Refleksi Hari Air di Situs Purbakala

Arkeolog Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono menjelaskan makna relief di Candi Jawi saat Jelajah Petirthan, Minggu 19 Maret 2017.(Terakota/Aris Hidayat)

Terakota.id – Peninggalan situs purbakala tak hanya untuk mempelajari sejarah politik dan kekuasaan masa lampau. Melalui berbagai benda arkeologi itu dapat dipelajari juga sejarah peradaban masa lalu. Seperti teknologi arsitektur sampai tata kelola air era kerajaan kuno.

Seperti yang dilakukan komunitas sejarah, seniman, mahasiswa, aktivis lingkungan dan awak media dari Malang sampai Jakarta pada Minggu 19 Maret 2017 kemarin. Mereka menziarahi sejumlah situs untuk memperingati Hari Air yang jatuh pada 22 Maret.

Kegiatan “Jelajah Petirthan” yang bekerjasama dengan Terakota.id ini mengajak sekitar 100an orang lebih untuk melihat situs peninggalan leluhur. Kunjungan dimulai dari Candi Jawi –Prasasti Cungrang – Sumber Belahan atau Sumber Tetek (Pasuruan) – Situs Jedong – Petirthan Jolotundo (Mojokerto). Para seniman menyuguhkan atraksi budaya berupa perpaduan seni musik dan tari di setiap situs yang dituju.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono menjelaskan, situs berada di sekitar Gunung Penangungan. Sebab masyarakat Hindu meyakini Gunung Penanggungan sebagai Gunung Pawitra atau gunung suci. Sehingga air yang keluar merupakan air suci, yang digunakan untuk kepentingan ritual keagamaan.

Candi Jawi, dikelilingi kolam air yang berasal dari sejumlah sumber mata air di lereng Gunung Penanggungan. Air dialirkan melalui jalur pipa bawah tanah yang terbuat dari pahatan batu. Debit air yang keluar dari sumber sama dengan debit air yang mengalir di Candi Jawi.

“Kolam ini juga sebagai alat ukur untuk mengetahui debit air,” katanya.

Saat musim kemarau air menyusut sedangkan saat musim hujan air melimpah. Air dimanfaatkan untuk aktivitas ritual keagamaan, selanjutnya air dialirkan menuju persawahan. “Ada pesan untuk memanfaatkan air dan berterimakasih dengan alam,” kata Dwi Cahyono.

Air, katanya, digunakan seperlunya tak dieksploitasi secara berlebih. Sedangkan saat ini, sejumlah perusahaan air minum kemasan mengeksplotasi secara besar-besaran. Sementara masyarakat yang lain kekurangan.

Sedangkan di Jolotundo, air mengalir melalui empat tingkat teras. Air mengucur deras, melalui sejumlah lubang dari balik bebatuan yang tertata rapi dan apik. “Ini bukti, jika teknologi sirkulasi air sudah maju sejak jaman itu,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini