Proyeksi Malang sebagai Konstelasi Kota Pendidikan dan Budaya

Oleh : *Muhammad Nashir

Terakota.id–Pendidikan adalah Ibu dari Kebudayaan. Sistem Pendidikan yang salah akan menghasilkan kesalahan dalam meramu pemahaman Kebudayaan. Saya sepakat dengan pandangan Dr. Ali Syariati (Filosof Muslim dari Iran) dalam bukunya yang berjudul Ideologi Kaum Intelektual bahwa Kebudayaan di hasilkan dari Nilai Dasar Hukum Agama, Hukum Negara dan Kesenian, karena itulah sifat dasar sebuah kebudayaan itu selalu halus dan indah ini sebagai pembentuk nilai dasar kamanungsan dalam hidup dan kehidupan.

Pendidikan adalah jalan utama dalam proses pembentukan karakter dasar berkebangsaan dan bernegara. Karena itulah dalam konteks Kota Malang, Pemerintah harusnya menjadikan Bahasa Daerah dan Seni Lokalitas masuk sebagai Kurikulum Wajib di sekolah tingkat SD, Kebijakan ini akan berdampak cukup luas bagi pembentukan karakter kebudayaan masyrakat serta pembentukan tradisi lokalitasnya, juga dari sisi ekonomi seniman dn budaya dalam mengapresiasi kesenian di Kota Malang. Jika ini bisa terwujud jelas juga akan berdampak pada ekowisata untuk pemerintah dan masyarakat di Kota Malang.

Saat ini kondisi kita secara umum sedang mengalami banyak cobaan dengan maraknya degradasi nilai-nilai. Nilai dasar dan Hukum agama yg begitu luas, berusaha di persempit maknanya dan menjadi kaku pelaksanaannya dalam hidup bersosial. Hukum negarapun sudah di permainkan sebegitu rupa, dan sudah semakin jauh meninggalkan nilai-nilai dasar keadilan dan kemanusiaan.

Kesenian juga sudah di pertaruhkan dan di tempatkan hanya dari sisi ekonomi semata, menjadi populis dan kehilangan sense of social dan sense of humanity nya, seni tradisi yang jelas-jelas itu menggambarkan keberadaan jiwa dan alam pikiran masyarakat setempat sudah diisukan bahwa kesenian semacam itu adalah barang rongsokan yang sudah tidak lagi memenuhi era nya. Sudah kehilangan grengnya (padahal mereka ini melihat seni (Kebudayaan/nilai) dari sudut pandang kemajuan teknologi (Peradaban). sebuah pola struktur berfikir yang salah, sehingga akan menghasilkan kebijakan yang salah pula.

Tak ada satu negara besar yang tidak mempunyai atau membangun gedung-gedung yang sangat representatif untuk apresiasi Kesenian. Mereka sangat sadar bahwa hanya kesenianlah yang bisa menghaluskan hati, perasaan dan jiwa manusia selain ajaran agama. Seni adalah bahasa universal, media komunikasi yang paling bisa di terima oleh semua kalangan.

Pada era 1970-1980an pun Malang juga mempunyai banyak lahan untuk apresiasi kesenian, ada Gedung Pulosari, Gedung Cendrawasih, Lapangan Indrokilo, Stadion luar Gajayana dll. Pada era itu pula Malang menghasilkan banyak seniman-seniman besar dan pemikir-pemikir kebudayaan yang cukup mumpuni dan di segani, baik itu seniman musik dan lain-lain.

Pada era 1990an bencana kesenian itu mulai terjadi, gedung-gedung untuk ruang apresiasi di ambil alih oleh pemerintah, ada yang di perjual-belikan dan ada pula yang berubah fungsi, pemerintah melihat hanya dari sisi keuntungan material semata. Bukan mencari solusi untuk mengubah manajemen pengelolaan tapi justru menghabisi semua gedung yang notabene nya adalah pusat membangun Kebudayaan atau penghalus budi manusia itu.

Pemerintah harus mengembalikan lagi ruang-ruang itu, membangun lagi gedung kesenian atau art centre demi mengembalikan lagi kejayaan Kebudayaan dan Peradaban yang lebih manusiawi di kota Malang. Dan itu harus benar-benar di pikirkan oleh siapapun itu yang akan meñjadi Kepala Daerah.

Malang 12 Februari 2018

Muhammad Nashir (Dokumen pribadi)

*Seniman dan pegiat literasi

 

Tinggalkan Balasan