Post Truth Sebagai Hyperrealitas

Terakota.idIstilah post truth mulai marak pada tahun 1992 melalui sebuah artikel tentang skandal di Amerika. Inti dari post truth ini adalah pembicaraan lawan politik. Melalui post truth, politisi mengabaikan sekaligus menekan kebenaran. Post truth menjadi word of the year pada 2016.

Post truth merupakan sebuah iklim politik yang mengaburkan antara objektivitas dan rasionalitas. Post truth lebih mengutamakan keyakinan dan fakta diabaikan. Lawan kata dari post truth sebenarnya bukanlah kebenaran melainkan fact chek in atau pengecekkan fakta. Kepercayaan pribadi lebih kuat daripada fakta itu sendiri, itu adalah landasan dari post truth. Emosi merupakan modal utama dalam penanaman post truth.

Contohnyaa adalah kampanye Donald Trump, saat mencalonkan diri sebagai presiden, trump ingin membangun tembok Mexico dan membatasi imigran Muslim. Selogan Trump adalah Make Amerika Great Again. Selogan itu membuat penduduk atau warga Amerika terpacu untuk menjadikan Amerika sebagai negara adidaya dunia. Sentimen-sentimen yang menyangkut SARA seperti halnya agama, dan kependudukan menjadi landasan utama bagi Trump untuk mengaduk-aduk emosi masyarakat.

Secara epistemologi, kriteria kebenaran dalam post truth ini telah diabaikan. Karl Pauper yang mencetuskan posisi evaluatif tentang fakta dan opini pun juga menjadi abai di hadapan post truth. Fakta dan opini sudah dikaburkan, semua truth sudah tidak dipedulikan lagi. Inilah yang disebut sebagai banalisasi kebohongan. Bohong menjadi hal biasa, bukan lagi sebagai moralitas, bohong dianggap sebagai pilihan kata saja.

Repetisi dalam kebohongan membuat orang percaya. Bohong yang dilakukan berulang-ulang bisa jadi akan dipercayai dan dianggap sebagai kebenaran. Istilahnya Reagan, yang penting yakin. Dalam kebohongan, fakta menjadi dinomorduakan karena yang penting adalah kisah telah diceritakan. Dramatisasi pesan lebih penting daripada pesan itu sendiri atau medium is the message. Berita hoax sendiri telah dikaburkan namanya agar tidak negatif menjadi kebenaran alterantif atau fakta alternatif.

Ciri-ciri post truth adalah masyarakat informis. Kebenaran tidak dibantah melainkan dijadikan sebagai norma. Masyarakat yang haus akan informasi menjadi sasaran utama post truth karena ada harapan dan passion di situ. Passion dan intuisi mengarahkan penolakan terhadap hal baru sekaligus mengarahkan pandangan terhadap hal yang diyakini.

David Hum mengatakan bahwa preferensi mendahului pikiran (reasoning). Dengan demikian, kebohongan menjadi memikat karena si pembohong menggunakan logika terhadap yang dibohongi.

Sensor saat ini pun juga menggunakan strategi post truth, tapi berbeda dengan sensor zaman dahulu. Apabila sensor zaman dahulu selalu menutup, memotong fakta tapi sensor zaman sekarang adalah menggelontorkan sebanyak mungkin info sehingga masyarakat menjadi bingung mana yang fakta dan mana yang hoax.

Populisme
Post truth menyasar populisme karena masyarakat cenderung groupis daripada selfis. Sesuatu yang menarik itu karena diingini oleh orang lain bukan karena nilai yang dimiliki oleh sesuatu itu sendiri. Robert Tales mengatakan hal ini sebagai perilaku karangan.

Perilaku karangan inilah dasar dari pembentukkan citra. Keberadaan citra semakin memiliki legitimasi karena didukung dengan media sosial. Emile Durkheim dalam dasar-dasar pengalaman religius mengatakan bahwa transenden bukan berarti beragama secara teologis melainkan transenden adalah proyeksi ketakutan pada yang sosial.

Teknik post truth di era digital ini adalah dengan photoshop, dekontekstualisasi, dan headline. Ketiga perangkat ini berfungsi untuk mendistorsi data. Masyarakat Amerika yang notabene sebagai masyarakat negara maju pun ternyata 62 persen mengupdate diri di media sosial. Hal ini membuktikan bahwa orang yang berpendidikan tinggi pun masih dapat kabur dalam memahami berita.

Pendidikan tinggi menggambarkan ideologi yang tinggi dan ideologi yang tinggi membuat orang hanya percaya pada informasi yang seideologi dengannya. Informasi yang disajikan dalam post truth ini disajikan dalam laporan jurnalisme yang disebut dengan jurnalisme membakar nafsu.

Jurnalisme membakar nafsu akan menimbulkan insting sosial untuk melindungi kelompok sesuai dengan teori groupis Jonathan Right. Menguji dan menyalahkan itu menjadi faktor penting dalam kelompok. Di sisi lain ada juga faktor kolestosin atau hormon. Ini adala hormon untuk menarik yang disukai sekaligus membeci yang tidak disukai
Jean Baudliard menyatakan bahwa fenomena poststruktural ini merupakan fenomena hyperealitas atau skandal negatifitas operasional.

ilustrasi: me.me

Hyperealitas Jean Baudliard membuktikan yang riil dengan yang imajiner. Menghidupkan etika yang sekarat dengan yang sekandal. Tanda disamakan dengan objek dengan referen padahal ada garis ada proses yang dilalui agar tanda ini menjadi sama dengan objek atau referen.

Bagi sistem post truth, kebenaran adalah kasus khusus bagi kekeliruan. Post truth melawan naluri dengan tirani. Post truth juga mempertanyakan dominasi kebenaran. Bahasa sebagai instrumennya. Bahasa itu tidak netral karena bahasa mengandung ideologi dan bahasa itu instrumen kekuasaan.

Oleh sebab itu, feercloch menyarankan ketika membaca teks maka amatilah ketidakberesan sosialnya. Apakah dalam teks ada diskriminasi sekaligus manipulasi? Dua pertanyaan itu harusnya ada dalam skemata pembaca kritis. Hal itu karena bahasa yang dipilih selalu mengandung strategi politik.

Solusi
Solusinya adalah mengubah hoax melalui (1) passion, (2) jasa, dan (3) kedekatan. Post truth tidak bisa dilawan dengan nalar melainkan dengan keyakinan atau meyakinkan. Strategi pertama adalah dengan passion.

Orang berpengaruh atau orang berkarisma akan bisa mengubah mindset orang yang mempercayai post truth karena orang berpengaruh ini memiliki daya tarik untuk didengarkan dan dipercayai. Jasa merupakan strategi berikutnya karena melalui jasa, maka seseorang akan menjadi empati dan lebih mempercayai yang dikatakan oleh pemberi jasa.

Ilustrasi : .ethicalforum.be

Mengubah hoax juga dapat dilakukan melalui kedekatan. Contohnya adalah upaya deradikalisasi. Upaya deradikalisasi yang tepat adalah dengan cara dimanusiakan atau memanusiakan manusia sehingga pelaku akan dapat memahami fakta dan kebenaran.
Solusi yang dilakukan untuk menangkal post truth berikutnya adalah (1) meyakinkan diri, (2) jangan memberi data, (3) mendengarkan, dan (4) mengubah gagasan. Meyakinkan diri berarti mampu memilah fakta dan opini.

Kemudian data juga harus disimpan baik-baik karena strategi post truth adalah memutar balikkan data. Strategi ketiga adalah dengan cara mendengarkan karena mendengarkan sekaligus memahami informasi adalah keterampilan yang seringkali disepelekan padahal sangat dibutuhkan. Solusi terakhir adalah mengubah gagasan atau filsafat gagasan. Mengubah gagasan dapat dilakukan dengan cara memahami sekaligus memberi contoh riil terhadap gagasan-gagasan yang disampaikan oleh filusuf.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini