Produktifitas Kopi Amstirdam Malang Melonjak 2,5 Ton Per Hektare

Petani kopi di Amstirdam Malang mendapat pengetahuan alih teknologi dalam merawat tanaman. (Foto : Yayasan IDH)

Terakota.idProduktifitas kopi di kawasan Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit (Amstirdam) Kabupaten Malang melonjak dari semula 800 kilogram per hektare menjadi 2,5 ton per hektare. Bahkan di sejumlah tempat bisa mencapai 3 ton sampai 3,5 ton per hektare. Sedangkan potensi lahan pertanian seluas 15 ribu hektare.

“Lahan yang tak produktif, diubah dan dikelola dengan pola pertanian intenstif sehingga produktifitas tinggi,” katanya Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Jajang Slamet Soemantri dalam webinar Pembelajaran dari Program Pengembangan Produktivitas Kopi di Malang, Jawa Timur, Kamis 8 Juli 2021.

Terjadi alih teknologi pertanian kopi setelah menggerakkan 540 master trainer yang menjangkai 15 ribu petani terdampak. Pemeintahan Kabupaten Malang juga mendukung dengan menurunkan penyuluh pertanian di lapangan. Penyediaan bibit kopi unggul, pupuk organik, dan alat pengolah kopi.

Karakter petani di tiga kecamatan tersebut merupakan petani gurem dengan kepemilikan lahan kurang dari 1 hektare. Bahkan banyak yang memiliki kurang dari 0,5 hektare. Dengan pola tanam monokultur sehingga tak berdampak signifikan terhadap kesejahteraan petani.

Selain itu perbankan menyalurkan pinjaman lunak sebesar Rp 30 miliar kepada para petani yang tergabung dalam 32 gapoktan, dan 120 kelompok tani. Juga diterapkan diversifikasi usaha dengan tanaman sela seperti pisang, vanila, jahe dan budidaya lebah madu, wisata petik kopi dan ternak kambing.

Petani kopi dari Ampelgading Yuniarti mengaku bertani kopi dilakukan secara  turun temurun. Pola budidaya kopi dilakukan secara konvensional dari orang tua. “Selama lima tahun ini, saya mendapatkan ilmu dan keterampilan budidaya kopi yang baik,” katanya.

Kopi dihasilkan kategori grade A, sedangkan biaya produksi bisa dipangkas. Lantaran pupuk tanaman kopi diproduksi sendiri menggunakan pupuk kompos. Mutu kopi awalnya dengan cara asalan, kini dilakukan pemilihan  kopi yang berkualitas baik. Selain itu, petani juga memasarkan produksi secara berkelompok sehingga lebih menguntungkan.

Ekosistem Budidaya Kopi

Produktifitas tanaman kopi meningkat berkat intervensi yang dilakukan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) dengan ekposrtir kopi PT Asal Jaya, Dampit. Alih teknologi sistem budidaya kopi diterapkan sejak 2016. Program Manager Commodities and Intact Forest Yayasan IDH Melati menjelaskan awalnya budidaya kopi dilakukan dengan konvensional karena keterbatasan pengetahuan pengelolaan lahan, teknik memetik kopi, dan pemasaran.

“Masing-masing petani memiliki cara yang berbeda. Sehingga kopi yang dihasilkan tidak maksimal dan kualitasnya tidak seragam,” katanya. IDH membangun ekosistem terintegrasi kelompok petani kopi, membentuk kelompok tani dan pelatihan. Selain itu, diterapkan kegiatan nyata di lapangan melalui kebun percontohan atau demo farm.

Petani juga beternak kambing, kotoran dan urin diolah menjadi kompos. Serta kompos dari olahan kulit biji kopi. “Pengembangan ekosistem ini menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi,” katanya.

Sementara Direktur PT Asal Jaya Haryanto menjelaskan permintaan biji kopi untuk pasar ekspor tinggi. Sementara petani di Malang masih sangat minim, sekitar 10 persen dari total kopi yang diekspor. Sehingga mendorong PT Asal Jaya mengembangkan pertanian kopi lokal yang keberlanjutan. PT Asal Jaya mengekspor kopi sejak 1993, dengan tujuan ke lebih dari 40 negara di dunia.

Kegiatan petani di kebun percontohan di salah satu kelompok tani Amstirdam. (Foto : Yayasan IDH).

PT Asal Jaya dan Yayasan IDH kerjasama dengan sistem co-funding atau pendanaan bersama. Pelatihan kepada para petani didukung Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI), sebuah platform nasional pemangku kepentingan sektor kopi Indonesia. Tujuannya untuk mewujudkan kopi berkelanjutan, bergotong royong seluruh aktor di rantai pasok kopi.

“Program ini menjadi tolak ukur langkah nyata yang dilakukan sektor swasta,” kata Direktur Eksekutif SCOPI, Paramita Mentari Kesuma.

Perusahaan kopi Jacobs Douwe Egberts (JDE) mendukung program sistem budidaya kopi berkelanjutan. Apalagi, mampu mendongkrak produktifitas tanaman kopi semula 800 kilogram menjadi 2,5 ton per hektare. JDE bekerjasama dengan PT Asal Jaya sebagai mitra pemasok kopi sampai 2023.

“Sebagai pembeli akhir dari rantai kopi, kami tertarik bekerja sama dengan PT Asal Jaya. Kami berharap pasokan kopi dari Indonesia, khususnya Malang terus berkelanjutan dan berdampak positif bagi kehidupan petani,” kata Manajer Keberlanjutan APAC JDE, Do Ngoc Sy.

Tessa Meulensteen dari IDH Belanda mengatakan tren pembelian kopi di dunia saat ini juga mempertimbangkan aspek kualitas, ketelusuran, dan keberlanjutan kopi. Indonesia berpeluang besar meningkatkan mutu kopi berstandar internasional dan keberlanjutan.

“Semoga perusahaan lokal lain di Indonesia dapat mengikuti inisiatif serupa untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik yang kian meningkat,” ujar Tessa.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini