Raibnya Tradisi Lumbung dan Lesung

Oleh: M. Dwi Cahyono*

Raibnya Lesung

Terakota.id–Demi mendengar berita santer belakangan ini perihal melambungnya harga beras di berbagai daerah pada penjuru Indonesia, segera mengingatkan kepada dua tembang (lagu) Jawa yang dicipta oleh almarhum Ki Nartosabdo. Keduanya berkenaan dengan pertanian di Jawa. Tembang berjudul ‘Lesung Jumlenggung’ mengilustrasikan tentang riuh-rendah bunyi perangkat tumbuk berbahan kayu (lesung, lumpang kayu) yang bertalu terkena hentakkan batang kayu silindris atau bisa juga batang bambu (alu) manakala penumbukan gabah (padi) berlangsung.

Bunyinya mengumandang, memenuhi ruang hidup pada areal pedesaan. Demikianlah kutipan syair lagunya:

Lesung jumengglung, sru imbal-imbalan
Lesung jumengglung, maneter mangungkung
Ngumandhang ngebeki sak jroning pradesan

Thok thok thek, thok thok gung
Thok thok thek, thok thek thok gung
Thok thok thek, thok thok gung
thok thok thek, thok thek thok gung.

Perangkat penumbuk padi, baik yang berupa lumpang kayu (stone morta) maupun lumbang kayu berlubang tumbuk bulat sebuah atau berlubang tumbuk persegi panjang (lesung) dulu merupakan perangkat pertanian pasca panen yang hampir selalu ada di setiap rumah petani, Sejak dua hingga tiga dasawarsa lalu keberadaannya berangsur-angsur mengalami ketiadaan tergantikan fungsinya oleh mesin selep.

Bahkan, kini mesin selep tak hanya portable (terletak menetap) di suatu tempat (selepan), namun bergerak (mobile) menjemput pekerjaan giling padi dari rumah ke rumah. Kini bunyi ‘thok thok thek, thij thok gung’ dari lesung dan lampang berbagiti dengan ‘hiruk huruk ….’ Dari mesin selep.

Lumpang batu, kalaupun masih ada di lingkungan rumah tinggil, kini statusnya telah ‘pensiun’ dari perangkat timbuk padi. Posisinya tidak tengadah, dengan lobang menganga ke aeah atas, melainkan telah ‘diparkir’ dalam posisi tertelungkup, tak terawat dan diabaikan di pekarangan rumah.

Tak sedikit lumpang dan lesung yang mengalami reposisi dari rumah-rumah tinggal ke kolektor barang antik atau naik kelas menjadi benda antik penghias taman, hotel atau restoran. Bunyi lesung, kalupun masih diperdengarkan, tinggal menjadi bunyi musik dalam pertujukkan music tradisi, itupun telah jarang ada.

Lumpang batu dari bongkah batu andesit tanpa diumpam (nonfacial), dengan lubang tumbuknya sebuah atau lebih, telah hadir di Nusantara semenjak Masa Bercocok Tanam, berlanjut ke Masa Perundagian di Zaman Prasejarah dalam konnteks budaya Megaltik. Wujudnya mengalami penyempurnaan ketika memasuki Masa Hindu-Buddha, dengan menatah sebongkah batu andesit dengan bentuk bundar ataupun persegi mengembang ke arah atas dengan permukaan atas rata. Selain batu andesit, kayu keras pun juga dipergunakan sebagai bahan pembuat lumpang dan lesung.

Baca juga :  Menyuarakan Keberagaman Melalui Macapat

Pada Masa Perkembangan Islam dan Masa Kolonial, tidak jarang diding dan permukaan atas dari lumpang batu dan lumpang lesung kayu diumpan halus (facial). Bahkan, pada Masa Kemerdekaan RI muncul lumpang besi, yang berukuran lebih kecil untuk memvariasikan lumpang batu atau keyu kecil dari masa sebelumnya. Kini ragam lumpang dan lesung batu atau kayu itu telah banyak di dapur-dapur keluarga.

Kalaupun masih ada, hanya keluarga tertentu yang memilikiya, dan dipergunakan pada saat tertentu untuk keperluan tertentu pula. Mesin giling, selep maupun blender mengambil alih fungsnya.

Raibnya Lumbung

 

Lesung kuno di Kampung Adat Cikondang, Pangalengan, Kabupaten Bandung pada ‘West Java Heritage Ekspedition BPKSNT 2014, dari 2 hingga 4 Juni 2014. (Foto : Repubika).

Lenyapnya lumpang batu atau lumpang dan lesung kayu tersebut bukan semata karena hadirnya teknologi giling berupa mesin selep, namun juga dilatari oleh ketiadaan tempat penimbunan atau penyimpanan padi, yang dinamai ‘lumbung;. Baik lumbung yang berbentuk semacam bangunan rumah kecil berpanggung dan berdinding miring – mengembang ke arah atas – ataupun berwujud wadah dari anyaman bambu berukuran besar dan bertiang (tumbu amat besar) yang ditempatkan di sebuah ruang pada bagian belakang dari rumah tinggalnya berangsur-angsur tiada.

Para petani cenderung memilih untuk menjual habis padi kering hasil penennya daripada ribet menyimpan sendiri ke dalam lumbung-lumbung padinya. Model “ekonomi uang” yang menggantikan model “ekonomi inatura’ mengkondisikan perubuahan kebiasaan petani dari ‘menyimpan padi’ menjadi ‘menyimpan uang’.

Kalaupun diantara mereka ada yang masih menyimpan padi, itupun sebatas untuk kebutuhan domistikasi bagi keluarganya. Bahkan, kini tak jarang petani sebagai penghasil padi dalam kesehariannya justru menjadi pembeli beras. Petani tak lagi jadi ‘tuan’ atas berasnya sendiri sebagaimana di masa lalu, namun kini menjadi ‘konsumen’ beras yang dikendalikan oleh pasar.

Lumbung padi tinggal menjadi cerita lama. Kalaupun masih ada, hanya sebatas pada etnik-etnik tertentu yang bersahaja di daerah yang terpencil, sebagaimana pada masyarakat Badui, Suku Naga, Monangkabau, Toraja, Sasak, jurong lumbung di Kalteng maupun sejenisnya. Pada sebagian besar masyarakat petani pedesaan di Jawa, yang konon merupakan penghasil terbesar padi di Nusantara, lumbung padi hanya menjadi kisah sejarah alias cerita masa lalu.

Tembang Jawa ‘Lumbung Deso’ karya almarhum Ki Nartosabdo pun kini sekedar dimemorikan sebagai ‘tembang lama;, yang telah jarang diperdengarkan lagi. Berikut sitat lirik lagunya.

Lumbung deso
pro tani podho makaryo.
(Ayo dhi..) jupuk pari
noto lesung nyandhak alu..
(Ayo yu..) podho maju
yen wis rampung nulih adang..
(Ayo kang..) dho tumandang
nyosok beras ono lumpang..
Ayo dhi..
Ayo yu..
Ayo kang.

Dalam syair lagu itu digambarkan kerja keras (makaryo) para peyani untuk memenuhi lumbung padinya. Gabah kering yang dimasukkan ke dalam lumbung melalui ‘jendela atas’ diambil lewat ‘jendela bawah’ – menyerupai mekanisme sirkulasi perangkat penyimpan beras ‘Cosmos’, lantas ditumbuk pada lesung dengan menggunakan alu oleh para wanita.

Baca juga :  Antusiasme Anak - anak di Ajar Pusaka Candi Badut

Padi yang telah dikelupas kulit (sekam)-nya dengan menyosoknya pada lumpang tersebut kemudian dibawa pulang guna ditanak (didang) menjadi nasi siap santap. Proses Panjang dari pemanen padi hingga mengkonsumsi nasi itu kini dipangkas (diredusuksi) tinggal di gilirnya, yaitu tinggal menanak nasi, Proses menjdikan padi menjadi beras dengan menggunakan lumpang atau lseung telah diambil alih oleh selepan.

Bangunan ikonik ‘lumbung padi’, yang menjadi ciri khas pedesaan agraris semanjak amat lama, sejak mensin selep marak di pedesaan tak lagi hadir di kebanyakkan desa agraris. Hampir sama waktu dengan lenyapnya lesung, bangunan tua lumbung padi beralih tempat dari pedesaaan ke kolektor barang antik.

Bahkan terdapat hotel tertentu yang menjadikan eks lumbung padi sebagai ruang tinggal bernuasan pedesaan bagi tamu hotelnya. Dalam konteks itu, bukanlah gabah yang menjadi penghuni lumbung melainkan manusia yang tinggal di dalamnya. Oleh karenanya bukan ‘lumbung deso’ lagi sebutanya, namun ‘hotel lumbung’ namanya. Lumbung yang dulu dijadikan tenpat menabung dalam bentuk inatura oleh petani tergeser fungsinya oleh bank, yang sekarang dipilih untuk menabungkan hasil panennya menurut model ‘ekonomi uang’.

Lumbung padi sebagai bangunan pelengkap kehidupan petani beritakan baik dalam sumber data tekstual maupun artefactual masa lampau, bahkan sejak Masa Hindu-Buddha, Pada relief candi, bangunan lumbung dapat dikumpai. Bahkan, konon tak jarang di tepian persawahan ditempatkan miniatur lumbung padi badi batu andesit, yang dipergunakan sebagai media bagi ritus kesuburan (vertility cult).

Pada atap miniatr lumbung tersebut acap terdapat tulisan ‘sri’, yakni sebutan bagi Dewi Padi sebagai salah satu dari sakti (istri) Dewa Wisnu – selain Dewi Laksmi. Kadang tulisan itu digantikan dengan pahatan figurative yang berupa ‘sangka (cangkang kerrang bersayap), yang merupakan laksana (petanda khusus) Dewi Sri selain ilir padi.

Terkait dengan Dewi Sri beserta pasangannya, yakni Sedono, konon pada ritus lepas panen acapkali diselenggarakan arak-arakan ‘manten pari (penhantin padi) yang berupa boneka pado yang menggambarkan pasangan Sri dan Sedono. Ritus agraris inipun kini telah amat jarang dilakukan, sebab panen padi tak diposisikan lagi menjadi momentum agraris, melainkan sekedar peristiwa rutin biasa setiap empat bulanan.

Baca juga :  Mencari Metode Latihan Teater, Setiap Tubuh Memiliki Sejarah

Surutnya Ketahanan Pangan Pedesaan

Seorang warga suku Baduy Luar mengambil padi di dalam lumbung padi di Kampung Gajeboh, Lebak, Banten, Sabtu (21/3). Lumbung padi merupakan tempat untuk menyimpan padi yang digunakan oleh setiap warga di suku Baduy setelah melakukan panen, dan dalam satu lumbung dapat menyimpan seribu ikat padi (Foto : Antara).

Raibnya lumbung dan lesung menjadi tengara menurunnya ketahanan pangan pada pedesaan agraris. Para petani yang beramai-ramai melepas padi kering panenannya kepada tengkulak atau Bulog tak lagi memegang posisi sebagai ‘pengendali pangan’, namun sekedar menjadi ‘produsen bahan pangan’.

Ironisnya, ketika masa panen tiba, harga gabah cenderung rendah. Beda bila ia menjadi penyimpan gabah, yang bisa melepas gabahnya tatkala harga tengah membaik. Sebagai produsen padi, petani yang tak menympian gabah tidak terlakkan menjadi pembeli beras dengan harga jauh lebih tinggi dibanding harga padi yang mereka lepas ketika panen tiba. Posisi petani sekarang adalah ‘produsen padi’ hasil budidayanya dan sekaligus ‘kosumen beras’ pembeliannya dari para pedagang yang memperoleh padi darinya.

Padahal, ketika lumbung, lesung, dan sigiran pari (perancah penggntung untaian padi) masih berada di tanganya, padi hingga beras sepnuhnya berada di kendali para petani. Insitusi bentukkan pemerintah ‘Bulog’ tidak sepenuhnya mampu melindungi petani dari ulah permainan harga yang dikendalikan oleh tengkulak atas nama ‘harga pasar’. Walhasil, petani menjadi aktor agraris yang tanpa daya menghadapi intervensi tungkulak yang menyeruak masuk ke pedesaan.

Petani hanya menjadi ‘kambing congek’ yang dihembali oleh tengkulak dan Bulog, yang hanya bisa mengembik ketika harga padi di musim panen menurun dan tat kala harga beras melonjak. Untuk itu kalaupun kini fungsi lesung telah tidak mungkin dipertahankan lagi lantaran tak praktis, namun ‘tradisi lumbung’ di tingkat petani (per keluarga atau pada kelompok tani) ada baiknya dikembalikan sebagamana pada lampau.

Sehingga keswasembadaan pangan di Nusantara bukan sekedar menjadi cerita lama. Apa yang oleh prasasti batu (linggoprasasti) Canggal (732 Masehi) pada era awal Kerajaan Mataram dinyatakan bahwa Jawa merupakan suatu dwipa (pulau) yang kaya akan padi semoga mengejowantah kembali di Jawa..

Demikian tulisan ringkas yang bersahaja ini, semoga menjad pembuka kesadaran bagi para petani untuk kembali memposisikan dirinya sebagai ‘tuan (subyek)’ atas padi hasil budidayanya, bukan sebaliknya menjadi ‘obyek bulan-bulan’ dari pada tengkulak padinya.

Masak Indoneia yang pernah berswasembada pangan. gemah ripah loh jinawi, terus-menerus menjadi pengimpurt beras. Model ‘ekonomi inatura’ yang tercermin pada tradisi lumbung tidak lebih jelek daripada mode; ‘ekonomi uang’ yang kini dicekokkan kepadanya. Sing benthung tengkulake, sing buntung petanine. Salam dari desa ‘lesung jumengglung’. Nuwun.

Sangkaling, 15 Januari 2018
PATEMBAYAN CITRALEKHA

Dwi Cahyono

*Arkeolog dan dosen Universitas Negeri Malang

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here