Pramoedya Ananta Toer Merekam Realitas, Menggambar Peristiwa dan Sejarah

Terakota.id-Puluhan kursi di pelataran Kalimetro sekaligus kantor redaksi Terakota.id terisi penuh.  Mahasiswa, pemuda dan pegiat sastra di Malang tak beringsut dari tempat duduk meski rintik hujan mengguyur kawasan Jalan Joyosuko Metro Nomor 42, Merjosari.

Mereka tetap gayeng dan bersemangat mengikuti Sarasehan Budaya bertajuk ‘Warisan Pramoedya Ananta Toer bagi Sastra Indonesia’ yang digagas divisi penelitian dan pengembangan Terakota.id, Senin malam 6 Januari 2017. Sarasehan diselenggarakan memperingati lahirnya sang maestro sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, 6 Februari 1925.

Mereka bertafakur menafsir pemikiran Pram, dengan secangkir minuman hangat dan kudapan di meja. Hadir sebagai pemantik diskusi Hayyik Muntaha dari komunitas Kalimetro dan dosen sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Mundi Rahayu .

“Beberapa kali nama Pram masuk nominasi peraih nobel sastra. Sayang sekali, karena sikap politiknya membuat nobel urung diberikan,” kata Hayyik. Kegagalan meraih nobel tak berpengaruh terhadap kebesaran nama Pram dalam dunia kesusastraan Indonesia.

Pramoedya, katanya, merupakan salah satu sastrawan yang belasan tahun usianya dihabiskan di dalam tahanan. “Tiga tahun ditahan di masa kolonial, satu tahun saat orde lama, dan 14 tahun tanpa proses peradilan saat orde baru,” ujarnya.

Keteguhan sikap dan pembelaan terhadap kaum marjinal disampaikan melalui karya sastranya. Pram membela etnis Tionghoa melalui bukunya berjudul Hoakiau di Indonesia sehingga membuatnya mendekam di penjara saat orde lama. Pilihannya bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) menyeretnya ke dalam penjara selama 14 tahun saat rezim Soeharto berkuasa.

Karya-karyanya dianggap berbahaya dan bisa memantik sikap kritis masyarakat. Ia dituduh komunis. “Padahal Pram beberapakali menyatakan ia bukan komunis. Seringkali ia mengatakan Ideologiku Pramis. Ia sangat percaya pada otoritas individunya yang tidak mau tunduk pada otoritas di luar dirinya,” tutur Hayyik.

Dosen UIN Malang, Mundi Rahayu dan pegiat komunitas Kalimetro Hayyik Muntaha hadir sebagai pemantik diskusi. (Terakota.id/Muntaha Mansyur)

Pramoedya mengabdi pada masyarakat melalui karya sastra. Sastra bagi Pram, tidak mungkin berada di luar konteks masyarakatnya. Savitri Scherer (2012:143) dalam bukunya, Pramoedya Ananta Toer Luruh Dalam Ideologi, mengatakan “ Melihat besarnya dukungan terhadap tulisan-tulisannya, meresapnya Pramoedya pada masyarakat pembacanya di Indonesia, bukanlah suatu fenomena ‘gayung yang tak bersambut’. Sesungguhnya ia penulis yang berdiri di tengah masyarakatnya dan bagian hakiki darinya.”

Sebagai sastrawan, warisan Pram demikian besar bagi bangsa ini. Dia merupakan sastrawan yang mewarisi pembangunan bangsanya. “Kontribusinya tidak sebatas di lapangan sastra, melainkan menyeluruh bagi kehidupan bangsanya dan kehidupan itu sendiri,” kata Mundi Rahayu.

Ia mendedahkan, resistensi kreatif yang dibangun Pram telah menjadi alat yang ampuh untuk mengubah masyarakat. Realitas dimaknai dan ditampilkan kembali oleh Pram menjadi sebuah karya yang bergizi.

“Seorang Nyai, bukan istri Pak Kiai maksudnya, nyai itu gundik, istri tidak resmi, ditangan Pram bisa ditampilkan sebagai seorang perempuan yang memiliki keteguhan, ulet, dan memberontak,” tutur Mundi sambil menunjukkan Novel Anak Semua Bangsa kepada khlayak yang hadir.

Sebagai karya sastra, novel Pramoedya yang merekam realitas memang bukanlah dokumen sejarah. Namun ia adalah historical novel , novel sejarah, yang menggambarkan peristiwa sejarah.

“Dalam kajian sastra ada yang disebut dengan mental evidence, bukti mental. Karya sastra memang bukan dokumen fakta atau dokumen sejarah, namun ia merupakan  bukti mental yang memotret kehidupan,” katanya.

Anak muda, mahasiswa hadir bergantian. Mereka antusias mengikuti sarasehan sambil mengajukan pertanyaan dan tanggapan. Malam larut, sarasehan dipungkasi pukul 22.00 WIB.

Meski sarasehan usai, banyak peserta yang memilih tetap tinggal dan ngobrol santai. Ada juga punggung-punggung yang berjalan menjauh pulang ke tempat masing-masing dengan menggendong ‘Warisan Pramoedya Ananta Toer.’

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini