Ragam Karya Seni Hadir di Pasar Seni

Bejo Sandy memainkan instrumen Rinding saat pembukaan Pasar Seni Dewan Kesenian Malang, Senin 28 Desember 2020. (Terakota/ Wulan Eka).

Padi menguning, terbentang rapi

Lembut melambai ditiup sang angina

Anak petani berbunga hati

Di pematang sawah berlari lari

 

Bapak petani sabar menanti

Berbekal ani-ani, sampai senja hari

Padipun merunduk smakin berisi

Panen raya akan datang kembali

 

Boneka sawah dari jemari

Setia menjaga biji padi

Dan burung-burung, terbang berlari

Suatu saat pasti hinggap lagi

 

Terakota.idLirik lagu berjudul “Musim Panen” ciptaan Cak Gik Arbanat ini tampil dalam pembukaan Pasar Seni, Dewan Kesenian Malang (DKM). Cak Gik memetik gitar, bernyanyi bersama para penonton. Lagu dengan lirik dan nada sederhana ini, Cak Gik Arbanat tampil berulang hingga 30 menit. Ia mengajak penonton anak-anak turut menyanyi di panggung.

Selain tampilan tersebut, sejumlah seniman tari dari Sanggar Padma Puspita turut meramaikan pembukaan Pasar Seni. Sanggar Padma Puspita menampilkan tiga tari sekaligus, yakni Tari Bapang, Tari Grebeg Jowo, Tari Grebeg Sabrang. Selain itu, Badan Pengurus Harian Seni Tari DKM menampilkan Tari Beskalan. Tarian sambutan selamat datang.

Harum dupa menguar, Bejo Sandy tampil di depan para pengujung Pasar Seni Dewan Kesenian Malang (DKM), Senin 28 Desember 2020. Rambut tergerai, Bejo mengeluarkan sebuah instrumen unik dari balik saku celana. Ia menempelkan instrumen berbahan bambu di antara kedua bibir dan meniupnya. Instrumen mengeluarkan bunyi yang unik.

Ekspresif, pentolan teater Celoteh ini tampil memikat. Inilah rinding Malang. Instrumen khas yang ditemukan di semua sudut Malang dan juga tersebar di seluruh Nusantara.”Alat musik begini sebanyak 158 disimpan di museum Belanda. Ada 24 versi Indonesia yang masih ada. Di Jawa Barat disebut Karinding, Bali disebut genggong, orang Sumba menyebut gunggi,” tutur Bejo Sandy di sela-sela memainkan alat rinding.

Sejak beberapa tahun terakhir Bejo bereksperimen membuat rinding. Serta memproduksi untuk mengenalkan alat musik yang biasa dimainkan saat ritual tradisi tertentu. Serta biasa digunakan mengusir hama, karena menghasilkan suara rendah.

Instrumen ini, kata Bejo, tersebar di seluruh Nusantara. Kini, instrumen digunakan untuk hiburan. Ia lantas menyanyikan sejumah lagu daerah Berkat instrumen ini, Bejo tampil di atas stupa Candi Borobudur dalam  sound of borobudur. Juga tampil di Bali bersama seniman lain.

Rindi instrumen tradisonal yang dimainkan di swah untuk mengusir hama. (Foto : koleksi Bejo Sandy).

“Ayo belajar bersama, di Claket, Jodipan Lawang, Blimbing, Jabung, dan  Pagak mbah-mbah masih membuat rinding,” ujarnya. Karinding atau rinding diusulkan melalui UNESCO untuk ditetapkan menjadi warisan budaya dunia tak benda.

Untuk itu, ia mengajak anak muda untuk belajar membuat instrumen khas ini. Bejo yang dikenal dengan sebutan Bejo Rinding ini membagikan tujuh rinding kepada para pengunjung Pasar Seni. “Malang punya sebelum kita lahir. Jangan hilang lagi,” ujar Bejo menutup penampilan.

Pameran dan Bursa Jual Beli Kriya Seni

Pasar Seni dilangsungkan di Gedung Dewan Kesenian Malang Jalan Majapahit 3 Kota Malang, sekaligus memperingati merayakan ulang tahun ke-47, DKM. Diikuti tujuh bidang seni DKM meliputi musik, tari, sastra, teater, rupa, radio, televisi dan film serta media baru. Pasar Seni menghubungkan antar generasi pelaku seni. Lantaran selama ini perkembangan teknologi berdampak pada proses instan, berkesenian menciptakan jarak antara seniman tradisi dan seniman muda.

“Dunia kesenian seolah tercabik dengan berbagai teknologi dan proses instan berkesenian. Generasi muda sibuk pada dunia virtualnya sendiri. Berkesenian kini terasa dangkal, gelar keartisan makin mudah diperoleh dari dunia virtual,” ketua pelaksana Pasar Seni DKM Kota Uddin Noor.

Tari Grebeg Sabrang persembahan Sanggar Padma Puspita turut tampil dalam pembukaan Pasar Seni DKM. (Terakota/ Wulan Eka).

Esensi, emosi, energi, dan penghargaan terhadap karya seni, katanya, diganti data statistik interaksi dan kepopuleran di sosial media. Sehingga Pasar Seni diharapkan mempertemukan seniman antar generasi. Meminimalisir sekat antar generasi.

“Malang memiliki sekian ratus seniman akan lebih hebat dengan lahirnya pasar seni budaya,”” ujarnya. Seniman perlu saling mendukung, berkomitmen, merasa sejiwa, sedarah dalam berseni budaya agar kuat dan utuh.

Pasar Seni meliputi menghadirkan berbagai workshop kerajinan tradisi, pergelaran wayang kulit, seminar seni media baru, pagelaran tari dari berbagai sanggar tari di Malang, peluncuran buku antalogi puisi, pentas musik, orasi budaya oleh Yusri Fajar, pameran industri kreatif seniman Kota Malang, instrumen musik Indonesia persembahan Museum Musik Indonesia, dan pemutaran dokumentasi digitalisasi relief candi jago.

Workshop kerajinan tradisi meliputi pembuatan topeng bubur kertas, raket jabung, musik didgeridoo, rinding dan mulas wayang kulit. Pagelaran tari dipersembahan oleh Sanggar Citra Natya Budaya, Shakuntala, Sentra Budaya, Nava Kendedes, dan Sekar Tanjung.

Stan industri kreatif menampilkan karya seniman Kota Malang pembuat instrumen musik tradisi Indonesia, Arik Sugianto, Isa Ansori, Azis Franklin, Bejo Rinding, Budi Ayin.

Selain dipamerkan, instrumen tradisi ini juga dijual. Antara lain instrumen rinding Malang, angklung towel, rainstick, sapek, kulcapi, hasapi, fujara, kajoon, gamelan, seruling, didge bamboo, didge kayu, gendang, occarina kayu, bansi minang, saluang, siter, solawa. Harga dipatok dari seharga Rp 50 ribu hingga 100 juta.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini