga menggelar tari massal bujangganong dan pertunjukkan-pertunjukkan lain reog ponorogo dalam berbagai bentuk seperti tari jathil, reyog obyog dan sebagainya. Pertunjukkan reyog dalam bentuk obyogan juga menjadi salah satu bagian dari pertunjukkan ini dengan menampilkan parade reyog obyog di jalan-jalan protokol kabupaten ponorogo yaitu di jalan Hos Cokroaminoto dan jalan jend sudirman.

Setidaknya ada empat peristiwa penting terkait pertunjukkan reyog di Ponorogo tahun 2022 yang menjadi perhatian publik dan menjadi tonggak sejarah perkembangan reyog ponorogo dalam mewarnai khasanah budaya indonesia, yang pertama adalah pertunjukkan tari Bujangganong masal sebanyak 2022 penari yang berhasil memecahkan rekor Muri (Detik.com 9/8/2022). Disusul dengan parade reyog obyogan dari 312 desa di ponorogo yang tercatat dalam rekor muri sebagai tampilan grup reyog obyog terbanyak, dengan jumlah 312 Grup Reog Obyog (Jatimpos.co 10/8/2022).

Lalu ada Festival Reog Ponorogo yang berlangsung pada tanggal  25 – 29 Juli 2022 yang menjadi sebuah pertunjukkan penting pasca pandemi dan diikuti oleh perwakilan dari beberapa daerah di Indonesia. Yang terakhir adalah proses pengajuan reog ponorogo menjadi warisan budaya tak benda di UNESCO. Tercatat pada tanggal 18 Februari 2022, Reog Ponorogo sudah diusulkan langsung ke UNESCO (https://www.kemenkopmk.go.id/07 Apr, 2022).

Peristiwa-peristiwa ini lah yang mengingatkan kita bagaimana perkembangan reyog ponorogo ini menjadi sebuah pertunjukkan penting bagi kehidupan masyarakat ponorogo sekaligus menjadi identitas masyarakat ponorogo. Pertunjukan ini juga mengingatkan kita bagaimana sebuah pertunjukkan reyog sudah menjadi darah daging bagi masyarakat ponorogo dan menjadi sebuah wajah budaya kota ponorogo ini. Sehingga pada saat reyog diisukan klaim oleh malaysia, warga ponorogo dan beberapa komunitas lain dari berbagai kota mengajukan protes dengan cara turun ke jalan dan berdemo (https://daerah.sindonews.com/Minggu, 10 April 2022).

Lalu bagaimana peristiwa ini bisa kita lihat dalam sisi keilmuan terutama dalam bidang komunikasi organisasi? Bagaimana kita bisa melihat fenomena-fenomena dalam pertunjukkan reyog ini dalam perspektif kajian  komunikasi terutama dalam Symbolic Convergence Theory ? Dikutip dari buku A First Look at Communication Theory karangan Griffin, Ledbetter, dan Sparks (2019, hal.223), pencetus teori ini, Ernest Bormann, menyatakan bahwa “sharing group fantasies creates symbolic convergence” atau berbagi fantasi kelompok menciptakan konvergensi simbolis. SCT merupakan teori yang membahas fenomena pertukaran pesan yang kemudian menghasilkan kesadaran kelompok hingga menghasilkan makna, motif dan perasaan yang sama.

Masih Menurut Griffin, “konvergensi melalui simbol,individu-individu membangun rasa komunitas atau kesadaran kelompok. Sebagai konvergensi simbolik ikatan kelompok secara kohesif memiliki rasa kebersamaan yang terbentuk. Masing masing anggota mulai menggunakan kata-kata “kita” untuk menggantikan “Aku,” dan “kita” bukan “aku.” Anggota mungkin bahkan melekat satu sama lain, dan kadang-kadang, berlangsung sesuai kelompok. Meskipun orang “menganggap usaha patungan” melalui konvergensi simbolis, penting untuk menekankan bahwa ada batasan pada seberapa banyak hal yang sesuai dan harus dilakukan.

Ernest Bormann mengoperasionalkan teorinya dengan istilah Fantasy Theme Analysis (FTA), sebagai kata kunci dalam teori ini. Adapun istilah-istilah kunci dalam ATF adalah : Fantasy Theme ( Tema Fantasi), Fantasy Chain (rantai fantasi), Fantasy Type (Tipe Fantasi) dan Rhetorical Visions (Visi retoris). Dalam teori ini, sebuah fantasi tidak merujuk pada cerita-cerita fiktif atau keinginan erotis. Fantasi adalah cerita atau lelucon yang mengandung atau mengungkapkan emosi. Fantasi meliputi peristiwa dari seorang anggota kelompok di masa lalu, atau peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan. Fantasi tidak mencakup komunikasi yang berfokus pada apa yang terjadi di dalam kelompok.

Pertama fantasy theme (tema fantasi), di mana isi pesan yang didramatisasi menciptakan rantai fantasi. Dramatisasi pesan terjadi ketika anggota-anggota kelompok membicarakan kejadian sama yang dialami anggota kelompok pada masa lalu ataupun masa depan. Pertunjukan reyog yang kita kenal pada awalnya merupakan sebuah pertunjukan daerah khas ponorogo yang hanya ada di ponorogo itu sendiri. Kemudian menyebar ke beberapa daerah sekitar ponorogo. Dalam hal inilah terjadi perubahan besar yang yang mewarnai reyog ponorogo menjadi reyog modern seperti hari ini yaitu peristiwa reyog ponorogo menuju pertunjukkan nasional di Taman Mini Indonesia Indah pada akhir tahun 80an dan awal 90an.

Transformasi terjadi ketika penari jathil yang pada awalnya dimainkan oleh laki-laki berubah menjadi penari jathil perempuan seperti yang kita lihat sekarang. Simbol ini dibicarakan berulang dan menjadi seolah-olah standar dalam pertunjukan reyog pada kemudian hari sampai saat ini. Artinya simbol penari berkuda yang gagah berani dan dimainkan oleh laki-laki berubah menjadi perempuan yang “sigrak” dalam berkuda. “Standar baru” muncul dengan model pertunjukkan ini dan ternyata lebih disukai oleh penonton. Sebuah mimpi dan fantasi emansipasi perempuan pada saat itu tampil dalam pertunjukkan reyog.

Fantasy Chain (rantai fantasi), yang terbentuk ketika pesan yang didramatisasi mendapat tanggapan dari anggota dalam kelompok sehingga meningkatkan kohesivitas kelompok. Akhirnya memunculkan konvergensi simbolik dan memiliki makna bersama dalam kelompok. Kita lihat perkembangan reyog dan beberapa event dalam pertunjukkan reyog di ponorogo. Pertunjukan reyog yang pada awalnya sebuah pertunjukkan rakyat biasa sekarang berubah menjadi sebuah pertunjukkan nasional dan masuk menjadi agenda kalender wisata nasional. Tidak hanya itu, pertunjukkan reyog ini menjadi berubah bentuk menjadi sebuah pertunjukan obyogan yang biasanya dipertunjukkan di jalanan berubah menjadi pertunjukkan dalam bentuk festival panggung yang dipentaskan dalam bentuk sendratari. Yang unik adalah pertunjukkan reyog ini masih memegang teguh pertunjukkan obyogan atau pertunjukan di jalanan sebagai roh utama atau pertunjukkan utama dalam pertunjukkan reyog.

Peran fantasi juga muncul dalam bentuk-bentuk lain dalam pertunjukkan reyog seperti penganugerahan tokoh reyog kepada beberapa orang yang dianggap menjadi tokoh politik dalam pertunjukan reyog itu sendiri. Yang paling akhir adalah penganugerahan warok kehormatan kepada bupati ponorogo periode 2016-2021 Ipong Muchlissoni pada 4 Desember 2019. Tidak sampai disini saja, fantasy chin terus berlanjut dengan diadakannya pertunjukkan-pertunjukan yang bersifa tmasif dalam bentuk pecahan-pecahan fragmen tari reyog ponorogo seperti tari Dadak merak, tari Jathil dan bujangganong dalam bentuk massal. Rekor Muri pun terpecahkan dalam berbagai kategori dalam pertunjukan reyog ini. Yang terakhir adalah rekormuri tari Bujangganong masal sebanyak 2022 penari yang berhasil memecahkan rekor Muri, dan tampilan grup reyog obyog terbanyak, dengan jumlah 312 Grup Reog Obyog pada tahun 2022 ini.

Ketiga fantasy type (tipe fantasi), di mana tema fantasi dibicarakan berulang dengan komposisi retorika dari narasi yang sama. Walaupun tokoh, setting, latar belakang, karakter dan sebagainya sama, namun bisa menghasilkan topik yang berbeda berdasarkan retorika yang dimunculkan oleh kelompok. Festival Reog Ponorogo yang berlangsung pada tanggal  25 – 29 Juli 2022 yang menjadi sebuah pertunjukkan penting yang menjadi bentuk pertunjukkan yang diadopsi beberapa daerah di indonesia. Tercatat pada tahun 2022 ini ada 2 pemerintah kabupaten lain yang menyelenggarakan reyog ini, yang pertama ada Pemerintah Klaten pada tanggal (29/8/2022) dan Magetan yang menyelenggarakan pada tanggal 3 Desember 2022 di GOR ki Mageti. Bahkan dilansir pada kompas.tv pada 30 Juli 2022 Kemenparekraf akan menyelenggarakan festival reyog dengan skala Internasional. Dengan demikian bisa kita tarik kesimpulan bahwa, reyog ponorogo tidak hanya berhenti menjadi sebuah pertunjukan daerah ponorogo, tetapi terus menjadi bahan kajian dan rujukan pertunjukkan di berbagai daerah lain bahkan di negara lain.

Yang terakhir adalah rhetorical visions (visi retoris), di mana tema fantasi yang berkembang dan melebar keluar dari kelompok. Kita lihat bahwa tema fantasi ini telah menjadi bagian perkembangan kota ponorogo itu sendiri. Landmark kota ponorogo menjadi kota reyog terus dikembangkan sesuai dengan jati diri kota ponorogo seperti patung-patung reyog dalam berbagai peran di sudut kota dan perempatan. Belum lagi kisah mitologi asal-usul reyog ponorogo di sekitar alun-alun ponorogo yang menjadi ikon utama reyog itu sendiri. Tidak hanya berhenti sampai disitu, kerajinan dan souvenir reyog seperti miniatur reyog, kostum atau T-Shirt menjadi bahan incaran wisatawan atau traveler yang melintas di kawasan ponorogo sebagai oleh-oleh.

Reyog sendiri tidak terlepas dari masalah bahan baku dalam pembuatannya, oleh karena itu, banyak pihak yang concern terhadap pelestarian kesenian reyog ini dengan berbagai cara. Terutama dalam hal konservasi alam dan budaya. Isu utama pertunjukan reyog jika dikaitkan dengan isu global tentang konservasi adalah bahan baku reyog yang berasal dari hewan-hewan yang dilindungi seperti merak dan harimau. Peneliti dan konservator telah melakukan riset mendalam bagaimana bahan baku reyog dan menemukan formula tepat sebagai substitusi bahan baku reyog itu sendiri. Sebagai contoh bulu merak telah banyak penangkaran burung merak serta kulit kambing sebagai pengganti kulit harimau yang mendekati kepunahan.

Semoga dengan refleksi ini dalam pertunjukan reyog ini menjadi sebuah pandangan baru dalam dunia budaya yang akan terus mewarnai pertunjukkan dunia dan menjadi identitas bangsa serta menjadi bahan kajian berbagai pihak terkait terutama dalam kajian konservasi alam, lingkungan dan manusia dalam ranah budaya pada umumnya serta menjadi kebanggaan sendiri ketika masuk dan diakui oleh UNESCO.

*Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi UNS

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini