Ramadhan tak Pandang Bulu: Sepertiga Penuh Rahmat di Sabuk Injil

Perayaan Ramadhan di Amerika. (Foto: https://qz.com).
Iklan terakota

Terakota.ID–Ramadhan tahun 2010 itu seperti datang tanpa terdeteksi. Seolah-olah saya tiba-tiba bangun pagi dan mendapat telpon, “eh dua hari lagi sudah Ramadhan lho!” Semua ini berkat terlalu sibuknya saya pada liburan musim panas tahun itu di Fayetteville, Arkansas. Sudah dua tahun saya kuliah magister di sana. Saya ngotot ingin menyelesaikan tesis selama musim panas yang sepi di kampus dan mempersiapkan diri untuk ujian komprehensif yang menurut jadwal akan saya lakukan pada minggu terakhir sebelum pulang ke Indonesia. Itu semua membuat waktu terasa sangat cepat. Ramadhan itu adalah Ramadhan terakhir saya di Fayetteville, di negara bagian yang termasuk kawasan Sabuk Injil.

Sabuk Injil, atau Bible Belt, adalah sebutan untuk bagian Selatan Amerika Serikat yang komunitas penganut Kristennya besar dan taat. Di kawasan Sabuk Injil ini, kita bisa melihat banyak sekali gereja baik besar maupun kecil. Saking padatnya, pernah suatu kali, dalam perjalanan saya menyusuri kawasan pedesaan negara bagian Louisana, sebentar-sebentar saya melihat gereja, di pinggir sawah, di pinggir desa, di perempatan pusat kota. Bisa dibilang, kepadatan gereja di Louisiana itu mirip kepadatan musholla di Jombang. Mungkin karena melankolia saya yang akan meninggalkan Arkansas tepat pada hari kesepuluh bulan Ramadhan itu, atmosfer Arkansas sangat kuat saya rasakan.

Saya sadar sepenuhnya, Ramadhan tak pandang bulu. Bersama hadirnya, rahmat pun menyebar, tak peduli di mana pun kita, tak peduli siapa pun kita. Dan rahmat itu memang paling terasa selama sepertiga pertama bulan suci tahun 2010 itu, bahkan jauh di sana, di dalam ikatan Sabuk Injil.

Mencari Hilal di Sebelah Salib

Pada hari Senin, saya mendapat telpon dari Bang Tedy (bukan nama sebenarnya) bahwa dia dan seorang brother dari masjid akan melakukan rukyat dari Mount Sequoiyah, di sekitar patung Salib. Dia ajak saya ikut bersamanya. Pastinya saya setuju. Lagipula, ini bisa jadi sekadar jeda yang menyegarkan dari kesibukan monoton membaca buku-buku sastra untuk ujian komprehensif yang kian dekat itu.

Pada sekitar jam 19.30 waktu Amerika Bagian Tengah, Bang Tedy menjemput saya di kampus dan mengajaknya ke rumahnya dulu. Katanya ada seorang brother yang akan menjemputnya akan berangkat ke Mount Sequoiyah memakai mobil si brother. Karena saat itu adalah puncak musim panas, maka matahari di tempat kami tenggelam sekitar pukul 20.15.

Selama setengah jam menunggu di rumahnya, Bang Tedy mengajak saya makan sayap ayam yang disajikan dengan bumbu saus Buffalo Wing yang terasa pedas dan masam. Ah, saya gemar sekali saus Buffalo Wing. Pertama kali mendengar nama saus itu, saya senyum-senyum sendiri: “Kayaknya cuma di Amerika kerbau punya sayap.” Belakangan saya ketahui bahwa ternyata resep saus itu adalah resep khas dari kota Buffalo di negara bagian New York sana. Saya, Bang Tedy, dan istri bang Tedy makan sambil ngobrol. Sesekali saya juga mengajak ngobrol si Yahya, anak bang Tedy yang waktu itu masih duduk di baby walker sambil tertawa-tawa melihat saya

Tak lama setelah saya selesai makan, brother yang ditunggu-tunggu pun datang. Ternyata brother Inam, seorang lelaki berjenggot besar asal Srilanka. Di belakang terlihat si Yusuf, anak brother Inam yang usianya kira-kira 5 tahun. Hanya mereka berdua di mobil itu, tapi menurut hukum lalu lintas si Yusuf masih belum boleh duduk di kursi depan.

Saya dan Bang Tedy segera pamit ke istri bang Tedy dan kemudian melompat masuk ke sedan brother Inam. Saya duduk di kursi belakang bersama si Yusuf. Dan mobil pun meluncur menjelang datangnya senja dan udara musim panas yang tak kunjung sejuk sesore ini. Jendela mobil dibuka, tapi yang terasa bukanlah sejuknya angin, tapi panasnya hawa yang menampar pipi.

Begitu sampai di kawasan Mount Sequoiyah, sudah ada beberapa mobil terparkir di sekitar Salib besar, beberapa sedan dan satu truk. Sepertinya mereka datang ke mari hanya untuk menikmati senja nantinya akan terlihat cerah di Ozark di barat sana. Brother Inam harus memarkir mobilnya di pinggir jalan sekitar beberapa puluh meter dari tempat parkir Salib. Bang Tedy mengeluarkan binokular dan mencari posisi terbaik untuk memindai senja.

Ternyata posisi terbaik adalah di atas pagar batu yang mengitari Pusat Konferensi dan Retreat milik Gereja Metodis Serikat. Matahari masih setinggi tonggak di atas cakrawala barat, dan sinarnya berangsur-angsur sendu. Bang Tedy mulai meneropong sekitar matahari dan mencari-cari bakal lokasi terlihatnya hilal nanti, jika memang terlihat.

Katanya, jika besok benar-benar tanggal satu ramadhan, segaris bulan pucat akan terlihat di sebelah kanan sedikit lebih  tinggi dari matahari. Matahari tergelincir dengan lancar ke garis cakrawala, tapi segaris bulan yang kami tunggu-tunggu pun tak kunjung muncul. Saya ikut meneropong beberapa saat. Bukannya melihat bulan sabit pucat, saya hanya melihat garis putih yang ditinggalkan pesawat bermesin jet.

Salib Raksasa di Mount Sequoyah di saat senja (Foto: Brazenimages/ Canva)

Setelah matahari sudah benar-benar angslup dan bulan yang ditunggu belum terlihat, akhirnya Bang Tedy menelpon brother Ali, seorang kawan dari masjid yang asal usulnya sangat unik menurut saya: dia adalah orang Amerika keturunan Indian dari Arizona yang diadopsi oleh orang India dari Asia Selatan. Puitis, kan? Mahasiswa doktoral bidang hukum Islam itu sedang ada urusan di Arizona. Bang Tedy ingin tahu bagaimana hasil penerawangan dari sana. Ternyata brother Ali masih belum mendengar hasil tentang itu. Sementara itu, sejak mulai redupnya sore tadi sudah ada beberapa orang lagi yang datang ke kawasan Salib raksasa itu.

Ada beberapa gadis muda yang naik ke pedestal Salib yang sudah dinyalakan itu dan berpose layaknya fotomodel berlatarkan Salib terang. Di depan truk yang diparkir sepasang lelaki perempuan yang duduk bercengkerama menyaksikan turunnya senja setapak demi setapak. Saya tak henti-hentinya teringat pak Seno Gumira Ajidarma.

Kalau beliau bersama saya sore itu, pasti dua tiga minggu kemudian akan muncul cerpen senja baru yang judulnya mungkin tak jauh-jauh dari Salib, Senja, Ramadhan, Cinta, dan semacamnya. Waktu menunjukkan setengah sembilan, sekitar lima belasan menit setelah matahari terbenam, dan kami pun pulang, sambil di mobil ngobrol tentang Ramadhan kami yang pada hari-hari pertamanya nanti kami harus berbuka sekitar pukul 8.15-an.

Belakangan ketahuan bahwa sebenarnya hari itu masih tanggal 28 bulan Sya’ban, sehingga sudah jelas besoknya masih belum puasa dan bulan tidak akan terlihat. Baru keesokan harinya lah sebenarnya kami akan bisa melihat hilal, jika memang memungkinkan. Tapi, bagi saya pengalaman sore itu tetap unik: mencari hilal di naungan Salib besar.

Keesokan harinya Bang Tedy berencana datang lagi ke Salib, tapi karena saya merasa nanggung meninggalkan bacaan yang sedikit lagi akan saya selesaikan itu, saya pun memutuskan tidak ikut. Saya hanya datang ke masjid pada jam Isya demi mengantisipasi keputusan mulainya Ramadhan. Setelah sholat Isya, para brother menelpon sana sini, menanyakan teman di Islamic center ini dan itu, dan mengecek website ini dan itu, dan akhirnya memutuskan bahwa kami akan mulai berpuasa pada hari Rabu, dan malam itu kami akan mulai sholat tarawih.

Diskusi Interfaith Insidental

Seperti saya sampaikan sebelumnya, puasa kami tahun ini turun di puncak musim panas. Mulai sekitar seminggu sebelum ramadhan saya seolah mencium bau sangit, bau bakaran, saat sedang bersepeda di jalan raya. Tentu itu bukan mau orang berpesta barbeque, yang merupakan kegiatan kegemaran orang-orang Araknsas di musim panas. Saya kenal betul aroma daging bakar.

Dan bau sangit di puncak musim panas tersebut bukan aroma daging. Spekulasi saya, itu adalah bau ban mobil yang “terbakar” panasnya aspal. Sementara itu, di internet saya baca tentang beberapa ulama yang mengingatkan bahwa Ramadhan tahun ini spesial bagi Muslim di Amerika Utara dan Eropa, karena panasnya dan panjangnya waktu siang hari, dan si mullah juga mengingatkan bahwa jika memang puasa ketika sedang panas-panasnya dirasa membahayakan, kita boleh membatalkan puasa dan menggantinya pada hari lain.

Bagi saya, terlepas dari “kengerian” Ramadhan di puncak musim panas, ada banyak sisi menyenangkan dari ramadhan tahun itu. Memang ngeri juga rasanya kalau ingat betapa panas suhu hari-hari itu. Dengan sengaja saya kurangi porsi bersepeda—padahal sepeda adalah sarana transportasi utama saya. Jika pada hari-hari biasa saya selalu ngotot menggowes sepeda di dua tanjakan dalam perjalanan saya ke kampus, untuk awal-awal Ramadhan ini saya memutuskan hanya menggowes sepeda di satu tanjakan, dan di tanjakan satunya lagi saya tuntun saja sepeda. Itu semua demi menghemat cadangan air di tubuh (pelit banget ya?).

Meski begitu, saya merasa jadi lebih bisa fokus membaca. Hari-hari itu saya sedang suka membaca di perpustakaan atau food court gedung Student Union. Biasanya, kalau waktu sudah menunjukkan pukul 4 dan saya belum makan, saya mulai resah dan segera pingin pulang dan makan. Masalahnya bukan makannya sih: kalau sudah pulang dan makan, sulit rasanya kembali ke kampus dalam waktu singkat.

Pasti ada saja yang menghalangi saya balik ke kampus: malas lah, pingin tidur sebentar lah, nonton film ini lah, itu lah, bla-bla-bla. Di bulan Ramadhan, sebaliknya, saya jadi tenang karena tidak harus mikir tentang makan. Saya tinggal berangkat agak siang ke kampus dan tetap di sana sampai waktu maghrib tiba, dan kemudian pergi ke masjid untuk menikmati buka gratis. Membaca jadi lebih konsentrasi karena tidak terlalu banyak interupsi. Dan, oh ya, saya juga bisa membawa pulang makanan dari masjid setelah tarawih, sehingga besoknya saya juga tidak perlu memasak sahur.

Hari-hari pertama puasa saya sangat menyenangkan. Saya bisa maksimal membaca dan waktu terasa berjalan sangat cepat. Di luaran sana suasana sangat ceria, ada teriakan-teriakan para mahasiswa baru yang sedang mengikuti orientasi, ada orang tua mahasiswa yang sedang mengantarkan anak-anaknya dan melihat-lihat kampus tempat anaknya akan menghabiskan hari-hari mereka jauh dari orang tua, ada juga tupai-tupai yang berlarian ke sana ke mari menikmati keceriaan musim panas.

Saya melihat mereka pada pagi harinya ketika baru datang ke kampus. Setelah itu saya langsung mojok di perpustakaan sampai pukul enam, ketika waktunya perpustakaan ditutup. Saat itu adalah minggu setelah semester musim panas selesai dan semester musim gugur belum dimulai, sehingga perpustakaan hanya buka setengah hari, tutup jam 6 sore. Saya pindah ke gedung student Student Union dan mencari tempat yang nyaman untuk baca. Student Union adalah gedung yang isinya berbagai macam, mulai dari ruang baca yang besar, kafe, toko makanan ringan, food court, kantor-kantor organisasi mahasiswa, dan kantor-kantor lain yang berhubungan dengan mahasiswa.

Student Union sedang sepi. (Foto: Wawan Eko Yulianto).

Di salah satu hari awal Ramadhan itu saya melanjutkan membaca di lobi Student Union. Ada beberapa mahasiswa yang baru selesai dengan agenda orientasi mereka dan sedang menunggu acara selanjutnya dari orientasi mereka. sekitar lima belas menit sebelum pukul 8 ada seorang mahasiswa mendekati saya dan mengajak ngobrol. Awalnya saya pikir dia termasuk mahasiswa tingkat 2 atau 3 yang menjadi panitia orientasi. Ternyata bukan.

Dia sudah tingkat 4 dan sedang mengambil kuliah-kuliah terakhirnya. Tak lama setelah mulai mengajak ngobrol, dia bilang bahwa dulu dia pernah tinggal di fraternity, yaitu semacam asrama mahasiswa putra yang biasanya dikelola sendiri oleh para mahasiswa—kesan umum dari fraternity adalah asrama tempat anak-anak yang suka berpesta, padahal mereka juga secara rutin melakukan kegiatan sosial, yang konon merupakan agenda formal dari fraternity.

Tapi sekarang dia tidak lagi tinggal di fraternity, dan tidak lagi suka berpesta. “Sampean tahu kenapa saya berubah?” tanyanya retoris. Saya tidak tahu, tentu saja. Dan dia menjawab “Karena saya menemukan Tuhan.” Dia ceritakan bahwa dia menemukan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk penuh dosa dan bahwa Yesus telah mengorbankan darahnya demi menghapus dosa manusia. Dan dengan kesadaran tersebut, dia pun mencurahkan lebih banyak perhatian untuk spiritualitas dan mengajak teman-temannya ikut ke gereja.

Dia tanya saya “Sampean ke Gereja, nggak” Tentu saja saya bilang, “Saya Muslim.” Saya sangat menghargai dia yang dengan sopan menanyakan kepada saya tentang hal-hal yang kira-kira merupakan kesamaan antara Islam dan Kristen, tentang posisi Yesus, kenabian Muhammad, dan konsep Tauhid dan pendapat saya mengenai Trinitas. Dia juga menceritakan kepada saya hal-hal yang membuatnya jadi tertarik ke spiritualitas. Sayang, sebelum panjang diskusi kami waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih sedikit, yang mana artinya saya harus cepat-cepat ke masjid kalau tidak ingin telat takjil dan buka.

Jamuan Perpisahan

Pada hari ketiga dan keenam Ramadhan, saya mengerjakan ujian komprehensif. Setelahnya, saya relatif hanya perlu bersih-bersih dan menyelesaikan hal-hal yang berhubungan dengan kepulangan saya ke Indonesia. Salah satu yang paling penting adalah urusan pamit ke teman-teman. Salah satu teman yang saya kunjungi tepat sehari setelah saya menyelesiakan ujian saya itu adalah pasangan Pak dan Bu Edwards. Saya mengenal mereka dari acara “Makan Malam Bersama Keluarga Amerika” yang saya ikuti dua tahun sebelumnya pada masa orientasi saya sebagai mahasiswa asing di Amerika Serikat. Pasangan Edwards mengundang saya dan beberapa teman yang berasal dari Trinidad, India, dan Eritrea yang saya tuliskan di sini.

Sejak itu, kami tetap menjalin hubungan, meskipun saya terbilang sangat jarang berkunjung. Cuma dua atau tiga kali setelah makan malam itu saya datang ke rumah mereka sekadar makan siang atau melihat-lihat kebun yang mereka rawat. Terakhir waktu ketemu dengan Bu Edwards di perpustakaan, dia mengundang saya untuk ke rumahnya setelah ujian saya selesai dan sebelum saya saya pulang ke Nuswantara tercinta. Setelah saya menyatakan siap datang, dalam message Facebook terakhir dia menanyakan kepada saya waktu buka puasa dan dia mengundang saya tepat pada jam itu.

Untuk datang ke rumah pasangan Edwards yang berjarak sekitar 10 menit dari tempat saya itu, saya pinjam mobil Syekh, seorang kawan mahasiswa asal Aceh. Seperti biasa, begitu datang pak Edwards menyambut kami dengan keramahannya yang luar bisa. Dia mempersilakan saya duduk di ruang tamu sambil menunggu waktu maghrib. Kami berbicara tentang kabar keluarga saya di Indonesia dan dia menceritakan beberapa kisah keluarga, kisah cintanya dengan bu Edwards dan kisah tentang ibunya yang meninggal di rumah tersebut bertahun-tahun sebelumnya. Pak Edwards adalah seorang Kristen yang sangat alim, meskipun dia mengaku tidak membatasi diri ke satu gereja.

Dalam perbincangan sore itu, saya membatin bahwa sikap relijiusnya mirip sikap orang Islam kepada masjid, yang bebas masuk masjid mana saja karena masjid tidak mengikat keanggotaan seseorang. Ternyata pada saat itu dia juga cerita bahwa dia pernah berkawan baik, meskipun hanya setengah tahun, dengan seorang muslimah yang bekerja di lab komputer yang dia kepalai. Setelah banyak berbincang tentang keyakinan spiritual masing-masing, si muslimah bilang bahwa Pak Edwards ini bisa dibilang Muslim. Ternyata bukan saya saja yang berpandangan seperti itu.

Ketika dirasa waktu maghrib sudah tiba, Bu Edwards mempersilakan saya untuk sholat di kamar ujung. Waktu pertama kali saya datang dulu, Pak Edwards memperkenalkan kamar itu sebagai kamar mendiang ibunya. Masih ada boneka-boneka milik ibunya di kamar tersebut, dan di pintunya terpajang tulisan semacam “Kami akan selalu merindukanmu, Bu.”

Kini kamar tersebut masih tetap rapi dan kini ada satu meja yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, sebuah meja panjang yang di atasnya terdapat toples-toples berisi acar mentimun dan salsa. Salsa adalah semacam saus ala Meksiko yang merupakan campuran dari tomat, bawang bombai, jalapenos, cabe dan sejenisnya. Salsa ini adalah teman paling mantap untuk makan kripik jagung. Semua ini hasil dari kebun mereka sendiri yang tak begitu besar tapi sangat produktif di musim semi dan musim panas. Pak Edwards bilang bahwa kamar ini tetap kosong, dan dia mempersilakan saya menginap di sini bila kelak saya berkesempatan kembali ke Arkansas bersama istri saya dan membutuhkan akomodasi untuk hari-hari pertama kami di sana.

Soto Kejutan

Waktu sampai di meja makan, saya dibikin kaget oleh Bu Edwards ketika dia memberikan secarik kertas kepada saya. Isinya adalah RESEP SOTO MADURA!!! Ternyata hari itu dia membuat soto madura khusus untuk membuat saya semakin pingin cepat pulang. Dia tidak tahu sama sekali bagaimana tampilan soto madura itu yang sebenarnya. Yang pasti, dia hanya mengikuti semua instruksi resep yang dia download dari internet itu, dan dia juga memodifikasi bahan-bahan yang tidak dia punyai sehingga menghasilkan soto yang bisa dibilang inovatif.

Ayamnya dia suwir-suwir dan kuahnya tidak terlalu banyak. Sepertinya dia tidak tahu yang namanya kunir dan daun sereh—kalau pun tahu, sepertinya dia tidak tahu di mana harus membelinya. Tapi tetap saja soto tersebut dahsyat. Dan alih-alih nasi, dia menyajikan soto tersebut dengan kentang tumbuk dipanggang—seperti Anda sekalian tahu, kentang tumbuk adalah karbohidrat yang lebih akrab buat orang-orang Amerika Serikat. Jadi benar-benar benturan peradaban di sana.

Sambil makan, Pak Edwards sekali lagi menyampaikan keheranannya melihat saya yang bisa-bisanya tinggal dua tahun jauh dari keluarga—dia mengaku, selama menikah dengan istrinya itu, dia hanya pernah tidur kurang dari 6 malam (secara keseluruhan) jauh dari istrinya, dan itu pun sangat menyiksa buat dia. Saya jadi tambah tidak sabar untuk segera naik pesawat dan turun di Juanda.

Perbincangan kami di meja makan diakhiri dengan perbincangan tentang bagaimana dia akhirnya harus mengikhlaskan anjing kesayangannya beberapa waktu sebelumnya. Anjing yang sangat setia dan sudah bertahun-tahun tinggal bersamanya itu akhirnya harus disuntik mati karena sudah terlalu tua dan seperti sangat tersiksa dengan usia tuanya itu. Saya pamit pulang sekitar 15 menit sebelum adzan Isya, sehingga saya masih sempat menjemput Syekh dan berangkat ke masjid bersama-sama.

Buka Bersama Terakhir

Hari terakhir saya puasa di Fayetteville jatuh pada hari Kamis. Seharian itu saya di rumah membersihkan kamar sebelum saya tinggalkan. Kamar yang saya tinggalkan tersebut akan segera ditempati seoarang kawan mahasiswa asal Indonesia, dan saya bertanggung jawab membersihkan semuanya hingga benar-benar bersih sebelum meninggalkannya. Sudah mulai beberapa hari sebelumnya saya bersihkan laci-laci dan lemari-lemari. Seharian itu tugas saya adalah memotret lembaran-lembaran catatan kuliah dan lembar-lembar terjemahan saya yang berisi komentar dari teman-teman sekelas.

Sebenarnya sih saya ingin membawanya pulang, tapi sayang kalau harus memberati koper saya dengan kertas-kertas itu. Akhirnya saya potreti satu persatu kertas-kertas itu. Saya meminta bantuan kawan seapartemen saya, seorang mahasiswa asal Bangladesh yang baru datang dan menikah di negerinya sana. Hari-hari itu dia masih capek dan malas-malasan, tapi khusus hari itu dia ikhlas bercapek-capek memotret kertas-kertas saya tersebut. Hingga sore hari, urusan bersih-bersih belum juga selesai, padahal sore harinya saya harus ke kampus untuk memfotokopi beberapa buku untuk seseorang di Malang. Baru sekitar pukul tiga sore saya bisa ke kampus dan memfotokopi buku-buku yang saya butuhkan itu. Selain itu, saya juga perlu menggunakan komputer di Student Union.

Ketika baru memasuki lab komputer di Student Union, saya melihat seorang kawan, sebut saja namanya Matt. Saya kenal Matt pada suatu malam di tengah liburan pendek musim semi ketika saya sedang nongkrong di Student Union. Saat itu Matt baru pulang dari gereja bersama kawannya. Dia adalah jamaah di sebuah gereja yang sembayangnya pakai adegan sujud juga. Di malam perkenalan itu, dia dan kawannya mengaku baru saja mengalami mu’jizat. Kawannya merasa tiba-tiba saja ada yang mendorongnya untuk memasuki gedung perpustakaan yang sedang tutup. Ternyata betul juga, mereka dapat masuk ke gedung perpustakaan yang mestinya sudah tutup itu dan di dalamnya dia ketemu seorang petugas kebersihan yang mengaku kelupaan mengunci pintu.

Setelah menceritakan apa yang dia sebut mukjizat itu, dia mengambil kesempatan untuk menunjukkan kepada saya tentang bagian-bagian Perjanjian Lama yang meramalkan tentang apa yang akan terjadi kepada Yesus dan dikonfirmasi oleh bagian-bagian di Perjanjian Baru yang redaksionalnya agak mirip meskipun penulisannya terpaut ratusan tahun. Waktu tahu bahwa saya seorang Muslim dan masih mau mendengarkan “ceramah”nya itu, dia jadi heran, karena beberapa hari sebelumnya dia bertamu ke rumah tetangganya yang Muslim dengan tujuan ingin ceramah juga. Dia mendapat penolakan mentah-mentah yang, baginya, terasa arogan dari si Muslim—dia bilang Muslim itu berasal dari negara (SENSOR).

Saya sendiri tidak tahu kenapa saya mau mendengar ceramahnya, tapi sekadar iseng-iseng saya bilang mungkin karena saya Muslim Indonesia yang sedikit banyak pasti punya teman-teman Kristen atau beragama lain di sana. Sehari setelah pertemuan pertama kami itu, kami ketemu lagi di tempat dan waktu yang sama. Di pertemuan kedua itu, ganti saya yang mengambil kesempatan untuk menceritakan sejumlah hal pokok tentang Islam, sepengetahuan saya, yang cenderung disalahpahami oleh non Muslim atau bahkan sebagian orang Islam sendiri. Kawan si Matt hapal di luar kepala tentang nomer ayat dan nomer surat Alqur’an yang kontroversial. Saya menjelaskan setahu saya tentang konteks surat itu yang kebetulan karena satu dan lain hal baru saja saya baca beberapa waktu sebelumnya.

Kembali ke pertemuan saya dengan Matt di hari terakhir saya di Arkansas itu, dia sedang sibuk mengerjakan sebuah laporan. Kami ngobrol sebentar sekedar bertegur sapa. Beberapa hari sebelumnya saya juga bertemu dan ngobrol sedikit. Dia mengucapkan selamat berpuasa dan saya ajak dia ke masjid kalau ingin lihat orang buka bersama atau sekedar ingin makan gratis. Kebetulan juga dia kenal akrab dengan seorang gadis Indonesia yang juga menawarkan agar dia mampir ke masjid kalau sedang longgar.

Pada saat saya bertemu dia sore itu, saya teringat bahwa hari itu teman-teman Indonesia sedang mempersiapkan sebagian buka dan pencuci mulut. Saya beritahu saja dia agar ikut datang ke masjid pas maghrib jam 8 nanti. Sebenarnya ada yang ganjil dengan undangan itu. Memang yang menyediakan buka saat itu adalah orang-orang Indonesia. Tapi karena saya sedang sibuk ini itu sebelum pulang, saya tidak ikut bersibuk-sibuk menyiapkan makanannya. Setelah kelar urusan kampus saya pulang lagi dan melanjutkan bersih-bersih rumah baru berangkat sekitar 5 menit sebelum pukul 8 bersama teman seapartemen saya.

Mereka yang Puasa Dijaga Masjid ICNWA

Masjid kami, meskipun sering disebut sebagai Masjid Hamzah, memiliki nama resmi Islamic Center of Northwest Arkansas. Masjid ini pembangunannya banyak disokong oleh seorang kontraktor dan pemilik bisnis properti asal Palestina yang pada tahun 2010 itu sudah hampir tiga puluh tahun tinggal di Amerika Serikat. Sebelumnya, Masjid itu adalah satu-satunya masjid di kawasan Arkansas Barat Daya, sebuah kawasan yang mencakup beberapa County.

Muslim dari kawasan berjarak sekitar satu jam dari tempat kami biasanya datang ke masjid ini untuk sholat Jumat. Tapi “pelanggan” terbesar masjid kami adalah mahasiswa Universitas Arkansas, Fayetteville. Masjid ini sendiri berlokasi di tepi kampus, tepat di seberang lapangan atletik kampus dan terpaut satu rumah dari kantor polisi universitas. Tapi tentu saja banyak juga anggota jamaah masjid kami ini yang bukan mahasiswa. Pada awal tahun 2010 itu, sebuah masjid lagi didirikan di kota Bentonville, juga di wilayah Arkansas Barat Daya, yang kebetulan banyak pekerja dari Asia Selatan.

Karena banyaknya anggota jamaah yang masih kuliah itu, para jamaah berinisiatif menyediakan takjil dan buka di masjid setiap hari selama Ramadhan. Saya tidak tahu kapan tradisi ini dimulai, tapi yang pasti, sejak dua tahun sebelumnya, ketika pertama kali saya berpuasa di Araknsas, masjid kami sudah menyediakan takjil dan buka selama Ramadhan. Biasanya pengurus masjid sudah mengumumkan sejak dua tiga bulan sebelumnya bahwa masjid akan menyediakan takjil dan buka setiap hari di bulan Ramadhan dan untuk itu mengundang para jamaah yang ingin menyumbang entah berupa dolar, bahan makanan, ataupun sokongan penuh untuk makan satu malam.

Tradisi ini benar-benar terbukti menguntungkan para mahasiswa, terutama saya sendiri. Seperti saya bilang sebelumnya, saya datang ke masjid untuk buka dan tarawih dan kemudian saya pulang sambil membawa makanan untuk sahur keesokan harinya. Kurang dimudahkan apa coba? Sore itu, saat tiba di masjid, Syekh meneriaki saya agar membantunya mengeluarkan makanan yang dia bawa dari rumah Bang Tedy yang kebagian tugas membuat pencuci mulut.

Ketika sampai di bagian dalam masjid, sudah tergelar dua baris taplak plastik panjang di atas terpal biru di bagian kanan kanan ruang utama masjid. Di atas taplak itu sudah terlihat botol-botol soda dan jus buah serta mangkuk-mangkuk styrofoam kecil berisi kurma dan penganan ringan yang ditata secara teratur. Sudah ada pula brother-brother yang siap duduk berbaris di sekitar taplak itu, sebagian sudah memegang gelas plastik dan sebagian lagi masih santai ngobrol sambil sesekali melirik kurma. Keamerikaan terpancar jelas di situ: gelas plastik sekali pakai, mangkuk styrofoam sekali pakai, taplak plastik sekali pakai, dan tentu saja Coca-cola dan para sanak kadangnya sesama soda.

Tidak ada suara beduk di sini. Hanya ada seorang brother yang tak lama kemudian dengan sukarela melantunkan adzan, dan kami pun buru-buru mengakhiri haus dahaga hari itu dengan apa yang tersedia di depan mata: jus buah, korma, soda, cookies choco chips. Saya sering becanda dengan teman-teman, di negara Amerika Serikat ini, tradisi yang dianjurkan sedikit berubah: yang dianjurkan adalah meminum secangkir Coca-cola dan tiga butir kurma (atau secangkir Sprite dan tiga potong cookies choco chips khas Amerika Serikat, tergantung mana yang ada). Saya celingukan mencari-cari apa kira-kira si Matt akan datang. Sampai waktu sholat jamaah maghrib tiba, dia belum juga terlihat muncul.

Begitu selesai sholat, kami mulai berdiri mengantri di dinding sisi belakang masjid di mana sudah tertata beberapa meja panjang dengan baki-baki aluminium (lagi-lagi baki sekali pakai) berisi makanan buka puasa kami. Menu yang paling sering disajikan adalah nasi biryani dengan segala variasinya, kari ayam atau kambing gaya Arab atau mediterania, salad sayur dan makaroni. Sesekali ada pizza atau roti pita beserta hummus-nya. Baru pada saat itu saya lihat si Matt datang dengan celana pendek selutut dan wajah berkeringat. Ternyata dia bersepeda dari kampus ke masjid kami itu. Saya langsung persilakan dia mengambil nasi dan lauk-pauk yang sebagian dibikin oleh kawan-kawan Indonesia.

Kemudian datanglah saat-saat paling menyenangkan di kala Ramadhan di tempat kami. Duduk berbaris mengelilingi taplak plastik yang tergelar di atas terpal, sambil makan dan berbincang-bincang. Di situlah terdengar berbagai bahasa: Urdu atau Bangla oleh para brother dari Asia Selatan, bahasa Arab untuk orang-orang Timur Tengah, bahasa Indonesia dan Melayu buat kawan-kawan dari Indonesia dan Malaysia, dan bahasa Inggris buat anak-anak Imigran yang besar di Amerika atau di antara orang-orang dari negara-negara yang berbeda. Pembicaraan biasanya berkisar tentang update kabar atau ada juga yang mendiskusikan topik-topik serius (paling tidak itulah yang bisa saya tangkap dari orang-orang yang berbicara dalam bahasa Inggris dan Indonesia).

Sore itu saya berbincang-bincang dengan kawan-kawan Indonesia, membahas makanan dan minuman buka puasa asli Indonesia yang akan dapat saya nikmati dalam beberapa hari ke depan saat saya sudah di Indonesia. Saya juga ngobrol dengan teman-teman yang jauh lebih muda, anak-anak imigran asal Bangladesh dan Arab yang besar di Amerika. Obrolan juga tak jauh-jauh dari topik kepulangan saya ke tanah air.

Para brother selalu curiga bahwa kalau yang memasak orang Indonesia (dan Pakistan atau Bangladesh) pasti makanannya sangat pedas. Tapi kali itu mereka cukup senang karena setelah belajar dari pengalaman, teman-teman Indonesia tidak berani masak yang pedas-pedas. Sebagai gantinya ada satu piring khusus sambal pedas yang dibuat dari cocolan cabe merek “Sambal Oleg” yang bisa dibeli di swalayan pada umumnya. Sambal itu khusus diberikan kepada yang gemar pedas (biasanya orang-orang Indonesia sendiri).

Satu hal yang tak pernah absen dari acara buka ini adalah satu meja bundar di dekat pintu, di dekat colokan listrik. Di situ terdapat satu dispenser teh yang tak pernah absen menyajikan teh arab. Yang saya sebut teh Arab ini adalah teh hitam yang diberi daun mint atau sage. Dan super panas. Saking panasnya, teh ini akan cocok dituangkan ke cangkir sekarang dan baru diminum besoknya setelah dingin. Sebelum Isya saya bertemu teman-teman perempuan Indonesia yang sesorean tadi sudah capek-capek memasak. Ada juga Mbak Tutik di situ, seorang perempuan Indonesia bersuamikan pria Amerika yang sangat “ngemong” kami. Saya berpamitan kepada mereka semua.

Foto habis tarawih sebelum besoknya meninggalkan Fayetteville. (Foto: Wawan Eko Yulianto).

Malam itu, setelah tarawih, saya tidak mengambil sekotak nasi untuk sahur besoknya. Saya sudah merencanakan untuk tidak puasa besoknya karena saya akan menempuh perjalanan pesawat ke Chicago selama satu setengah jam dan dari Chicago saya akan terbang ke Tokyo selama 12 jam. Karena perjalanan ke Tokyo itu nanti ke arah barat, maka tidak akan ada waktu malam di pesawat saya nanti—tapi hari akan berganti setelah melewati batas tanggal nasional di Samudera Pasifik. Jadi ya daripada bingung (dan karena memang ada kemudahan sebagai musafir), saya memilih untuk tidak berpuasa sejak meninggalkan Fayetteville.

Hari keberangkatan saya itu adalah hari kesepuluh Ramadhan, Agustus 2010, hari terakhir dari sepertiga Ramadhan yang disebut penuh rahmat. Maka berakhirlah partisi penuh rahmat untuk Ramadhan kali ini. Seperti halnya datangnya yang tak terdeteksi, kepergian bagian penuh rahmat ini juga tidak terdeteksi. Saya hanya bersyukur bahwa selama sepertiga pertama ini saya mendapat banyak kemudahan untuk menyelesaikan hal-hal paling penting yang harus saya selesaikan dan mendapatkan kesan yang kuat dari Ramadhan di kawasan Sabuk Injil ini. Ramadhan tak pandang bulu, memberikan rahmat dan hikmah dalam berbagai wujudnya.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini