R.A Kartini Abadi karena Literasi

Kartini dan adik-adiknya, Roekmini, Kartinah, dan Soemarti berfoto bersama para murid di Jepara, Jawa Tengah (abad IX-X.X). (Foto: Dok. Shelfmark KITLV)

Ibu kita Kartini

Putri sejati

Putri Indonesia

Harum namanya

Ibu kita Kartini

Pendekar bangsa

Pendekar kaumnya

Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya

Bagi Indonesia….

Terakota.idCuplikan lagu di atas mengingatkan, masa kecil yang kerap melantunkannya. Dulu dipikiran terngiang-ngiang pertayaan, siapa si Raden Ajeng Kartini sosok yang dibanggakan perempuan Indonesia? Bahkan setiap April selalu dirayakan.

Kartini selalu diberi apresiasi setiap tahun, meski jazadnya telah tiada, Lantaran kiprah dan tulisannya. Mengenai perempuan, pendidikan, dan tradisi yang memberi batas pada perempuan Jawa. Gagasan tersebut dikenal dalam kumpulan surat Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini, dijadikan panutan bagi para perempuan progresif Indonesia. Padahal masih banyak perempuan lain seperti Cut Nyak Dien, Raden Sartika, Ibu guru dan Ibu kita. Eksistensinya selalu digaungkan setiap tahun, Hari Kartini diperingati setiap 21 April, pada  1964 Presiden Sukarno menetapan R.A Kartini sebagai pahlawan Nasional.

Kartini tidak akan pernah terhapus dari sejarah Indonesia. Selain dinobatkan sebagai seorang pahlawan perempuan, rekam jejak dalam sejarah membuktikan, semasa hidupnya selalu berjuang dan mengubah hidup manusia. Khususnya bagi para perempuan dulu, sekarang, dan masa depan, dan selalu relevan melintas zaman.

Semasa kecil banyak sekali pahit hidup dirasakan. Mulai usia 12 tahun dipingit (Perempuan dilarang keluar rumah). Bagi anak perempuan usia tersebut tengah menikmati hidup dengan bermain dan bersama keluarga. Namun Kartini tidak merasakannya. Sebagai seorang anak Bupati Jepara, diberlakukan batas-batas social, seperti penjara. Namun ia semangat belajar, menggali pengetahuan dan pengalaman.

Kartini gemar melahap buku, dengan literasi mendewasakan pola pikir. Sehingga Kartini memiliki pandangan hidup yang visioner dalam tulisan. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelfontwikkeling (Pengengbangan diri) dan Zelf-onderricht, (otodidak) Zelf- vertrouwen (Pengembangan kepercayaan diri) dan Zelf-werkzaamheden (Pengembangan Efikasi diri selain juga Solidaritas) dan juga Solidariteit (Solidaritas).

Semua atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (Yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (Peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (Cinta tanah air).

Pelopor Kebangkitan Perempuan Bumiputra

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879– meninggal di Rembang, 17 September 1904. Pada umur 25 tahun sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini merupakan seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan Pribumi-Nusantara.

Sosok Kartini, pada usia 12-20 tahun melakukan praktik intelektual. Setiap pemikiran, pembicaraan, dan tindakan tidak dapat dipungkiri dipengaruhi lingkungan. Serta jalan hidup yang selalu dilakukan secara terus-menerus sehingga jadi kebiasaan, tanpa disadari.

Kartini merupakan sosok seorang yang peduli dengan pendidikan. Mulai gagasan yang tertuang dalam kumpulan surat Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang berharap perempuan harus lebih tinggi pendidikan daripada lelaki. Lantaran perempuan lebih dekat dengan anak-anaknya kelak.

Menurut  Soe Hok Gie seorang perempuan yang hanya sibuk berdandan, siap-siaplah Dia akan di bawah bayang laki-laki. Begitulah mungkin definisi sederhana perempuan untuk tetap berperan dalam hidup, serta bisa saling berkontribusi dengan hidup keluarganya yang telah disepakati.

Praktik Literasi Kartini

Kartini pada masanya dapat dikatakan sosok yang melek literasi. Suka membaca dan menulis yang juga didukung lingkungannya. Paling sederhana ia memiliki akses bacaan serta orang-orang yang dekat dengannya. Seperti Sosrokartono kakak Kartini selalu mendukung dan menyediakan buku bacaan. Sehingga  ia terbentuk sebagai sosok perempuan yang gemar menulis dan bergerak di ranah sosial, demi kepentingan masyarakat.

Lingkungan literasi: merupakan lingkungan yang sehat. Semangat belajar membaca dan menulis salah satu keterampilan yang dapat membuat kita bisa cekat, cakap,  dan berpikir kritis. Begitulah kurang lebih kerja literasi di dalam diri. Merawat pikiran dengan bacaan yang menghasilkan pengalaman tentu sesuatu yang berharga hidup, seperti itulah sosok Kartini bisa memiliki pola pikir, tindakan, dan menulis dengan baik. Karena lingkungan telah membentuknya.

Pengertian literasi adalah kemampuan atau keterampilan seseorang dalam membaca, menulis dan mampu menyelesaikan masalah. Melakukan praktik literasi secara baik. Kartini banyak membaca dan mengasah keterampilan menulis sehingga menjadi seseorang yang lebih peka terhadap lingkungan sosialnya.

Sepak terjangnya dengan mendirikan sekolah turut berperan menjadi hidup produktif saat perempuan terbatas aksesnya terhadap pendidikan. Ia menyatakan kegelisahan pribadi dan penderitaan orang lain. Kartini menyalurkan pemikirannya dengan mengirim surat kepada JH Abendanon meminta bantuan membangun sekolah khusus perempuan.

Mengutip penelitian Hapsari, sekolah perempuan pertama yang didirikan di Jombang, Semarang merupakan sekolah swasta perempuan pertama yang menerima subsidi pemerintah Belanda. Sebelum resmi berdiri, Sekolah Kartini menerima tidak kurang dari f23.000 untuk membangun sarana dan prasarana sekolah.

Pada masa sekarang  yang harus diambil dan diteladani dari sosok Kartini adalah semangat literasi, semangat etos berjuang sebagai perempuan, dan praktik konkrit mengenai pendidikan. Melakukan sesuai konteks zaman. Bahwa semangat muda zaman sekarang mengenai perempuan tidak hanya merayakan dengan media sosial; buat story whatsapp, instagram, dan twitter dll. Tapi semangat literasi yang seharusnya digaungkan dan bisa diimplementasikan. Lantaran ketekunan literasi mampu menjadikan manusia punya keahlian menerima dan penguasaan informasi, membentuk intelektual, dan membangun jiwa kritis  yang menawarkan solusi.

**Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini