Psikoterapi pada Sebuah Proses Teater

Sebuah Catatan dan Hasil Diskusi Pra-Pementasan Ruang Karakter: [Soliloquy] Cerita Cinta Hari Ini karya sutradara Doni Kus Indarto, dengan tajuk Teater Sebagai Media Terapi.

Oleh Mutia Husna Avezahra*

Begitu banyak sajian menarik panggung pertunjukan kota Malang di penghujung 2016, seolah menjadi perayaan atas segala ide yang tumpah ruah di udara. Ruang Karakter turut memeriahkan Desember dengan membidani persalinan pentas produksi ke-12, berjudul: Soliloquy [Cerita Cinta Hari Ini] karya sutradara Doni Kus Indarto.

Bukan waktu yang singkat untuk mengerami embrio pementasan Soliloquy, dimana penggarapannya telah dimulai sejak Ramadhan pertengahan 2016. Saya pribadi, sebenarnya merupakan bagian dari barisan para aktor yang gugur di tengah jalan. Karena suatu perjalanan ke benua lain, mengakibatkan saya tidak dapat mengikuti proses latihan secara kaffah. Tetapi demi janji saya pada Mas Wishnu (Pemimpin Produksi) dan Pak Doni untuk menuntaskan proses belajar di Ruang Karakter, maka saya akan tetap setia berada di proses Soliloquy meski bukan menjadi seorang aktor.

Teater dan Medium Terapi
Ide tentang teater sebagai media terapi sebenarnya muncul secara spontan di seperempat proses penggarapan, saat brainstorming tentang nilai apa yang hendak ditawarkan di atas panggung pertunjukan. Seiring berjalannya waktu, obrolan saya dan Pak Doni mengerucut pada fungsi teater sebagai media pembebasan luka-luka yang membentuk diri saat ini. Juga meraba pada fenomena di dunia teater itu sendiri yang terdengar paradoks, mengenai keberhasilan seorang aktor menghadirkan sosok lain dengan meniadakan atau membunuh dirinya di atas panggung. Sementara itu, Soliloquy berusaha menempatkan para pemain sebagai manusia yang hendak memerankan dirinya sesuai realitas yang sedang dihadapi untuk disodorkan keberadaannya kepada para penonton.

Maka, dalam hal ini teater mencoba untuk lebih bermesraan dengan ilmu psikologi, dimana panggung pementasan bukanlah tujuan dari teater itu sendiri, tetapi lebih menyoroti proses penghayatan yang ingin dicapai. Harapannya usai pementasan ini berakhir, dapat tercipta keselarasan antara pengetahuan, pengalaman dan gerak ragawi para pemainnya.

Baca juga :  Bumi Hangus

Oleh sebab itu, kami bersepakat tidak ada naskah tertulis yang menjadi panduan konstruksi cerita. Tidak ada naskah cerita kenamaan yang melatarbelakangi suatu pementasan. Masing-masing aktor punya kewajiban untuk membikin naskahnya sendiri, sehingga bingkai kisah yang hendak disajikan adalah berupa hal paling privasi: suatu pengalaman signifikan yang datang dari gelapnya goa terdalam alam kesadaran seorang manusia.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini