Potret Buram Buruh Migran Terpapar Radikalisme

potret-buram-buruh-migran-terpapar-radikalisme

Terakota.id–Aksi terorisme dan ekstremisme berubah, tak hanya dilakukan laki-laki. Juga menyasar perempuan, termasuk Buruh Migran Indonesia (BMI). Bagaimana jaringan terorisme transnasional bekerja rapi dan mempengaruhi para BMI di luar negeri.

Kondisi BMI terpapar radikalisme diungkap dalam sebuah film produksi Yayasan Prasasti Perdamaian berjudul Pengantin. Film berdurasi 35 menit itu menunjukkan sejumlah BMI terpapar radikalisme. Mereka ikut mendanai bahkan merencanakan aksi bom bunuh diri.

“Buruh migran kita terpapar melalui media sosial. Ada yang menikah dan dibaiat melalui media sosial,” kata Direktur Migrant Care Wahyu Susilo di Oase Cafe and Literacy, Rabu 27 November 2019.

Penjelasan adik kandung Widji Tukul ini disampaikan dalam Ngopeace atau ngobrol perdamaian yang diselenggarakan Perempuan Bergerak. Diakusi dan nonton bareng dihadiri mahasiswa, pegiat literasi, aktivis perempuan dan masyarakat umum.

‘Buruh migran kita juga sifat dermawannya luar biasa. Mudah tergerak mnyumbang untuk bantuan bencana alam. Itu yang dimanfaatkan jaringan teroris,” katanya.

Dalam diskusi bertema “potret nyata buruh migran perempuan” Wahyu menjelaskan para buruh migran Indonesia tak sadar terjebak dalam paham ekstremisme. Awalnya mereka mengisi pengetahuan agama dengan menggelar kelompok pengajian. Namun, ternyata mereka belajar agama dari ustadz yang memberi pemahaman menyimpang.

Sementara Pemimpin Redaksi Terakota.id Eko Widianto yang juga menjadi pembicara menjelaskan Amrozi juga terpapar radikalisme saat menjadi buruh migran di Malaysia 1992. Setelah bekerja sebagai montir dan bertemu kakaknya Mukhlas yang lebih dulu di sana.

Selama di Malaysia mereka mengikuti pengajian yang diasuh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Dulu doktrin dan cuci otak dlakukan Imam Samudra secara tatap muka. Kini, pola berubah. Cuci otak dilakukan melalui media sosial.

Sedangkan di Jawa Timur buruh saat ini ada sejumlah buruh migrran yang terlibat jaringan terorisme. Mereka dideportasi dan dipantai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). “Muslimat NU mendampingi mereka,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini