Produktifas Fotografi di Lintas Generasi

Oscar Motuloh dan Arbain Rambay, berbicara dalam diskusi "World Press PHoto 2019". (Foto : Tirto).

Oleh : Radityo Widiatmojo*

Terakota.idDua belas tahun yang lalu, saya bersama rekan-rekan seperjuangan, berkumpul sambil meneguk hangatnya STMJ di daerah Soehat (Jalan Soekarno-Hatta) Kota Malang. Yang kami bahas adalah masa depan di bidang fotografi. Obrolan di tahun 2007 ini yang membakar semangat untuk berkiprah di dunia Fotografi yang sudah kami pelajari sejak tahun 1999. Dengan rekan kerja pilihan dan idealisme yang tinggi, kami semua pun berhasil mewujudkan mimpi kami membangun studio fotografi.

Saat itu, kami memang merasa muda dan berbahaya. Muda belia dalam usia, namun berbahaya saat berkarya. Pikiran kami hanya fokus terhadap pengembangan kualitas fotografi tanpa memikirkan aspek yang luar biasa penting, yaitu “produktifitas-fotografi”.

Frase produktifitas-fotografi merujuk pada pengertian seberapa jauh pekerjaan di bidang fotografi bisa menghidupi generasi kami. Pertanyaan ini disampaikan beberapa hari yang lalu, tepatnya, 16 Juni 2019 di depan rekan-rekan yang sama ketika kumpul di tahun 2007. Tidak heran mengapa pertanyaan ini muncul. Fenomena yang terjadi saat ini adalah satu per satu, studio foto atau Production House, perlahan menghilang dari kota Malang yang semakin tidak dingin ini.

Bahasa sederhananya adalah bagi generasi kami, mungkin fotografi sudah tidak seksi lagi karena tidak bisa lagi menjadi lumbung utama perekonomian keluarga. Kami merasa terjebak tengah-tengah, yang membuat kami juga jengah, tapi tidak mencari siapa yang salah. Kami yakin, setiap generasi memiliki masa-masa terindah.

Seperti Generasi Awal. Mereka adalah orang-orang yang lahir dengan keajaiban fotografi film hitam putih. Mereka menjadi Pioner, Master dan Legenda Fotografi sampai ini. Sebut saja bang Arbain Rambay, dengan pengalaman fotografi yang tidak bisa ditandingi.

Edy Purnomo adalah contoh bagaimana Generasi Awal pewarta foto lepas bisa survive sampai era digital. Selain memotret, beliau fokus pada pengembangan pendidikan fotografi dokumenter di Indonesia. Ada pula BO, atau bang Oscar adalah Legenda hidup di Galeri Jurnalistik Antara yang tidak ada penggantinya di era digital ini.

Mereka adalah contoh konkrit manusia super kreatif yang sangat produktif di bidang fotografi. Dan mereka memilih fotografi sebagai jalan hidupnya. Ya, sampai sekarang. Produktifitas fotografi mereka sangat melekat hebat pada reputasi sudah mereka bangun. Dan itu pula yang membuat mereka adalah orang-orang yang harus di-TIRU dan di-GUGU sebagai seorang guru. Saat ini, orang-orang dengan reputasi seperti itu bisa dihitung dengan jari.

Selepas itu terdapat Generasi Tengah. Inilah generasi saya dan teman-teman. Dari segi umur, kemauan bekerja, semangat belajar kami tidak akan termakan usia. Karena prinsip dasar kami adalah menjadi orang baik dengan bekerja sebaik-baiknya. Itulah gambaran generasi kami yang lahir kurang-lebih di tahun 1980an.

Kami terlahir musik rock berada di era keemasan, gondrong menjadi acuan, terbiasa dengan kesederhanaan menu makan, antara tahu telor ataupun lalapan. Semasa remaja, berbagai kenakalan pernah kami perbuat. Itulah yang terkadang membuat kami kuat. Saat ini kami juga tumbuh menjadi orang tua yang disenjatai oleh teknologi komunikasi yang luar biasa hebat. Melalui smartphone, dunia sejagat ini menjadi kecil dan mampu kita dilihat. Terkadang teknologi ini pula yang membuat kami terhambat, tidak maju, mundur pun tidak.

Aksi fotografer dalam melaksanakan kerja fotografi. (Foto : AFP).

Dalam proses berfotografi, kami menempatkan Generasi Awal sebagai guru sekaligus rekan diskusi kami. Misinya se-simple, “bagaimana kami bisa melampaui pencapaian para guru ini?” Namun untuk mewujudkannya membutuhkan perjuangan yang tiada tara. Inilah membuat kami terjebak di tengah. Kemunculan Generasi Digital menjadikan produktifitas fotografi kami menurun, baik secara kuantitas Job maupun kualitasnya.

Generasi Milenial ini merupakan pemuda-pemudi yang memiliki kemampuan yang luar biasa dibidang Digital. Mereka juga berstatus Muda dan Berbahaya, seperti kami 12 tahun silam. Mereka mampu menjadikan era digital era keemasan mereka. Berbekal perekonomian mapan, informasi tanpa batas, dan akses yang sangat mudah, generasi ini menjadi nomor satu di rantai ekonomi digital. Melibas semua yang tidak senada. Tidak peduli dengan perang harga, yang terpenting adalah eksistensi untuk bermuara, yang terkadang tanpa etika.

Proses berfotografi mereka pun sungguh sangat instan, cepat, adaptif dan yang paling penting adalah mereka reaktif. Fotografi tidak lagi didewakan menjadi satu-satunya variabel tunggal, namun dikolaborasikan dengan berbagai elemen lain yang sedang nge-trend. Teknologi drone mereka lahap seketika. Menjadikan mereka traveler multimedia yang merekam citra di udara yang sangat indah. Sebuah kemewahan yang tidak dimiliki generasi tengah.

Eksistensi di sosial media yang menggila membuat mereka memiliki pengikut loyal tiada tara. “I photographed therefore I am” begitulah petuah filsuf asal Barcelona, Juan Foan Cuberta, yang sangat cocok menggambarkan milenial di era digital. Disamping itu, kemampuan adaptasi yang luar biasa menjadikan mereka vlogger melampaui reputasi blogger di generasi sebelumnya.

Sungguh-sungguh-sungguh berbeda dengan kami di Generasi Tengah, yang memang terlampau setengah-setengah dalam melangkah. Serba salah. Baru 30 menit ngopi layaknya generasi milenial, putri tercantik rekan saya memanggil melalui Video Call. “Ayahhhhh… lagi dimanaaaaa…. kapan pulangnya…..” Serba salah kan.

Kami yang di generasi tengah ini sadar bahwa tidak akan mampu mengejar kencangnya generasi milenial, dan tidak akan mampu memiliki reputasi maestro seperti generasi awal. Memang kami merasa bahwa fotografi sudah tidak produktif lagi. Namun yang kami tahu, ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk terus bergerak maju, dengan atau tanpa fotografi.

* Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM serta pegiat literasi visual

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini