Punjer Tradisi Ater-ater Penganan Jelang Lebaran

Oleh: M. Dwi Cahyono

Aweh sandhang marang wong kawudan
Asung pangan marang wong kaluwen
Aweh banyu marang wong kasatan
Paring teken marang wong kalunyon 
Asung kudhung marang wong kapanasan
Aweh payung marang wong kaudanan
Mulyakaken wong kang kagerahan.

Arti ‘Ater-ater’ dan Varian Sebutannya
1. Sebutan “Ater-ater”

Ada dua kemungkinan arti kata ‘ater-ater’. Kemungkinan pertama berkenaan dengan ketatabahasaan, dan kedua berhubungan dengan aktifitas (kata kerja). Tata Bahasa Jawa mengenal adanya ‘ater-ater’, sebagai imbuhan yang ditempatkan di depan kata dasar (tembung lingga), atau disebut ‘awalan’ di dalam Bahasa Indonesia dan ‘prefix’ dalam bahasa Inggris. Dalam Bahasa Jawa terdapat tiga jenis ater-ater, yaitu: (a) hanuswara, (b) tripurusa, dan (c) ater-ater liya. Pengertian lain untuk kata ‘ater-ater’ adalah sebagai berikut.

Sebagai sebuah istilah, sesungguhnya kata ‘ater’ beserta kata-kata kadiannya – seperti : angater, umater, inater, angater-ater, angateri, angateraken dan inateraken – telah terdapat dalam sumber data tekstual (prasasti dan susastra) berbahasa Jawa Kuna/Tengahan, yang secara harafiah berarti: mengantar, mengiringi, membawa seseorang ke suatu tempat, membawa, atau mengangkat (Zoetmulder, 1995:75). Paling tidak, istilah ‘ater’ telah dikenal pada medio abad IX, terbukti oleh penyebutannnya dalam kakawin Ramayana (15.42, 21.204, 24.188). Selanjutnya disebut dalam susastra di awal abad XI Masehi, yaitu Udyogaparwa (71.29, 49). Selain itu tercantum dalam susastra-susastra yang lebih muda, seperti kakawin Gatotkacasraya (11.8). Smaradahana (16,5), Sumanasantaka (11.5, 38.3), Sutasoma (16,1), Wangbang Wideya (A. 1.14), kidung Harsyawijaya (2.140), kidung Ranggalawe, dan kidung Sunda.

Istilah ‘ater-ater’ acapkali dikombinasikan dengan kata ‘panganan (pasugatan, bojana)’, menjadi ‘ater-ater panganan’, yang menunjuk pada aktifitas mengantarkan atau membawa makanan dari seseorang atau suatu keluarga ke orang atau keluarga lainnya pada waktu tertentu dengan maksud tertentu. Di lingkungan masyarakat Jawa, ater-ater panganan telah dilakukan sejak lama, lintas generasi, sehingga cukup alasan untuk menyatakannya sebagai ‘telah mentradisi’. Tradisi ini antara lain dan kebanyakkan diadakan pada minggu terakhir bulan Ramadhan (utamanya tanggal 21 hingga 27 Ramadhan), sebagai pernyataan syukur bahwa bulan suci Ramadhan menjelang berakhir, segera berganti dengan bulan Syawal, dimana pada hari pertamanya tiba Hari Raya Idul Fitri (Lebaran).

Ater-ater dilakukan untuk menyambung dan mempererat tali silaturrahmi antar keluarga atau tetangga. Pada hari yang sama atau hara sebelum atau sesudahnya keluarga pelaksana ater-ater mendapat hantaran makanan dari keluarga lain, sehingga tercipta ‘tukar-menukar panganan’ diantara sanak-famili, tetangga atau teman. Dengan leaksanakan tradisi ini diyakini dapat memperlancar rejeki serta memperpanjang usia dan di jauhkan dari mara bahaya.

Tradisi ater-ater yang dilakukan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri menumbuhlkan akraban dan silaturahmi, serta sebagai tanda syukur telah dapat menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh dan berharap dikaruniai usia panjang sehingga bisa kembali memasuki puasa Ramadhan di tahun berikutnya. Dalam konteks tujuan demikian, pelaku tradisi ater-ater panganan dengan demikian adalah warga muslim. Namun demikian, tidak semua umat Islam di Jawa melaksanakannya, tetapi hanya oleh orang-orang tertentu saja, yakni mereka yang mampu secara ekonomik. Dalam bentuk yang serupa, tradisi penghantaran makanan juga dilakukan oleh penganut agama di luar agama Islam, dengan maksud dan tujuan yang serupa sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Ada varian tradisi ater-ater bila dilihat dari waktu pelaksanaan dan jenis penganannya, yang dinamai ‘Ter-ater Tajin Sora’. Sesuai unsur sebutannya, yaitu adanya kata ‘Sora’, tradisi yang tumbuh dan berkembang di daerah Bondowoso ini dilakukan pada bulan Muharam (Suro atau Sora), yang oleh umat Islam diyakini sebagai bulan dimana berbagai peristiwa ke-nabi-an berlangsung. Salah satu diantaranya adalah peristiwa ‘Bahtera Nabi Nuh”. Dalam mitologi lokal yang mengkisahkan bahwa setelah perahu Nabi Nuh berhasil melabuh pasca musibah iar bah amat besar, kala itu persediaan makanan menipis, sehingga diputuskanlah untuk membuat bubur (tajin) guna mencukupi kepbutuhan makan semua penumpang kapal. Mitologi lokal itulah yang melatari penyelenggaraan tradisi ter ater tajin sora seabagai tradisi budaya untuk selalu hidup rukun dan saling memberi kepada kerabat, sahabat, dan tetangga.

  1. Sebutan ‘Tonjokan”

Tradisi penghantaran makanan itu mengingatkan kepada ‘tradisi tonjokan, munjung, rebba, dan rantang lebaran’, meski dalam hal tertentu memiliki pembeda dengan ater-ater panganan jelang Lebaran. Ada pula yang menyebut penghantaran makan dengan ‘tonjokan’. Sebuatan ini bisa berarti pemukulan (tonjok, nonjok) terhadap orang lain, bisa juga menunjuk kepada tradisi pengahantaran makanan yang dilakukan jelang pesta perkawinan atau khitanan ke sejumlah orang (kerabat dekat, tetangga, ataupun sahabat) dari seseorang yang hendak menyelenggakan hajatan. Warisan budaya ini masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Jawa, khususnya bila suatu keluarga akan mengadakan hajatan. Pengiriman makanan tersebut sebagai isyarat atau mengandung arti ‘pemberitahuan’ dan sekaligus ‘undangan’ untuk kelak menghadiri hajatannya.

Tonjokan dengan demikian adalah ganti undangan formal, atau undangan yang lebih bersifat personal. Dengan mengirimkan tonjokan, si empunya hajat benar-benar mengharap kehadiran penerima tonjokan. Pada sisi lain, penerima tonjokan berkewajiban untuk datang. Bila tak datzng. si penonjok bisa kecewa. Selain keharusan untuk datang, biasanya penerima tonjokan secara tak langsung diharap memberi ‘balasan yang pantas’ manakala menghadiri hajatannya.

Tidak semua orang mendapat tonjokan, hanya mereka yang memiliki hubungan dekat dengan empunya hajat. Selain sebagai undangan, hantaran itu juga sebagai ekspresi rasa syukur dan permohonan doa restu. Makanan ditempatkan di dalam wadah, yang konon berupa besek (wadah dari anyaman bambu), rantang, baskom, kotak kardus, dsb. Isinya bermacam-macam. Pada umumnya berisi nasi dan lauk pauk – misalnya telur, ayam, sambal goreng, bihun, dsb. Bisa juga ditambahkan dengan buah-buahan dan kue-kue (jajan pasar).

Isi tonjokan bias menggambarkan status sosial seseorang. Semakin terpandang isi tonjokan makin banyak dan bervariasi. Tonjokan bisa membuat orang menjadi salah paham. Oleh karena tak semua orang mendapatkan tonjokan, maka yang tidak mendapatkanya sering merasa kalau dirinya tidak dianggap atau tidak diharap kehadirannya. sehingga mereka memutuskan untuk tidak menghadiri acara hajatan tersebut. Sebenarnya, dapat dimengerti bila calon penerima tonjokan diseleksi ketat, agar tidak terjadi salah sasaran dan memberi dampak tidak enak di kemudian hari.

  1. Sebutan “Munjung’

Istilah lain yang hampir bersinonim arti dengan ‘ater-ater” adalah ”munjung”. Salah satu dan terbanyak untuk melakukan munjung adalah menjelang Lebaran. Tradisi ini merupakan ekspresi bakti anak kepada orang tuanya (ayah-ibu), atau saudara muda kepada suadara yang lebih tua. Munjung menjadi semacam “kewajiban” bagi anak yang telah menikah dengan sasaran Orang Tua, Mertua, Kakak/Abang Ipar, kakak kandung, bahkan jika mampu dapat diperluas hingga kakek-nenek. Pak De. Bude, Pak Lik, Bulik, para tetangga, handai-taulan dsb. Tradisi ini adalah perwujudan ‘sedekah setahun sekali’.

Munjung sekaligus menjadi bukti mengenai upaya untuk mempererat silaturrohmi dengan memberikan bingkisan sederhana kepada orang lain. Barang yang di-punjung-kan bisa beragam, seperti makanan, jajanan, telor, gula-kopi, beras. tahu-tempe. dsb, semampu pelaku munjung. Ada kalanya barang ditempatkan di dalam rantang atau wadah lainnya.

Tradisi munjung bukan hanya dilaksanakan di Jawa, namun diselenggarakan pula di luar Jawa, semisal di Sumatra. Monentum peristiwanya bukan hanya menjelang Lebaran, namun ada pula yang melalukan jelang puasa Ramadhan. pada beragam hajatan seperti pernilahan, khitanan, syukuran, aqiqohan, dsb. Dulunya munjung diselenggarakan secara sederhana dan hanya ditujukan pada keluarga terdekat, tetapi sekarang ditujukan kepada semua lapisan masyarakat dari kalangan menengah keatas sampai menengah kebawah.

Adapun bentuk pelaksanaannya dipengaruhi oleh kemampuan dam tingkat ekonomi masing-masing. Saling memberi bantuan itu kini bersifat ‘mengikat’ bagi penerima untuk kemudian membalas bantuan tersebut secara sepadan. Padahal, landasan bagi munjung adalah keikhlasan. Berarti telah terjadi perubahan, seiring dengan kecendrungan warga masyarakat kearah gaya hidup yang konsumtif.

Tradisi munjung juga dilakukan pada pemangku budaya Bali, kendati mempunyai pembeda yang cukup banyak dibanding tradisi munjung di Jawa. Pada masyarakat Bali, tradisi munjung dilaksanakan tiap hari raya, dan dilaksanakan di areal pemakaman. Setelah persembahkan sajian (punjung) kepada arwah tertuju. selanjutnya penganan (surudan) yang telah dipersembahkan tersebut dimakan ramai-ramai atau dibawa pulang ke rumah. Momentum waktu pelaksanaan munjung adalah ketika Hari Raya Galungan atau pada tilem kasanga.

Minjung dilakukan dengan menziarahi makam (setra) sambil membawa sajian, setelah persembahyangan di beberapa pura antara lain pada pura keluarga (marajan) dan leluhur. Menurut ‘Lontar Medang Kemulan dan ‘Usana Dewa’, umat Hindu yang memiliki sanak keluarga yang sudah meninggal dunia namun belum di-aben wajib baginya mengunjung pusara kerabatnya dengan membawa sesajian berupa makanan (punjung), khususnya makanan kesukaannya semasa hidup. Selama jasad yang dikubur belum di-aben, sanak keluarga wajib menziarah kuburannya, karena arwahnya diyakini masih belum menyatu dengan Ida Sang Hayang Widhi. Punjung yang dikhususkan bagi orang yang telah meninggal itu diletakkan diatas gundukan tanah.

  1. Sebutan “Rebba’

Di kalangan masyarakat Madura tradisi ater-ater dikenal dengan sebutan ‘rebba atau rebba’an’. Tradisi ini dilakukan pada sebelum memasukan bulan puasa Ramadham, tepatnya pada bulan Sya’ban. Rebba’an dilakukan dengan menghantarkan makanan (ter-ater). Tradisi ini mirip dengan yang dilakukan pada acara Maulid Nabi (Mulothen), tetapi masyarakat tak perlu berkumpul untuk membaca sholawat. Pelaku Rebba cukup menghantar makanan ke rumah-rumah tetangga satu kampung. Makanan yang dihantar bervariasi, mulai dari makanan tradisional seperti apem, cucur, nasi, ikan, dll. Wadah bagi makanan berupa keranjang kecil (besek).

Setelah semua penganan disatukan ke dalam wadah makanan, kemudian dihantar ke para tetangga. Tradisi rabba hanya dilangsungkan pada bulan Sya’ban, sebagai wahana untuk mempererat tali silaturrahmi antar warga dan antar tetangga. Selain rebba untuk anggota keluaga luas, terdapat juga rebba bagi sesepuh desa, guru ngaji dan pengasuh pondok pesantren (kyai). Rebba bagi guru ngaji maupun kyai bukan hanya berupa makanan, namaun bisa juga berwujud hasil bumi, seperti jagung, padi, ketela pohon, dan berbagai jenis buah-buahan hasil pertanian, yang disisihkan khusus untuknya.

  1. Sebutan ‘Rantang Lebaran’

Rantang Lebaran adalah tradisi hantar-menghantarkan rantang jelang Lebaran. Satu set rantang biasanya terdiri atas empat mangkukan, disusun rapi ketas dan diberi pengait satu sama lain. Kebanyakan rantang berwarna silver polos. Namun ada juga yang diberi ornamen bebungaan dan doreng. Pahun 1980-1990-an orang gemar membelinya sebagai wadah hantaran makanan ke sawah atau kegunaan lainnya, seperti untuk hantaran makanan jelang Lebaran. Pada masa yang lebih awal, selain rantang dipergunakan pula wadah makanan atau kue yang berupa tenong, baik tenong bambu ataupun tenong logam.

Secara harafiah, tenong adalah bakul bundar. Tenong merupakan wadah khas Nusantara, yang kini hanya keluar di acara-acara adat tertentu di sejumlah daerah. Fungsinya sebagai wadah pembawa makanan manakala bepergian. Bedanya dengan rantang adalah bahwa tenong dibawa dengan cara dijunjung di kepala. Selain itu, tenong tidak selalu bersusun dan berbentuk bulat. Ada tenong yang berbentuk oval, bahkan persegi empat. Bahan untuk membyat tenong bermacam-macam, seperti bambu, kayu, anyaman, tembaga, hingga kuningan dan perak. Kini bahan untuk pembuatan wadah makanan tersebut cenderung diganti dengan stenlistik, plasik, ataupun kotak karton.

Menginjak minggu keempat Ramadhan, orang silih-berganti saling hantar rantang kepada kerabat maupun tetangga. Rantang diisi dengan nasi, daging ayam masak santan (atau dikecap), sambel goreng tempe dan tahu (bisa ditambah kentang, hati ayam, dan petai), mie telor/ bihun goreng, telur rebus), kerupuk. Ketika itu, dalam satu hari suatu keluarga bisa memperoleh dua sampai tiga hantaran rantang. Penerima hantaran makanan harus segera memindahkan isi rantang ke piringnya sendiri, dan selanjutnya rantang diberikan kembali kepada penghantar.

Tahun demi tahun tradisi Rantang Lebaran mulai memudar, digantikan oleh hantarkan sirup dan kue, yang lebih praktis. Warga tidak tertarik lagi, karena repot memasak hantaran Rantang Lebaran. Pada warga Betawi tradisi ini dilakukan tepat di malam jelang perayaan Idulfitri (malam Takbiran), berupa hantaran rantang berisi ketupat sayur, semur atau rendang beserta kue seperti tape uli. Makanan dihantar kepada saudara, kerabat, atau orang yang dituakan. Nantinya rantang tersebut akan dikembalikan dengan hasil masakan mereka, sehingga terjadi pertukaran makanan antar keluarga.

Pelaksanaan Tradisi Ater-ater
1. Waktu Pelaksanaan

Ater-ater jelang Lebaran biasanya dilakukan di sore hari, sebelum tiba waktu berbuka puasa. Durasi waktu pelaksanaan ater-ater adalah minggu ke-4 bulan Ramadham, utamanya antara antara tanggal 21 s.d. 27 Ramadhan. Adapun pada tradisi Rantang Lebaran di masyarakat Betawi, waktu yang dipilih adalah tepat malam Lebaran (takbiran Idul Fitri).

Momentum lainnya padamana tradisi ater-ater dan tradisi lain yang serupa (tonjokan, munjung, rebba, rantang Lebaran) adalah ketika tiba Hari Raya Ketupat, Hari Raya Idul Adha, Maulid Nabi Muhammad SAW (Bahasa Madura ‘Molothen’), Isra’Mi’raj, Sa’banan (5 Sa’ban), Asyuroan (ketika bulan Asyuro, yang secara khusus tergambar pada tradisi ter-ater tajin Sora), selamatan Safaran (kertika bulan Safar), selamatan untuk orang meninggal (hari yang ke-3, 7, 40, 100, tahunan, dan 1000), hajatan pernikahan, lamaran, tasyakuran panen, selamatan wanita hamil pertama (usia kehamilan 7 bulan), kelahiran, bahkan ada yang melakukan secara terbatas namun rutin setiap minggu di malam Jumat.

Pada tradisi munjung di masyarakat Bali, waktu pelaksanaannya adalah pada hari raya keagamaan menurut agama Hindu, seperti hari raya Galungan dan tilem Kasanga. Demikianlah. Sebagai bagian dari ritus keagamaan, ater-ater dan tradisi sejenisnya dilakukan pada waktu tertentu yang dianggap templum.

  1. Barang Hantara

Tradisi ater-ater penganan dilaksanakan menjelang lebaran. (Foto : Kompas.com).

Barang hantaran pada tradisi ater-ater dan tradisi lain yang serupa adalah makanan (pakanan, pasogatan, bojana). Makanan tersebut tidak harus berupa ‘makanan besar’, namun bisa hanya berupa jajanan, atau paduan keduanya. Makanan besar antara lain berupa nasi putih, sambel goreng kentang dan hati, tumis buncis dan wortel, bergedel, tahu-tempe, telor rebus, opor ayam. dan rendang daging. Adakalanya setiap tahun menu dibuat sedikit bervariasi, dengan ditambahkan sayur sop, sayur lodeh, atau gulai labu.

Serupa dengan itu adalah hantaran makanan pada tradisi tonjokan, yang berupa nasi dan lauk pauk – misalnya telur, ayam, sambal goreng, bihun, dsb, serta bisa ditambahkan buah-buahan dan kue-kue (jajan pasar). Makin terpandang isi tonjokan makin banyak dan bervariasi. Bagitu pula pada tradisi Rantang Lebaran, makanan yang diantar berupa nasi, daging ayam masak santan (atau dikecap), sambel goreng tempe dan tahu (dapat ditambah kentang, hati ayam, dan petai), mie telor/bihun goreng, telur rebus), kerupuk.

Dalam tradisi munjung, barang yang dihantar bisa berupa makanan, namun dapat juga beragam seperti makanan, jajanan, telor, gula-kopi, beras. tahu-tempe. dsb. semampu pelakunya. Munjung dalam tradisi Bali mengutamakan makanan yang disukai oleh si mati ketika masih hidup. Begitu pula dalam ter-ater tajin Sora, hantarkan makanan secara khusus berupa bubur (tajin). Pada tradisi rebba, hantaran juga tak hanya berupa makanan, namun rebba yang diperuntukkan bagii guru ngaji dan kyai bisa juga berwujud hasil bumi seperti jagung, padi, ketela pohon dan berbagai jenis buah-buahan hasil pertanian. Spesifikasi makanan yang demikian terjadi pada tradisi Rantang Lebaran, yang dilaluknam tepat di malam Lebaran, berisi tepat di malam jelang perayaan Idulfitri (malam Takbiran), berupa hantaran rantang berisi ketupat sayur, semur atau rendang beserta kue seperti tape uli.

Demikianlah, dalam tradisi ater-ater dan tradisi lain yang serupa. Barang bawaan yang berupa makanan adalah sesuatu yang penting. Menunya bisa bermacam- macam tergantung pada apa hajatannya. Pada hajatan mendirikan rumah misallnya, menunya lebih variative. Apabila hanjatnya adalah kelahiran bayi, maka menunya khusus, yaitu nasi bancakan – terdiri atas nasi, urap sayuran, bothok, bongko, dan telur rebus. Menu ater-ater pada hajatan pernikahan pada mulanya berupa satu set nasi dan lauknya — terdiri dari nasi, ayam dada, tahu, tempe, bihun goreng, dan sambal goreng kentang — yang disusun dalam satu paket rantang, lalu diikat dengan kain untuk kemudiann dihantarkan ke sanak saudara.

Akhir-akhir ini ada pertimbangan untuk membuat menu yang lebih praktis, yakni meringkas menu makanan dalam satu susunan (set) rantang menjadi satu kotak nasi dengan menu minimalis, yakni satu porsi nasi dan ayam bakar + lalapan, atau cukup berupa nasi rames yang di taruh dalam kotak karton (kardus).

  1. Wadah Barang Hantaran

Barang yang dihantar, baik makanan, jajanan ataupun barang-barang lainnya ditempatkan di dalam wadah tertentu. Konon besek (wadah setangkup dari ayaman bambu) banyak dipilih sebagai wadah. Selain itu, terdapat wadah lain yang juga turut dipergunakan, seperti rantang, tenong, rege (wadah dari ayaman lidi), waskom, ember kecil, dsb. Ada pula wadah lainnya yang khas, khususnya yang digunakan sebagai wadah hantaran makanan ketika hajatan Mauludan, yaitu asahan (lember atau lengser) berukuran sedang dari bahan terakota. Kini wadah-wadah itu banyak berganti dengan wadah yang terbuat dari bahan plastik atau kotak karton.

Di beberapa tempat wadah makanan tersebut dibungkus dengan kain taplak atau kain serbet, sehingga tak terlihat dari pandangan luar dan untuk mempermudah dalam membawanya. Yang bersahaja adalah wadah makanan yang berupa piring-piring yang ditaruh di aras tampah (nyiru), khususnya untuk ater-ater bagi tetangga dekat.

Rantang dan tenong acap hadir sebagai satu set wadah, yang dirangkai satu sama lain. Khususnya dalam tradisi Rantang Lebaran, penyusunan makanan di dalam rantang dibuat berurutan. Rantang paling bawah berisi nasi. Rantang selanjutnya diisi dengan daging ayam, keatas lagi bisa diisi dengan mie/bihun goreng, sambal goreng, telur rebus, dan rantang yang paling atas diisi dengan kerupuk. Urutannya senantiasa sama, hampir tidak pernah berubah. Unsur sebutan ‘rantang’ dalam ‘Rantang Lebaran’ menjadi pentunjuk bahwa konon rantang dijadikan wadah faforit untuk pengahantaran makanan. Hingga kini pun rantang masih juga dipakai sebagai wadah untuk beragam makanan dan jajanan bawaan, walau bentuk, bahan dan estetikanya berubah dari waktu ke waktu,

  1. Pembawa Ater-ater

Pada dasarnya. Suapapun dapat menjadi pembawa ater-ater. Namun demikian, ada kecenderunga pesibuk adalah orang-orang tertentu. Meraka tidak melakukan kegitan ini dengan terpaksa – lantaran diperitah atau disuruh oleh orang tua, sebaliknya melakukannya dengan kerelaan bahkan kesukacitaan. Pada masyarakat Madura, penghantaran makanan (ter-ater) didominasi oleh mereka yang sedang bertunangan. Rasanya tidak pas apabila ater-ater ke sanak-saudara tidak dilakukan bersama-sama dengan tunangannya.

Dalam hal demikian, tak jarang ater-ater dijadikan sebagai ‘wahana untuk memperkenalkan tunangannya’ kepada para tetangga atau keluarga luas. Pasangan suami istri-muda yang baru nikah pun memanfaatkan momentum ter-ater untuk memperkenalkan dan sekaligus mempamerkan pasangan hidupnya pada sanak keluarga dekat maupun keluarga jauh. Diluar mereka. ter-ater cendering dilakukan oleh para wanita, baik ibu-ibu atau para gadis, bahkan anak-anak pun juga dilibatkan dalam kesibukan yang menyenangkan ini.

  1. Pelaku dan Penerima Ater-ater

Pelaku ater-ater adalah orang atau keluarga, khususnya yang mampu melaksnakannya. Sebenarnya takada kewajiban untuk menyelenggarakan tradisi ater-ater. Mengingat bahwa dibutuhkan dana yang tak sedikit, maka umumnya tradisi ini dilakukakan oleh orang atau keluarga yang secara ekonomi mampu membiayai pelaksanaannya. Namun demikian, bukanlah berarti bahwa ater-ater hanya dilakukan oleh keluaga mampu (menengah ke atas), namun keluaga pas-pasan pun merasa ‘berkewajiban’ untuk menyelenggarakannya.

Toh ater-ater atau tradisi yang serupa hanya dilangsungkan pada waktu tertentu, yakni setahun sekali atau beberapa kali dalam setahun ketika tiba hari-hari keagamaan dan manakala tengah memiliki hajat. Untuk kepentingan itu, acap keluarga pas-pasan tak bisa tidak untuk ‘mengada-adakan (nganak-anake)’ dengan menyisihkan dana khusus untuk menyelenggarakan atar-ater atau tradisi serupa. Rasanya ada yang kurang bila suatu keluarga tidak melaksanakan ater-ater di momentum demikian.

Penerima ater-ater dan tradisi serupa adalah anggota keluarga luas (extended family), tetangga dan handai taulan. Pada tradisi rebba di Madura, penerima ter-ater termasuk pula ditujukan pada sesepuh desa, guru ngaji, dan kyai pengasuh pondok pesantren). Adapun pada tradisi munjung, keutamannya adalah kepada orang tua dan saudara tua. Sedangkan pada tradisi tonjokkan, penerima adalah orang-orang tertentu (orang terplih), yakni mereka diharapkan bakal hadir dalam hajatan yang akan diselenggarakan oleh si pengirim punjung.

Khusus pada tradisi munjung pada menganut agama Hindu di Bali adalah roh anggota keluarga yang telah meninggal dan belum di-aben-kan. Pelaku ater-ater acap sekaligus menjadi penerima ater-ater, karena dalam tradisi ini terjadilah ‘pertukanran makanan’ antar anggota keluar, tetangga dan handai-taulan. Anak-anak adalah anggota keluarga yang seringkali tampil sebagai pihak penerima ater-ater yang paling ekspresif rasa senangnya. Kehadiran pengantar makanan/barang (ater-ater) disambutinya dengan penuh suka cita, meski sebenarnya dalam sehari keluarga bersangkutan telah menerima sejumlah makanan atau barang hantaran.

Maksud dan Akar Tradisi Ater-ater
1. Maksud Penyelenggaraan Ater-ater

Tradisi ater-ater aktiviasnya diniati untuk bersedekah (sodaqoh), dengan membagikan makan atau barang tertentu kepada pihak lain secara khlas demi menyambung dan mempererat tali. (Foto : Lontarmadura).

Satu aktifitas dilakukan bukan tanpa pertimbangan, bukan tanpa maksud dan tujuan. Terlebih bila aktifitas itu umum dilakukan oleh khalayak, tentu di balik pelaksanaannya ada maksud dan tujuan yang dijunjung tinggi bersama oleh para pelakunya, Aktifitas demikian berlaku untuk ater-ater, yang meski ada juga yang sinis mengatakan bahwa aktifitas itu sebagai pemborosan, foya-foya tahunan, dan kemubaziran – dengan alasan bahwa pada waktu tertentu suatu keluarga bisa memperoleh beberapa makanan hantaran, yang tidak habis dikonsumsi dalam satu dua hari, dan akhirnya sebagian terbuang.

Bagi pelaku ater-ater, aktifiasnya diniati untuk bersedekah (sodaqoh), dengan membagikan makan atau barang tertentu kepada pihak lain secara khlas demi menyambung dan mempererat tali silaturrohmi antar anggota keluarga, antar tetangga, atau antar sahabat. Maknan atau barang bawaan menjadi semacam ‘magnit perekat’ bagi interelasi sosial, menumbuhkan keakraban, yang secara periodik (tahunan) direvitalisasikan lewat tradisi ater-ater ataupun tradisi yang serupa seperti tonjokan, munjung, rebba, dan rantang Lebaran.

Pelaksanaan ater-ater pada minggu ke-4 bulan Ramadham, utamanya pada tanggal 21 s.d. 27 Ramadhan. Menilik waktunya, ater-ater merupakan ekspresi rasa syukur bahwa pelaksanaan puasa wajib bulan suci Ramadhan jelang berakhir, dan berharap dikaruniai umur Panjang untuk dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan di tahun berikutnya. Dengan jelang berakhirnya Ramadhan, berarti segera hadir bulan Syawal, dimana Hari pertama pada bulan Syawal berlangsung Hari Raya Idul Fitri (Lebaran). Demikianlah, ater-ater ibarat ‘penyambutan terhadap Lebaran’. Ketika itu banyak keluarga melaksanakan ater-ater. Diantara sanak keluarga, tetangga, atau handai taulan terjadi ‘pertukaran (exchanges) makanan’. Pada dasarnya, exchanges merupakan relasi timbal-balik, yang ditandai oleh sikap dan perbuatan ‘memberi dan menerima (take and give)’.

Pertukran makanan yang serupa dengan tradisi ater-ater didapati pada tradisi Rantang Lebaran di kalangan warga Betawi. Penghantaran makanab dilakukan tepat di malam jelang perayaan Idulfitri atau di malam Takbiran. Rantang hantaran berisi ketupat sayur, semur atau rendang beserta kue seperti tape uli. Makanan dihantar kepada saudara, kerabat, atau orang yang dituakan. Nantinya rantang tersebut akan dikembalikan dengan hasil masakan mereka, sehingga terjadilah “pertukaran makanan” antar keluarga, antar tetangga, ataupun antar sahabat.

Perisriwa ini meneladani dan menjadi pengingat bahwasanya dalam menjalankan kehidupan, manusia tak mungkin ‘mandri mutlak’ dan tidak membutuhkan orang lain. Dalam hal tertentu, orang tentu membutuhkan kontribusi dari orang lain. Sebaliknya, dalam hal tertentu pula seseorang perlu berkontribusi atau bersumbangsih kepada orang lain. Dengan bersodaqoh kepada orang lain itu, pelaku ater-ater yakni bahwa yang dilakukannya memperoleh balikan berupa diperlancar rejekinya, diperpanjang usianya, dan di auhkan dari mara bahaya.

Pengiriman makanan dalam tradisi tonjokan dimaksudkan sebagai semacam isyarat atau mengandung arti ‘pemberitahuan’ dan sekaligus ‘undangan’ untuk kelak penerima tonjokan berkenan menghadiri hajatan yang dilaksanakannya. Tonjokan dengan demikian merupakan pengganti undangan formal, atau undangan yang lebih bersifat personal. Dengan mengirimkan tonjokan, si empunya hajat benar-benar mengharapkan kehadiran penerima tonjokan pada hajatannya. Pada sisi lain, penerima tonjokan berkewajiban nantinya menghadiri undangan hajatan tersebut. Bila tidak datang. si penonjok bisa kecewa. Selain keharusan untuk datang, biasanya penerima tonjokan secara tak langsung diharap memberi ‘balasan yang pantas’ manakala menghadiri hajatannya.

Tradisi munjung merupakan ‘ekspresi bhakti’ dari anak kepada orang tuanya (ayah-ibu), atau dari saudara muda kepada suadara-saudaranya yang lebih tua. Munjung menjadi semacam “kewajiban” bagi anak yang telah menikah, dengan sasaran pemberian (makanan atau barang tertentu) terhadap Orang Tua, Mertua, Kakak/Abang Ipar, kakak kandung. Bahkan, apabila mampu dapat diperluas hingga Kakek-Nenek. Pak De. Bude, Pak Lik, Bulik, para tetangga, handai-taulan dsb.

Tradisi munjung adalah perwujudan ‘sedekah setahun sekali’. Munjung sekaligus menjadi bukti mengenai upaya untuk mempererat silaturrohmi dengan memberikan bingkisan sederhana kepada orang lain. Punjung bukan hanya diberikan kepada orang yang hidup, namun dipersembahkan pula bagi anggota keluarga yang telah meninggal. Hal ini terlihat jelas pada tradisi munjung di Bali, dimana kegiatan dilakukan di suatu pekuburan (ksetra).

Menurut ‘Lontar Medang Kemulan dan ‘Usana Dewa’, umat Hindu yang memiliki sanak keluarga yang telah wafat namun belum di-aben wajib baginya mengunjung pusara kerabatnya dengan membawa sesajian berupa makanan (punjung), utamanya makanan kesukaannya ketika masih hidup. Selama jasad belum di-aben, sanak keluarga berwajiban untuk menziarah kuburannya, sebab arwahnya diyakini belum menyatu dengan Ida Sang Hayang Widhi.

Tradisi rabba yang dilangsungkan di bulan Sya’ban juga menjadi wahana untuk mempererat silaturrahmi antar warga dan antar tetangga. Selain rebba untuk anggota keluarga, terdapat juga rebba terhadap sesepuh desa, guru ngaji dan pengasuh pondok pesantren (kyai). Persebahan makanan dan barang-barang lain bagi mereka merupakan perwujudan rasa hormat, penghargaan atas jasa yang bresangktan, dan membina relasi antara murid dengan guru, antara yang muda dengan para sesepuh desa. Demikianlah, terganbar bahwa pelaku rebba adalah orang-orang yang menjunjung tinggi nilai kekluargaan (baca “silaturrohmi”) maupun penghormatan terhadap guru dan sesepuh.

  1. Akar Tradisi Ater-ater

Ater-ater jelang Hari Raya Idul Fitri adalah tradisi yang berakar pada budaya Islam. Demikian pula ater-ater yang dilaksanakan pada bulan atau hari suci seperti Kupatan, Besaran (ketika bulan Besar). Muludan, Sa’banan, Suroan, Safaran, dan ketika Isra’Mi’raj jelas berakar pada budaya Islam. Namun demikian, tak lantas berarti bahwa tradisi ini baru hadir di Nusantara lantaran pengaruh agama dan budaya Islam. Tradisi munjung yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali menjadi petunjuk bahwa tradisi serupa ater-ater telah kedapatan pada masa pra-pengaruh agama dan budaya Islam di Indonesia. Konsepsi ater-ater yang selaras dengan konsep ‘sodaqoh’dalam ajaran Islam – khususnya sodaqoh makanan dan barang, ternyata selaras pula dengan konsepsi ‘punia’ dalam ajaran Hindu dan Buddha.

Secara harafiah, kata ‘punia (acap dilafal dengan ‘punya’), yang antara lain berarti : pemberian (khususnya kepada Brahmana), sedekah, derma, amal jariah, kedermawanan, kemurahan atau kebaikan hati, tanda mata, hadiah (Zoetmulder, 1995:887). Punya bersinonim arti dengan kata ‘yasa’ dan ‘dharma’. Istilah ini bisa dikombinasikan dengan kata-kata lain, menjadi ‘dana-punya, hina-punya, manda-punya, raja-punya, su-punya, wiphala-punya, punya-dharma, punya-karma, punya-mantra, punya-sambhara, punya-wala, punya-kari, dsb.’.

Kata jadian ‘makapunya’ menunjuk kepada: perbuatan memberikan sesuatu sebagai anugerah, dan kata ‘mapunya’ berarti : memberikan pemberian, memberikan sedekah. Sebagai perbuatan yang dinilai baik, maka banyak orang membuat pemberian (pinunya). Pelakunya dipandang sebagai orang yang dermawan, baik hati, murah hati, berjasa, berpahala, atau bajik. Pemberian sedekah yang ditujukan kepada seseorang diistilahi dengan ‘pinunyan’, yang berwujud tindakkan: menyerahkan sesuatu sebagai pemberian (umunyanken, pinunyaken). Demikianlah, perbuatan punya merupakan perwujudan akan suatu kebaikan, kebajikan, kedermawanan atau kemurahan hati (kapunyan).

Yang disedakahkan kepada orang dapat berupa barang, atau bisa juga berupa makanan. Sedekah makanan acap diberikan kepada peminta-minta, orang tua, orang kelaparan, orang miskin, dsb. Penganut Hindu dan Buddha di India berwajiban untuk memberikan sedekah makanan kepada peminta-minta, oleh sebab bisa jadi peminta-minta itu adalah orang yang tengah manjalani fase kehidupan (srama) ke-4, yakni bhiksuka atau sanyasa, yaitu hidup sebagai peminta-minta. Acapkali peminta-minta digambarkan sebagai orang tua yang membawa tongkat dan tempurung kelapa (bathok).

Suatu gambaran yang mengingatkan kita kepada lagu anak-anak berbahasa Jawa pada tiga s.d. empat dasawarsa lalu, yang memberi kita petunjuk bahwa kewajiban demikian pernah diberlakukan di Jawa. Di dalam susastra lama, gambaran serupa dijunpai pada kakawin Ramayana tentang pemberian sedekah oleh Dewi Sita kepada Rahwana [yang menyamar sebagai peminta-minta]. Meski Sita sadar bahwa ia dipantangkan untuk pemposisikan organ tubuhnya di laur garis lingkar magis yang dibuat Rama untuk melindungi dirinya, namun demi dermanya kepada peminta-minta, maka dijulurkanlah tangannya kepada peminta-minta itu hingga keluar dari garis lingkar magis. Akibatnya fatal, Rahwana yang menyamar sebagai peminta-minta itu serta-marta menarik paksa Sita hingga keluar dari lingkaran magis untuk kemudian dilarikan ke negari Langka (Alengkadhiraja).

Konsepsi punia (punya) juga berkesesuaian dengan konsep ‘aweh, weneh, paring ataupun asung’. Secara harafiah, istilah ‘aweh’ berarti: memberi, adapun kata jadian ‘awehan’ menujuk kepada perbuatan suka memberi, Akar katanya adalah ‘weh’, yakni kosa kata yang telah ada sejak masa Jawa Kuna, yang antara lain berarti: memberi. Kata jadian ‘makaweh’ menunjuk kepada perbuatan berupa : memberikan hadiah. Demikian pula kata jadian ‘meh, wineh, kawehan, amehi, winwhan, pawehan” berkenaan dengan tindakan memberi (Zoetmulder, 1995:1420).

Demikianlah, pemberian, sedekah, derma atau hadiah (wehan, paweh, weweh) adalah konsepsi lama yang diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga cukup alasan apabila dinyatakan sebagai mentradisi. Kinseosi ‘aweh’ dalam bentuk pemberian makanan berlanjut hingga kini. Masyarakat di Kota Batu misalnya mengenai sebutan ‘weweh’ — yang di sub-area Malang Timur dinamai ‘weh wehan’ — dalam arti yang sama dengan ‘ater-ater’, yakni tradisi penghantaran makanan pada menjelang :Lebaram, Sedangkan sebutan untuknya di sub-area Malang Utara adalah ‘munggahan’.

Dalam mitologi Jawa berkenaan dengan ‘Kewalian”, terdapat apa yang dinamai ‘catur piwulang Sunan Drajad’, yaitu empar hal yang diajarkan oleh Sunan Drajad. Yang menarik, masing-masing kalimat yang memuat butir-butir ajaran itu diawali denhat kata ‘aweh, weneh’, sebagai berikut.

Wenehono teken marang wong kang wutho
Wenehono mangan marang wong kang luwe
Wenehono Busono marang wong kang Mudha
Wenehono yupan marang wong kang kudhanan.

Makna wasiat Kanjeng Sunan Drajad tersebut adalah: (1) Wenehono teken marang wong kang wutho, artinya wajib menolong orang yang lemah, atau memberikan kepada seorang yang buta hatinya dengan sebuah petunjuk arah (kompas), yaitu pedoman agama. Teken (tongkat) merupakan pengejawantahan menganai petunjuk jalan, agar manusia terselamatkan dari kemaksiatan dan tidak terjerumus ke dalam dosa dan kebodohan.

Dalan kalimat ajaran lainnya, tongkat diberikan kepada ‘wong kang kalunyon’, artinya: memberi bantu alat penumpu/pegangan berupa tongkat terhadap orang yang berada dalam kondisi yang lincin, yang rentan untuk terpelset dalam menjalani kehifdupan; (2) Wenehono mangan marang wong kang luwe, artinya memberikan makan kepada orang yang menderita lapar. Oleh karena itu, mengapa barang dalam ‘zakat fitrah’ berupa bahan makan; (3) Wenehono busono marang wong kang mudha, artinya kepedulian terhadap orang lain yang belum mampu menutupi badannya. Tidak hanya dahulu pada masa jahiliyah manusia seperti binatang tak menutupi badannya dengan pakaian yang pantas; (4) Wenehono yupan marang wong kang kudhanan, artinya memberikan pengayoman dan tempat yang layak serta aman kepada setiap manusia yang mendapatkan musibah, yang berupa tempat berteduh.

Dalam suluk bubar secara “filosofis sosiologis” Sunan Binang memberika wejangan dengan kalimat:
“………asid (e) qaha bapa rina wengi,
Anandur sadengah gawe amal,
Agawe wot marga gedhe,
Lan agawia sumur pinggir marga,
Lan aweh b (m) ukti ing wong kaluwen ika,
Lan aweha patung,
Mangke ponang kapanasan………”.

Artinya ;
“………Bersedekahlah bapak siang dan malam, menanam apa saja sebagai amal membuat jembatan di jalan besar, dan membuat sumur di pinggir jalan, dan berilah kenikmatan (mukti) kepada orang yang lapar, dan bersegeralah beri payung kepada orang yang kepanasan………”.

Pada intinya, kalimat itu selaras dengan Catur Piwulang tersebut diatas, yaitu; (1) Paring teken marang kang kalunyon lan wuta, (2) Paring pangan marang kang kaliren, (3) Paring sandang marang kang kawudan, dan (4) Paring payung marang kang kodanan. Kewajiban yang demikian meruakan tugas utama dari penguasa (sang nata), sebagai cermin atas keluhurannya. Terdapat ajaran Jawa yang menyatakan “Dene kaluhurane sang nata paring sandhang marang wong kawudan, asung pangan wong keluwen, aweh banyu wong kasatan, paring teken wong kalu¬nyon. Asung kudhung wong kepanasan, aweh payung wong kudanan.

Karya su¬kane wong prihatin, amulyakaken wong kang sakit, sarta anindakake sama beda dana dhendha’. Dalam ajaran ini, salah satu barang yang disekahkan (diparingke, diwenehke, diasungke) adalah makanan atau bahan makan, seperti tergambar jelas pada tradisi Ater-ater, Tonjokan, Munjung, Rebba dan Rantang Ledbaran, sehingga cukuplah alasan untuk menyatakan bahwa tradisi ini memiliki akar sejarah panjang, lintas generasi. Kelestariannya dalam kurun waktu yang lama tersebut lantaran arti penting (urgensi) yang terkandung di dalam maknanya.

Demikian tulisan bersahaja ini, yang dibuat sebagai ‘tausiah budaya’ terkait dengan tradisi ater-ater atau tradisi lain yang serupa (tonjokan, munjung, rebba dan rantang Lebaran). Semoga mampu membuahkan kefaedahan. Nuwum.

Sangkaliang, 13 Juni 2018, Griya Ajar CITRALEKHA

Dwi Cahyono

*Arkeolog dan dosen sejarah Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini