Real Man, Use Two or Three Pedals?

Jadi, hidup ini membutuhkan keseimbangan. Sebenarnya tulisan dalam stiker “real men use three pedals” atau “classy men use two pedals” mengajarkan pada kita bahwa keseimbangan akselerasi mobil itu penting dan urgen.

Ilustrasi. (Sumber: modifikasi.com)

Terakota.id Seandainya disuruh menjatuhkan pilihan, Anda pilih yang mana? Pilihannya; (1) Real men use three pedals; (2) Classy men use two pedals, atau (3) Who cares about pedals? I’am fly.

Itu beberapa tulisan stiker yang pernah saya baca di kaca belakang mobil. Lalu, Anda pilih yang mana? Tentu tergantung kepentingan, kebutuhan, tujuan atau bahkan tingkat kesombongan. Mereka yang membutuhkan tiga pedal karena punya mobil “manual”, yang membutuhkan dua pedal memang mempunyai mobil “matic”. Sementara itu yang tak kalah sombongnya tidak membutuhkan dua atau tiga pedal. Mereka ini merasa punya kebiasaan  naik pesawat terbang. Sehingga tak sibuk urusan pedal mobil. Terkesan sombong bukan? Atau termasuk orang yang mau menang sendiri? Atau iseng saja? Atau hanya untuk lucu-lucuan?

Entah apa motif yang melatarbalakanginya, tentu itu semua punya maksud. Coba dicek, apakah yang memproklamasikan “use three pedals” terbiasa memakai dua pedal sebagaimana mobil “matic”? Begitu juga sebaliknya. Kelompok orang yang seperti ini merasa diri akan akan dianggap hebat, punya mobil dan terkesan sombong. Apakah mereka tidak empati dengan masyarakat yang tidak punya mobil? Punya sepeda motor saja sudah, apalagi diiming-imingi mobil.

Lebih sombong lagi mereka yang merasa naik peswat sehingga tidak membutuhkan pedal. Jangan-jangan ia tidak punya mobil? Jangan-jangan tiket pewasatnya dibayari kantor? Atau jangan-jangan punya jalur dapat tiket pesawat gratis? Atau jangan-jangan aslinya jarang naik peswaat tetapi sombong biar terkesan sering naik pesawat? Jangan-jangan modalnya hanya stiker saja.

Soal stiker saja bisa bikin ruwet permasalahan, bukan? Konteks kemunculan stiker itu semangatnya berbeda. Lebih tepat lagi ingin dianggap “sok”. Semangat demikian jika dibiarkan akan tumbuh menjadi motif mau menang sendiri. Bisa jadi ini terlalu dini. Tapi bibit-bibit mau menang sendiri bisa disumbangkan dari hal sepele sebagaimana stiker.

Bisa jadi saya salah. Saya mungkin berpatokan dari sudut pandang saya semata. Tapi semangat berbeda yang muaranya mau benar sendiri tentu tidak baik dalam masyarakat komunal dan heterogen ini. Saya juga bukan malaikat yang selalu benar. Tetapi melihat permasalahan secara lebih dalam dan detail, meskipun hal kecil, akan berguna dan menentukan karakter seseorang di masa  datang.

Wall of Identity

Kenapa ribut soal pedal? Mengapa tidak sama-sama saling belajar. Bukankah semangat awal dari penggunaan pedal itu untuk menjaga keseimbangan? Pedal gas dan pedal rem membutuhkan kopling untuk keseimbangan. Ini untuk kasus mobil “manual”.  Sementara itu, mobil “matic” hanya butuh dua pedal (gas dan rem). Semangatnya tetap sama bukan? Mobil butuh keseimbangan antara kecepatan dan pengereman. Hanya yang satu memakai tiga pedal yang satunya dua pedal. Mau berapapun jumlah pedal kalau tidak ada keseimbangan apa manfaatnya?

Bagaimana dengan mereka yang megklaim naik pesawat? Jangan-jangan ini tipe orang yang mau gampangnya saja. Asal ada uang bisa menikmati fasilitas. Apakah pilot itu tidak membutuhkan “pedal” dalam bentuk lain? Justru pilot punya tanggung  jawab besar, sementara mereka yang sorak-sorai tidak memakai dua atau tiga pedal bisa enak-enakan tidur di kursi pesawat. Asumsi saya ini bisa jadi tidak benar, tetapi beberapa hal diantaranya bisa jadi bahan renungan.

Itulah wall of identity yang tercermin dalam mobil. Kadang saya juga heran, mau-maunya orang-orang yang punya mobil menjadi kepanjangan tangan promosi tertentu. Mungkin juga biar dianggap gagah. Atau menakut-nakuti, misalnya menempel stiker “TNI AD”, “Marinir”, “Keluarga AU” dan sebagainya. Stiker ini lebih pantas diartikan untuk menakut-nakuti. Kalau orang lain takut seolah dia senang. Artinya, ria dalam penderitaan orang lain.

Stiker-stiker sebagaimana tulisan yang sudah diceritakan di atas sebenarnya punya satu semangat dan pelajaran. Pelajarannya adalah pentingnya keseimbangan. Bagaimana hidup ini tanpa keseimbangan? Tentu akan aneh dan tidak sempurna. Keseimbangan ada kalanya tidak mengenakkan. Misalnya seseorang diganjar sakit. Bukankah sakit itu tidak kita harapkan? Namun, bukankah sakit itu juga pelajaran agar seseorang itu mengingat sehat? Inilah pentingnya keseimbangan itu.

Ada sehat, ada sakit. Baik-buruk, benar-salah, haram-halal,  baik-jahat, surga-neraka dan lain-lain yang sebenarnya untuk menciptakan keseimbangan. Kadang seseorang baru sadar pentingnya keseimbangan jika sesuatu sudah berjalan limbung atau tidak pada tempatnya. Orang menyadari pentingnya sehat saat sakit. Itulah manusia. Sementara keseimbangan itu sudah menjadi “kodrat” hidup.

Oposisi

Bagaimana dengan kekuasaan politik? Kekuasan politik juga butuh keseimbangan. Pemerintah tidak akan berjalan lebih baik manakala tak ada oposisi. Oposisi dalam demokrasi tetap dibutuhkan. Meskipun oposisi bagi penguasa tidak dibutuhkan atau tidak membuat tenang dan senang. Analoginya sama dengan sakit  di atas.  Jika demokrasi mau dinamis, opisisi harga mati.

Tentu oposisi itu penuh dinamika. Ada oposisi yang hanya asal beda. Ada oposisi loyal. Ada oposisi profesional. Apapun bentuknya, oposisi dibutuhkan. Ini jika kita mengaca pada tolok ukur demokrasi. Tentu oposisi merasa tidak dibutuhkan bagi mereka yang mendukung kemapanan atau kekuasaan politik. Memang, opisisi itu “menyakitkan” tetapi membuat tubuh “negara” menjadi lebih sehat. Oposisi akan merasa dibutuhkan jika negara berjalan di luar kendali karena kekuasaan absolut penguasa. Sama dengan tubuh manusia, sehat dianggap penting manakala datang sakit.

Sejarah politik di dunia ini sudah banyak contoh. Bagaimana seseorang dielu-elukan, tapi akhirnya justru membawa kehancuran? Maka, sejarah sebenarnya menjadi teladan bagi orang-orang yang berpikir maju. Pikiran kita sering masih sempit dan sektoral untuk kepentingan kelompok dan individu. Misalnya, lebih penting mana antara kepentingan negara dengan bendera parpol? Banyak orang lebih fokus pada benderanya.

Jadi, hidup ini membutuhkan keseimbangan. Sebenarnya tulisan dalam stiker “real men use three pedals” atau “classy men use two pedals” mengajarkan pada kita bahwa keseimbangan akselerasi mobil itu penting dan urgen. Tak bisa dibayangkan jika mobil tidak dijalankan dengan keseimbangan. Apalagi jika dikaitkan dengan negara, bukan?

Lupakan soal kekuasan politik dan oposisi. Kembali ke masalah pedal saja. Coba kita tanya enteng-entengan pada seorang perempuan.. Seorang perempuan jika melihat perdebatan soal penggunaan jumlah pedal biasanya akan berucap, “No matter you are using two, three pedals or anything. As long as you don’t like to hurt women, you are a real man”.

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi)

*Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penulis bisa disapa lewat Twitter/Instagram: nurudinwriter.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini