Puspa Sarira, Wayang Rakyat

Karena wayang khusus dibuat untuk jurnalis, Mbah Kardjo menamakannya “Reksa Aksara” artinya penjaga huruf. Menurutnya profesi jurnalis itu merupakan penjaga huruf untuk menyampaikan kebenaran. Mbah Kardjo juga menggunakan karakter sesuai dengan alur cerita yang dibuatnya sendiri.

Terakota.id–Di tangan Samsul Subakri rumput mendong (Fimbristylis umbellaris) digunakan menjadi kerajinan wayang. Dia menamakan wayang ciptaanya bernama Puspa Sarira berasal dari bahasa Sansekerta artinya badan yang terbuat dari bunga. Beragam rumput digunakan menjadi bahan baku wayang seperti Mendong (Fimbristylis umbellaris), rumput, jerami dan tangkai pohon singkong.

Bunga mendong menjadi mahkota wayang, eksotik. Seniman dan aktivis lingkungan di Malang lebih mengenal dengan sapaan Mbah Kardjo. Berasal dari akronim Konservasi Asli Rakyat di Luar Jalur Organisasi. Wayang rumput, katanya, memiliki makna dan filosofi Jawa.

Saat membuat wayang dia menceritakan  makna setiap bagian tubuh wayang. Kadang jika diiringi musik gamelan dia sambil menyanyi tembang mijil. Berupa syair kelahiran wayang.


Tekun, Mbah Karjo tekun uji coba merangkai aneka rumput menjadi wayang kreasi. (Terakota/Eko Widianto).

Wayang dibuat dari tiga helai rumput sepanjang  100 sentimeter. Setelah dipotong menjadi dua bagian sama panjang, dia memulai mengayam bagian hidung untuk bernafas sebagai pertanda kehidupan. Sampai berbentuk wayang, sesuai dengan karakter yang diinginkan.

Karena wayang khusus dibuat untuk jurnalis, Mbah Kardjo menamakannya “Reksa Aksara” artinya penjaga huruf. Menurutnya profesi jurnalis itu merupakan penjaga huruf untuk menyampaikan kebenaran. Mbah Kardjo juga menggunakan karakter sesuai dengan alur cerita yang dibuatnya sendiri.

“Cerita disesuaikan dengan penonton. Bisa berupa dongeng, diselipkan pesan moral,” katanya. Setiap pertunjukan dia berusaha melibatkan para penonton. Dia memulai membuat wayang rumput sejak 2012 lalu, istrinya Suli Gazatri yang lebih dulu membuat wayang rumput.

Namun saat itu masih sebatas hobi, lantas Mbah Kardjo mengembangkan dan memodifikasi untuk seni pertunjukan. Mbah Kardjo juga memanfaatkan wayang rumput sebagai media untuk pendidikan konservasi sejak aktif sebagai suporter lembaga konservasi satwa, PROFAUNA.

Mbah Kardjo terus berinovasi menciptakan lakon, cerita wayang sebagai media pendidikan konservasi lingkungan. (Terakota/Eko Widianto)

Mbah Karjo menyelesaikan persoalan sampah dengan membuat kreasi wayang. Selain itu juga menyampaikan pesan lingkungan hidup dalam setiap pertunjukan. Demi memberikan pendidikan lingkungan sejak dini.

Baca juga :  Membaca Karya Ratna Indraswari Ibrahim di Malang

Sementara sekitar 800 ribu warga Kota Malang setiap hari memproduksi sampah sekitar 600 ribu ton. Sekitar 30 persen diantaranya merupakan sampah non organik seperti plastik, besi, kayu dan karet. Sebelihnya sampah organik. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Agoes Edi Poetranto mengapresiasi Mbah Kardjo yang memanfaatkan sampah menjadi barang bernilai seni tinggi.

“Karya mereka harus dikembangkan,” katanya.

 

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here