Reda Gaudiamo : Anak Memiliki Hak Bermain

reda-gaudiamo-anak-memiliki-hak-bermain
Reda Gaudiamo berdiskusi proses kreatif menulis novel anak di festival literasi Patjar Merah. (Terakota/Latifany).Khoirunisa

Reporter : Latifany Khorunisa

Terakota.id–Sastrawan Reda Gaudiamo menyedot perhatian festival literasi dan pasar buku Patjar Merah di bekas gedung bioskop Kelud, Klojen, Kota Malang. Reda bak magnet, menyedot perhatian publik yang akrab dengan buku. Ia membincangkan proses kreatif novel berjudul Na Willa. “Awalnya tak ada niat Na Willa menjadi cerita anak. Tidak sengaja,” katanya.

Diawali dengan kerisauan Reda terhadap sesama ibu yang menuntut anaknya harus selalu juara dalam pendidikan. Mereka lupa jika anak memiliki kebebasan dan hak untuk bermain. Layaknya sebagai anak. Reda menulis cerita pertama tentang Na Willa  berjudul “sore itu”, ketika Reda melihat teman-temannya mulai ketakutan berlebihan. Padahal, katanya, itu tidak penting.

Ketika anak-anak bertemu dengan kenalan baru, yang pertama ditanyakan agamanya apa?. Jika ada anak dalam satu lingkungan yang berbeda agama apakah akan membuat anak berpindah agama? Agama, ujar Reda, merupakan persoalan pribadi. “Apakah jika berbeda agama tidak boleh bermain bersama?,” Tanya Reda.

Reda menuliskan cerita pengalaman bagaimana ibunya mendidik. Waktu kecil, Reda kerap berbaur dengan tetangganya yang mengadakan pengajian sore.  Reda pun ikut mengaji. Padahal Reda beragama Kristen.

Reda kecil diberi Alquran, serta sebatang lidi penunjuk saat mengaji.  Menurut Reda, dunia anak-anak sangat santai, dan baik-baik saja. “Suatu saya ikut salat, hal itu menjadi malapetaka bukan karena salatnya tetapi saya menggunakan kain sprei ibu untuk mukena,” katanya.

reda-gaudiamo-anak-memiliki-hak-bermain

Reda menuliskan cerita pengalaman bagaimana ibunya mendidik. Waktu kecil, Reda kerap berbaur dengan tetangganya yang mengadakan pengajian sore. (Foto : Jurnalruang).

Reda mengambil sudut pandang anak-anak, supaya orang tua tidak merasa diceramahi. Na Willa merupakan nama kesayangan ibu Reda jika di rumah. Na artinya sebagai dan Willa merupakan nama panggilan. Lantas Na Willa menjadi nama tokoh dalam buku terbitan Post Press 2018.

Awalnya penokohan bukan untuk anak-anak. Reda sadar justru saat menulis cerita Na Willa yang kedua. Sehingga lebih berhati-hati dan bekerja keras untuk supaya cocok untuk buku anak. “Buku yang ketiga terdapat proses yang membuat kesal. Terasa sudah tamat untuk dipikiran tetapi tidak ada satupun yang diketik,” katanya.

Keburukan seorang penulis, katanya, hanya satu yakni malas. Untuk buku ketiga ini dia bakal memilih plot apakah setelah SD setahun atau dua tahun kemudian lompat ke SMP. Sehingga Reda mengaku pikirannya tengah ruwet.

Reda menjelaskan jika menulis itu seperti berenang. Cerita anak seperti berenang gaya punggung. Maju ke garis finish dengan muka yang menghadap ke belakang tapi berjalan ke depan hal itu yang Reda rasakan ketika menulis Na Willa. Reda ingat saat menggunakan titik yang jauh di masa kecilnya untuk mengambil peristiwa yang diingat.

Semisal saat Reda mengaji sore hari, ia ambil sebagai frame tetapi peristiwa yang digunakan berpesan bahwa anak-anak itu rileks. Reda ingat rasanya saat duduk bersama Farida dan kakaknya serta temannya satu gang di ruang besar rumah Farida.

Reda ingat hal itu sebagai satu potret. Potret digunakan Reda sebagai catatan peristiwa. Reda mengambil peristiwa pernikahan, seperti orang yang di dalam itu kakaknya. Potret dari beberapa peristiwa perempuan yang menikah. Perilaku Na Willa yang keras kepala dan ngeselin membuat Reda merasa masa kecilnya seru.

reda-gaudiamo-anak-memiliki-hak-bermain
Reda menulis Na Willa karena risau terhadap sesama ibu yang menuntut anaknya harus selalu juara . Mereka lupa jika anak memiliki kebebasan dan hak untuk bermain. (Foto : Penerbit Post).

“Pembaca harus menikmati sama seperti saya menikmatinya,” katanya. Reda bercerita ketika menulis berusaha menyampaikan dengan jujur, detail, dan seru seperti yang dirasakan. Kompetisi itu baik, katanya, bahkan menyenangkan selama anak merasa senang. Anak lahir memiliki keunikan dan keseruan sendiri.

“Anak berhak melakukan apapun yang disukai. Jangan pernah memberi target kepada anak,” kata Reda.

Cerita Na Willa ditulis dengan latar belakang akhir 1960-an. Jika divisualisasikan sebagai manusia nyata maka Na Willa seumuran dengan Reda. Na Willa akan diceritakan hingga masa perkuliahan. Na Willa bagi Reda, merupakan omelan Reda terhadap ibu atau orang tua.

“Sebagai orang tua memang yang paling utama adalah membuat anak nyaman di rumah, membuat anak merasa dicintai, dan dihargai,.” tutur Reda

Menulis Na Willa tak mudah. Ada beberapa kendala yang dialami. Kadang mudah terpancing menulis yang sekarang. Menulis dengan kosakata yang dikenal dan dipakai sehari-hari dan ide dengan rasa sekarang. “Penulis cerita anak tidak perlu yang sudah mempunyai anak. Siapa saja bisa menulis,” katanya.

reda-gaudiamo-anak-memiliki-hak-bermain
Para pelajar menyerbu buku anak-anak di festival literasi Patjar Merah. (Foto : Denny Mizhar)

Na Willa telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Reda mulai menulis pada 1982. Mengawali dengan menerjemah novel kemudian ditulis saat SMP. Jika tak membaca dan menerjemah, mungkin dia tidak akan menulis sampai saat ini.

Reda menyukai cerita pendek di majalah. Menulis cerita pendek di majalah, berarti ia mendapatkan uang jajan. Reda bosan dengan cerita yang berbau percintaan. Reda lebih menyukai tema  hubungan antara anak dengan ibu.

Saat menulis Na Willa, Reda tidak melihat pasar. Reda justru ingin mengutarakan kegeraman, dan amarahnya kepada ibu yang menuntut anaknya selalu juara. Melalui tulisan ini, Reda berhasil menyampaikan pesan itu.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini