Pusat Kerajaan Singhasari Dulu dan Kini

Wilayah Kuta Raja berubah menjadi Kutho Bedah diperkirakan terjadi pada 1600-an. Saat itu, Mataram melakukan ekspansi menyerbu wilayah Brang Wetan atau Katumenggungan Malang. Terjadi serangan hebat yang memporak-porandakan Kota Raja. Kemudian kawasan menjadi hancur dan melegenda menjadi Kutho Bedah.

Terakota.id–Saban hari sepanjang waktu, kendaraan hilir mudik melintas di Jalan Zaenal Zakse, Kota Malang. Sepanjang jalan berjajar pedagang yang menjual aneka penganan.  Kepadatan kendaraan semakin terasa saat pagi dan sore. Kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan rutin setiap hari. Dari atas jembatan, terlihat tepi sungai Brantas berjejal bangunan rumah. Bangunan berdiri tak beraturan, dan terkesan kumuh.

Air sungai Brantas mengalir deras, terlihat coklat dan keruh. Tumpukan sampah juga bertebaran di tepi sungai. Inilah kawasan yang dikenal bernama Kutho Bedah, secara administratif berada Kelurahan Kota Lama, Kedungkandang, Kota Malang. Kawasan ini merupakan permukiman padat penduduk.  Secara topografi, kawasan yang membelah Sungai Brantas ini seperti mangkuk.  Sekitar 80 persen kawasan berombak, tak rata.

Arkeolog Universitas Negeri Malang Blasius Suprapta dalam disertasi di Universitas Gadjah Mada menyebut Kutho Bedah merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Singhasari (Singosari) atau Tumapel mulai 1222 sampai 1292. Dalam Kitab Pararaton disebutkan pusat pemerintahan Kerajaan Singhasari mulai Ken Arok sampai Raja Wisnuwardhana berada di Kota Raja.

Letak Kerajaan Singhasari diperkirakan berada di sekitar Supit Urang, yakni lahan di sekitar pertemuan antara Sungai Brantas dan Sungai Bango. Dalam catatan Rafles yang ditulis 1882 menyebut sebuah wilayah bernama Kutorejo atau Kota Raja. Sebuah permukiman kuno yang ditunjukkan dengan sebuah peta topografi yang diterbitkan pada 1811. “Supit Urang, karena berbentuk seperti supit udang,” ujarnya.

Kota Raja, katanya, merupakan kota kuno, sebelum bersalin nama menjadi Kutho Bedah. Kawasan Kutho Bedah dipastikan merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Singhasari dibuktikan dengan lokasinya yang strategis. Secara geo strategis lokasi Kutho Bedah di wilayah berbukit yang cocok untuk pertahanan dan mengawasi pergerakan musuh. Saat itu, Tumapel tengah melewati masa konflik dengan Kerajaan Kadiri.

Secara alamiah, katanya, Kota Raja berfungsi sebagai benteng sekaligus pusat pemerintahan. Jejak bekas permukiman kuno dan pusat pemerintahan juga ditemukan bekas parit dan reruntuhan bata kuno. Juga ada temuan arkeologis berupa pecahan gerabah, keramik, arca dan umpak.

Rafles menemukan sejumlah arca, salah satunya sebuah arca Dwarapala. Arca Dwarapala seharusnya dua buah, berada di pintu gerbang masuk ke Istana Singhasari. Bahkan dalam catatan Rafles, masih melihat benteng batu bata sepanjang sekitar satu mil. Namun, jejak kerajaan Singhasari itu sekarang sulit ditemukan karena berubah menjadi permukiman padat.


Peta Kutho Bedah Kota Malang

Pada masa pemerintahan Raja Airlangga, Sungai Brantas menjadi perhatian utama. Air digunakan untuk memasok air bersih dan kebutuhan irigasi. Dalam Prasasti Kamalagyan Raja Airlangga menerangkan pendirian bangunan air di Waringin Sapta. Berupa bendungan yang berfungsi penting untuk mencegah banjir.

Sementara masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana, pusat kerajaan dipindah ke Singosari sekitar 25 kilometer arah utara. Pusat kerajaan berpindah, kekuasaan semakin luas dan membesar. Wilayah Singhasari berkembang pesat, kekuasaannya berkembang sampai Sumatra, dan sebagian wilayah Indocina.

Wilayah Kuta Raja berubah menjadi Kutho Bedah diperkirakan terjadi pada 1600-an. Saat itu, Mataram melakukan ekspansi menyerbu wilayah Brang Wetan atau Katumenggungan Malang. Terjadi serangan hebat yang memporak-porandakan Kota Raja. Kemudian kawasan menjadi hancur dan melegenda menjadi Kutho Bedah.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan