Puluhan Jurnalis Berkomitmen Membentuk Forum Keselamatan

Aksi jurnalis memprotes kekerasan yang dilakukan polisi saat aksi unjukrasa Omnibus Law 8 Oktober 2020. (Foto : AJI Malang).

Terakota.id–Jurnalis Malang, Tulungagung, Pasuruan dan Probolinggo berkomitmen membentuk forum untuk keselamatan jurnalis. Menyusul ancaman dan potensi kekerasan yang dialami jurnalis di keempat wilayah.  Komitmen ini disampaikan usai mengikuti  Journalist Safety and Security Training selama lima hari secara daring yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), USAID, Internews, dan AJI Malang.

“Sebanyak 20 jurnalis berlatih beragam keterampilan keamanan dan keselamatan selama liputan di lapangan,” kata Ketua AJI Malang, M. Zainuddin menutup pelatihan pada Ahad, 19 September 2021.

Komitmen lanjutan akan dibahas lebih mendalam untuk memberikan perlindungan jurnalis saat menghadapi ancaman kekerasan di lapangan. Para jurnalis berkomunikasi dan berbagi informasi termasuk karakter kekerasan yang selama ini terjadi di daerah masing-masing.

Materi pelatihan meliputi keamanan fisik dalam liputan bencana alam, liputan khusus, keselamatan bagi jurnalis perempuan. Serta strategi hukum dan mitigasi menghadapi ancaman fisik, ancaman psikis. Juga ancaman digital, dan keamanan aspek digital.

Dalam aspek digital, katanya, mereka dilatih dasar keamanan digital, manajemen identitas, kebersihan digital dan komunikasi yang aman. Pelatihan ini menghadirkan dua trainer, yakni jurnalis kontan yang juga bekas Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani Amri dan jurnalis suarariau.co, Imelda Vinolia.

Sebanyak 20 jurnalis mengikuti Journalist Safety and Security Training selama lima hari secara daring yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), USAID, Internews, dan AJI Malang.

Pelatihan ini diselenggarakan setelah beberapa kali sejumlah jurnalis mengalami doxing hingga kekerasan fisik. Data AJI, menyebutkan total sebanyak 83 kasus kekerasan terhadap jurnalis pada 2020. Sedangkan di Malang Raya, sebanyak 15 jurnalis mengalami kekerasan saat meliput demonstrasi Omnibus Law.

Pelatihan ini berlangsung secara dua arah. Peserta berbagi pengalaman saat liputan bencana maupun saat mengalami korban kekerasan. Pelatihan menggunakan Learning Management System.

“Diharap berbagi pengalaman ini membuat peserta memahami potensi ancaman yang bakal dialami selama bekerja jurnalistik,” tambahnya.

Jurnalis Times Indonesia dari Probolinggo Happy Lailatuansyah mengaku beruntung bisa mengikuti pelatihan yang fokus dalam keamanan dan keselamatan jurnalis. Apalagi, di Probolinggo sejumlah jurnalis juga pernah mengalami kekerasan. “Saya baru kali ini mengikuti pelatihan yang fokus dalam aspek keamanan dan keselamatan jurnalis. Pelatihan yang super,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini