Puasa Komedi Slapstick

puasa-komedi-slapstick
Gambar : Instagram ANTV

Oleh : Sugeng Winarno*

Terakota.id-Jelang waktu sahur, saya nyalakan televisi. Ketika saya pindah-pindah saluran, perhatian saya tertuju pada ANTV. Sepanjang bulan puasa saya saksikan adegan seorang komedian yang wajahnya dilumuri tepung dan penonton di studio tertawa terbahak saat adegan itu berlangsung. Itulah salah satu adegan dalam acara “Sahurnya Pesbukers” yang tayang rutin mulai jam 2 pagi setiap hari selama Ramadan.

Ketika saya pencet remot untuk pindah kanal, saya terhenti di Trans 7. Saya lihat acara komedi yang dimainkan Parto, Denny Cagur dan kawan-kawannya. Acara yang disiarkan mulai jam 2 pagi ini bertajuk “Sahur Segerr”. Konsep acaranya hampir sama dengan ANTV. Ketika saya perhatikan, materi kelucuan yang muncul tak jauh dari model komedi kasar. Komedi yang memancing kelucuan penonton di studio dan di rumah dengan adegan fisik.

Saat saya coba ganti saluran televisi, saya melihat komedi serupa yang dimainkan oleh Wendy Cagur, Ivan Gunawan, Jesica Iskandar, dan sejumlah artis komedi lain di Trans TV. Melalui acara “Gado-Gado Sahur” yang ditayangkan mulai jam 2.30 WIB, Trans TV mencoba menemani penonton makan sahur dengan sajian komedi dan nyanyian.

Setali tiga uang saat sahur, saat berbuka saya lihat sejumlah stasiun televisi juga menyajikan acara komedi kasar. ANTV punya “Pesbuker Ramadan”. Dalam sebuah episode, saya saksikan beberapa pemain mengundang kelucuan dengan setting sebuah tempat yang licin. Beberapa pemain sengaja melintasi tempat licin itu dan terjatuh yang akhirnya mengundang tawa semua yang menyaksikan.

Saat Ramadan ini, sejumlah stasiun televisi menjadikan acara komedi sebagai menu utama jelang waktu berbuka dan makan sahur. Namun sayang, tak jarang acara komedi yang tersaji termasuk dalam komedi kasar (slapstick comedy). Tampilan komedi genre ini dinilai banyak pihak kurang cocok dan bisa menodai kesucian bulan Ramadan.

Komedi Slapstick

Slapstick adalah jenis komedi fisik yang mengundang kelucuan lewat permainan fisik. Komedi jenis ini mencakup tiga hal yakni derita, celaka, dan aniaya. Komedi slapstick mengandalkan kelucuan dengan adegan yang menyerang fisik dan dialog yang kasar. Kelucuan dibangun banyak lewat tindakan fisik, saling mengolok, mencemooh, dan merendahkan diantara para tokoh yang sedang memainkan komedi ini.

Komedi slapstick merupakan jenis komedi yang tak banyak mengandalkan kata-kata, namun kelucuan dibangun lewat mimik wajah, gerakan tangan,  atau lewat bahasa tubuh. Menurut sejarahnya, kata slapstick berasal dari tongkat yang sering dipergunakan oleh para badut dalam pertunjukan sirkus waktu itu. Dengan tongkat, para badut melakukan adegan sarkastik terhadap lawan mainnya guna memancing tawa penonton.

Dalam sejarah peradaban manusia, komedi slapstick merupakan lawakan primitif manusia. Ini jenis komedi yang paling mudah dipahami tanpa terkendala oleh bahasa verbal. Untuk membuat orang tertawa tanpa melalui proses yang rumit melalui pemahaman bahasa dan pemikiran. Komedi slapstick tak sama dengan Stand Up Comedy (komedi monolog) yang menuntut penikmatnya berfikir keras untuk menemukan kelucuannya.

Di Indonesia sejumlah komedian yang sering memainkan komedi slapstick misalnya Srimulat, Jojon cs, Warkop DKI, dan beberapa group lawak lainnya. Lihat saja kelucuan yang sering muncul di Srimulat. Seseorang hendak duduk, sementara kursinya ditarik mundur oleh lawan mainnya hingga seseorang itu terjatuh dan penonton tertawa geerr menyaksikan adegan itu.

Di setiap Ramadan, komedi slapstick selalu muncul menemani pemirsa saat jelang sahur dan waktu berbuka. Selalu terjadi pengulangan acara komedi jenis ini dari tahun ke tahun. Sudah sering kali tayangan komedi jenis ini disemprit oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan sejumlah pemerhati tayangan televisi.

Jadi Kekhawatiran

Sepintas acara komedi slapstick sepertinya bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan. Padahal, melalui lelucon kasar tersebut bisa jadi akan diikuti oleh penonton, terutama anak-anak dan remaja. Melakukan tindakan sarkasme lambat laun akan menjadi kegiatan yang permisif dan lumrah. Inilah yang berbahaya. Orang melakukan tindakan kasar tanpa merasa bersalah.

Tak jarang pembuat acara televisi yang menargetkan hanya membuat penonton tertawa terbahak. Segala cara ditempuh, termasuk dengan menampilkan kekerasan fisik maupun kata-kata guna mengundang orang tertawa. Beberapa produser acara televisi menilai semua adegan yang tersaji adalah kelucuan belaka, sementara tak semua penonton punya pola fikir yang sama ketika menyaksikan acara tersebut.

Menjalani hidup memang tak melulu harus serius dan kaku. Melalui humor dan komedi memang segala ketegangan bisa dikendurkan. Seperti halnya musik, komedi adalah bahasa yang universal yang terus langgeng menemani kehidupan manusia. Komedi selalu ada di mana-mana. Orang senantiasa terbahak di warung-warung kopi hingga forum-forum akademik yang serius.

Lewat beragam platform media sosial dan WhatsApp, tak sedikit orang menyebar lelucon. Beragam bentuk pesan bernada lucu juga muncul di media cetak dan elektronik. Melalui kartun atau karikatur, cerita lucu, foto, dan meme mencoba mengajak pengguna media untuk tersenyum dan tertawa.

Ini salah satu bukti bahwa komedi tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Mengingat begitu masifnya penikmat komedi, maka para kreator komedi hendaknya berfikir efek negatif dari komedi yang dibuat. Komedi slapstick berpotensi menularkan cara-cara melakukan kekerasan yang dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Acara komedi yang sarat dengan caci maki dan kekerasan fisik harus disudahi. Masih banyak cara lain untuk berkomedi. Tak harus kasar. Untuk itu puasa menonton komedi slapstick menjadi penting dilakukan.

Sikap kritis masyarakat penonton sangat diperlukan dalam upaya bermedia televisi yang sehat. Ingat, tak semua yang tersaji di televisi itu layak dikonsumsi. Ibarat sebuah makanan, acara televisi juga mungkin mengandung zat-zat berbahaya bagi tubuh yang bisa memengaruhi kesehatan mental dan jasmani seseorang. Tekan tombol off pada remot televisi anda bila acara tak mendidik muncul. Berani tolak program buruk televisi itu hebat. (*)

*) Penulis adalah Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini