Prosesi “Hadeg Rajaprasasti Sangguran” di Bhumi Ngadat Perwujudan Kecintaan pada Sejarah

Prosesi mendirikan replika Prasasti Sangguran di punden Mbah Tarminah, Ngadat, Batu. (Foto : M. Dwi Cahyono).

Replikasi “Tetenger Sejarah Daerah”

Terakota.idMutiara kata bilang “tidak ada rotan, akar pun jadi”. Tersirat arti bahwa kendatipun hal utama yang sesungguhnya tidaklah memungkinkan untuk bisa dihadirkan, apa yang dapat dijadikan sebagai “pengganti serupa”nya telah cukuplah berarti. Siratan makna mutiara kata tersebut menyemangati sejumlah pemeduli sejarah dan budaya di Malang Raya untuk berbuat sesuatu bagi petanda (tetenger) sejarah daerahnya, yakni Sejarah Daerah Batu.

Tetenger itu berupa prasasti, yakni linggopra- sasti (prasasti batu) Sangguran (928 Masehi). Sejak awal tahun 1800-an hingga kini, prasasti Sangguran berada nun jauh di sebarang sana, di Negara Schotlandia. Mengapa prasasti yang mulanya berada di daerah Batu itu bisa “melanglang lintas benua” dari Kota Batu pada benua Asia ke negara Schotlandia di benua Eropa. Terlebih dahulu sempat singgah beberapa lama di Kolkata (sebelumnyap bernama “Calcutta” atau “Kalkuta”), yakni kota pelabuhan Bengal (Benggala Barat)?

 Sangguran Tetkesan “Prasasti Hadiah”

Prasasti itu disebut dengan “Sangguran” mendasarkan pada nama desa arkais (kuno), yang oleh prasasti ini dikabarkan pernah mendapat anugerah (waranugraha) istimewa berbentuk “pengubahan status administrasi desa”, dari desa biasa menjadi desa pedikan (sima atau swatantra). Pada mulanya prasasti Sangguran bertempat di desa bernama “Ngadat”.

Dalam perkembangannya, yakni pasca kemerdekaan RI, areal Ngandat menciut. Kini tinggal menjadi salah satu diantara dua dusun di wilayah Desa Mojorejo Kecamatan Junrejo Kota Batu. Berdasar tempat asalnya di Ngandat itu, prasasti disebut dengan “Prasasti Ngandat”.

Prasasti bertarih Saka 850 Saka (koversi dalam tarih Masehi : 2 Agustus 928) tersebut, konon oleh Letnan Gubernur Jawa (1811 – 1816) Sir Thomas Stamford Bingley Raffles dihadiahkan kepada atasannya, yaitu Gilbert Elliot-Murray- Kynynmound, 1st Earl of Minto (lebih dikenal dengan “Lord Minto”). Kala itu ia menjabat Gubernur Jendral India di Calcutta (tahun 1806 hingga 1813).

Prosesi mendirikan replika Prasasti Sangguran di punden Mbah Tarminah, Ngadat, Batu. (Foto : M. Dwi Cahyono).

Hampir seabad lamanya (1833- 1912) Kolkata dijadikan ibu kota India. Setelah purna tugas di Calcutta dan kembali ke Inggris, prasasti Sangguran pun turut dibawa pulang, dan selanjutnya dijadikan sebagai salah satu benda koleksi di tempat kediamannya (disebut “Minto’s House). Kini berada Scholandia (dahulu masuk dalam wilayah Britania Raya). Oleh karena itu, prasasti Sangguran acap pula dinamai dengan “Batu Minto (Minto Steen)“.

Sebenarnya, disamping prasasti Sangguran itu, ada prasasti lain yang berasal dari era pemerin- tahan Airlangga. Yaitu prasasti Pucangan (ta& hun 1041/1042 Masehi) yang juga dihadiahkan oleh Raffles kepada Lord Minto yang ketika itu berkedudukan di Calcutta. Oleh karena itu, pra sasti Pucangan juga dinamai dengan “Prasasti Calcutta”.

Anehnya, dari dua prasasti yang diha- diahkan oleh Raffles kepada Minto itu, hanya prasasti Sangguran yang dibawanya pulang ke Eropa. Sedangkan prasasti Pucangan ditinggal di Calcutta hingga kini. Mengapa Th. S. Raffles “menghadiahkan” dua prasasti buah yang berasal dari Jawa tersebut kepada Lord Minto?

Tampaknya, hal itu semacam “gratifikasi” dari seorang pejabat bawahan (Raffles) untuk “menyenangkan hati” atasannya (Minto), lantaran Minto memiliki memori atas Jawa. Meski cuma sebentar, pada 1811 dia sempat ditugasi menjadi Gubernur Letnan Hindia-Belanda, se- belum posisi ini pada tahun yang sama dioper kepada Th. S. Raffles.

Pada konteks ini prasasti Sangguran yang memuat berita tentang hadiah (anugerah) istimewa dari Raja Wawa (Bawa) kepada kelompok penempa logam pada era pe- merintahan kerajaan Mataram di masa Hindu- Buddha, kembali dijadikan “hadiah” oleh Raffles kepada Lord Minto (pejabat atasannya).

Hadeg Replika Prasasti Sangguran di Bhumi Ngandat

Pada Minggu Pon, 21 Februari 2021, sekitar tengah hari sekelompok pemeduli sejarah dan budaya, secara “swakarsa dan swadana” melaksanakan prosesi “hadeg (mendirikan, mereka juga mengistilahinya “nglenggahaken“) replika atau tepatnya “duplikat” dari prasasti Sangguran (prasasti Ngandat atau Batu Minto).

Bukan tanpa pertimbangan jika replika prasasti ini ditempatkan di suatu punden pada Dusun Ngandat (acapkali dinamai dengan “punden Mbah Tarminah”, yang merupakan sumber air kuno). Tergambar tentang adanya upaya untuk seolah “mengembalikan” prasasti Sangguran konon asal Desa Ngandat tersebut kembali ke lokasi asalnya di Dusun Ngandat kini.

Meski yang di’staran’kan (ditegakkan) itu hanya “replika (duplikat)” prasasti, namun prosesnya itu tak hanya bersifat teknis. Yaitu mengangkat dan menempatkan duplikat prasasti yang amat berat ini ke pedestalnya (yang telah disiapkan sejak Januari 2021. Prosesi ini diselenggarakan dengan suatu ritus yang diperlengkapi sesajian jangkep sesuai informasi tentang ragam boga yang dikabarkan oleh prasasti Sangguran.

Bisa dibilang bahwa “napak tilas sejarah” dicoba optimalkan untuk diikuti sedari pembuatan, pengangkutan hingga penempatkannya ke dalam pedestal. Prosesi hadeg prasasti diawali dengan guyuran hujan deras di siang bolong (tengah hari).

Tempat duplikat prasasti Sangguran itu dibuat berada di Jalan Samadi pada Desa Sanggrahan di tengah Kota Batu. Berjarak sekitar 5 kilometer dari calon lokasi penempatannya pada Dusun Ngandat di Desa Mojorejo. Adapun prosesi boyong dari Desa Sanggrahan ke Mojorejo telah dilakukan tiga hari sebelumnya. Yaitu pada 18 Frebruari 2021, tepat pada tengah malam (pukul 23.00 sampai 01.00) malam Jumat Legi.

Prosesi mendirikan replika Prasasti Sangguran di punden Mbah Tarminah, Ngadat, Batu. (Foto : M. Dwi Cahyono).

Uniknya, replika prasasti yang sangat berat itu diangkut dengan menggunakan gledekan yang ditarik-dorong ataupun ditahan lajunya. Karena topografi daerah Batu tidak rata. Pada tengah malam dan sempat kena guyuran hujan-angin dalam perjalanannya. Baik prosesi boyong maupun pendiriannya disertai oleh hujan. Serupa dengan “udan basuki”, yaitu hujan yang membawa kebaikan.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan (Januari-Februari 2021), replika prasasti Sangguran terbilang relatif lancar dibuat di Desa Sanggrahan. Kemudian diboyong ke Desa Mojorejo, dan akhirnya berhasil ditegakkan di punden Ngandat. Suatu ikhtiar sebagai wujud “bhakti budaya”, yang menurut hemat saya itu luar biasa.

Terlebih lagi upaya ini dilaksanakan swakarsa dan swadana. Kendati relatif singkat pengerjaannya. Namun tahap demi tahap dijalani secara khidmat. Suatu bukti nyata bahwa sejatinya kecintaan terhadap sejarah maupun budaya leluhur masih eksis di era yang serba modern kini.

Prasasti Sangguran”Petanda Mula Sejarah Daerah Batu”

Bagi daerah Batu, prasasti Sangguran memiliki arti penting, karena : (a) sejauh telah ditemukan, prasasti Sangguran merupakan prasasti yang jelas-jelas berasal dari daerah Batu; (b) merupakan prasasti panjang dan tertua yang pokok isinya berkenaan dengan desa kuno di daerah Batu yang berstatus “sima (swatantra)”, (c) memuat informasi historis tentang pelaku teknologi tinggi pada zamannya, yakni teknologi logam kuno (paleo-metalorgy), khususnya teknologi tempa logam yang memproduksi persenjataan perang, (d) memberitakan tentang adanya suatu bangunan suci (disebut “prasada kabhaktyan”) di Mananjung, yang bukan tidak mungkin bahwa reruntuhan candi bata di Desa Pendem (kini tetangga Desa Mojorejo) merupakan bangunan suci kelompok penempa logam (kajuru gusalyan) warga desa kuno Sangguran.

Oleh karena itu semestinya prasasti Sangguran (prasasti Ngandat) yang merupakan “Petanda Mula Sejarah Daerah Batu” mendapat perhatian, baik dari pemerintah maupun masyarakat Batu. Warga masyarakat telah bergerak, yakni adanya ikhtiar kelompok orang pemeduli sejarah dan budaya di Malang Raya yang membuat dan mendirikan duplikat prasasti Sangguran.

Memang yang dihadirkan itu bukanlah prasasti aslinya, melainkan hanya duplikatnya. Namun, seperti halnya kata mutiara “tidak ada rotan, akar pun jadi”, duplikat prasasti tersebut ibarat “akar”, adapun “rotan”nya adalah prasasti batu Sangguran yang asli. Kini berada jauh di negara manca, tak mudah untuk dikembalikan. Pengembaliannya membutuhkan penyelesaian secara “G to G” (Goverment to Goverment), yakni antar negara.

Besar harapan Pemerintah Kota Batu mendo- rong Penerintah Republik Indonesia kembali mengusahakan “kembalinya” linggoprasasti Sangguran yang kini berada di Schotlandia ke daerah asalnya di Batu. Selain itu, ada baiknya di taman depan Balai Kota Among Tani bakal ditempatkan duplikat prasasti Sangguran dalam ukuran dua atau tiga kali ukuran aslinya sebagai tetenger bahwasa prasasti ini merupakan “Petanda Mula Sejarah Daerah Batu”.

Sebagai catatan, hal serupa telah dikerjakan oleh Kabupaten Nganjuk). Duplikat prasasti Sangguran yang telah ditempatkan di Punden Ngadat itu dalam ukuran yang sama dengan aslinya (real size), adapun yang akan ditempat- kan pada halaman depan Balai Kota Among Tami yang amat luas itu adalah “perbesaran” daripada ukuran aslinya sehingga tampil lebih monumental.

Tanpa menyebut nama satu per satu, terima kasih atas bhakti budaya sedulur-sedulur yang telah pemprakarsai hingga merealisasi tegaknya kembali prasasti Ngadat (Sangguran) pada Bhumi Ngandat. Semoga menjadi teladan bagi sedulur&sedulur di daerah lain. Nuwun.

Sangkaling, 22 Februari 2021

Griyajar CITRALEKHA

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini