Politik Cinta Romeo dan Juliet Menuju Rekonsiliasi

Poster pertujukan drama romeo and juliet. (ritztheatreco.org).

Oleh : Yusri Fajar*

Terakota.id–Naskah drama karya sastrawan Inggris William Shakespeare yang ditulis sekitar tahun 1595 menghadapkan dua nama dalam konflik berkepanjangan, yaitu Capulet dan Montaque. Akibat dari perseteruan dari dua nama berpengaruh di Verona itu adalah cinta dua anak, Juliet anak Capulet dan Romeo anak Montaque, harus kandas secara tragis. Seorang tokoh agama, Friar Laurence telah berusaha menyatukan Romeo dan Juliet melalui strategi dan cara yang telah direncanakan. Namun Tuhan berkehendak lain.

Capulet menjodohkan Juliet dengan seorang bangsawan bernama Paris namun Juliet dengan keras menolaknya. Juliet hanya menginginkan Romeo. Demi menyatukan cinta Romeo dan Juliet Friar Laurence memberikan semacam ramuan agar Juliet seperti mati suri dalam beberapa jam hingga hari pernikahan dijadwalkan. Dan akan terbangun setelah jadwal pernikahan dengan Paris terlewati. Dan saat terbangun itulah Romeo direncanakan akan datang dan membawa Juliet pergi.

Sayangnya, surat yang dikirim Friar Laurence untuk memberitahu bahwa Juliet akan sementara tertidur tidak pernah diterima Romeo, sehingga Romeo mengira Juliet telah mati. Dengan berbekal racun yang telah dibelinya, Romeo mendatangi tempat di mana Juliet dibaringkan. Rasa cinta mendalam membuatnya begitu merasa kehilangan Juliet sehingga Romeo yakin untuk mengakhiri hidupnya. Juliet terbangun dan mendapati Romeo telah menenggak racun. Rasa cinta membuat Juliet memilih ikut mengakhiri hidupnya. Romeo dan Juliet, dua nama muda itu tinggal menjadi kenangan.

Montaque dan Capulet di akhir cerita akhirnya melakukan rekonsiliasi, mengakhiri konflik berkepanjangan yang tidak hanya menyebabkan Romeo dan Juliet mati, namun juga beberapa anak muda anggota keluarga Montaque dan Capulet yang berduel untuk menjunjung tinggi kehormatan dua keluarga itu. Mantaque mengulurkan tangannya pada Capulet, tanda jalinan persaudaraan dimulai dan konflik diakhiri.

Mungkin Romeo dan Juliet tidak menduga bahwa dengan kematian merekalah keluarga mereka akhirnya memutuskan mengakhiri konflik. Sebuah kesadaran yang bisa dibilang terlambat karena telah jatuh korban. Namun, jika konflik tak diakhiri, bisa saja akan berguguran korban-korban lainnya. Pangeran yang berkuasa di Verona yang melihat niat rekonsiliasi dua keluarga itu berkata,“matahari kesedihan tak akan lagi menunjukkan kepalanya.”

Ketika konflik Montaque dan Capulet masih berlangsung, anggota keluarga dan teman keluarga tersebut saling mengejek, memprovokasi dan menyerang. Kebencian antar mereka ditunjukkan melalui bahasa verbal dan bahasa tubuh yang makin menyulut amarah. Sementara Romeo dengan rasa cintanya sesungguhnya tak mau merespons provokasi dan ujaran-ujaran kebencian itu. Ia percaya cinta bisa mengalahkan kebencian dan dendam demi masa depan.

Melalui tokoh Juliet, kita bisa belajar tentang bagaimana kita tak harus larut dan terjebak dalam nama-nama besar yang menjadi sumber perseteruan. Juliet meminta Romeo untuk melepaskan diri dari nama Montaque, ayahnya. Dan Juliet akan melepaskan dirinya dari nama Capulet, ayahnya. Jika Montaque dan Capulet adalah dua nama yang akan terus berseteru, bagi Juliet cara yang harus diambil adalah melepaskan identitas itu. Cinta bagi Romeo dan Juliet lebih agung dari sekedar kehormatan dan gengsi serta kekuasaan.

Pada konteks konflik inilah kita paham apa yang ditanyakan dan direnungkan oleh Juliet yaitu apakah yang terkandung dalam sebuah nama. Seorang pemilik nama, jika dia memang bagus, bijaksana dan baik, dia akan tetap baik. Seringkali sepak terjang dia tak ada hubungannya dengan namanya. Banyak nama yang dicitrakan baik, tapi secara subtansi sikap dan tingkah laku pemilik nama itu sesungguhnya buruk.

Bagi William Shakespeare, sebagaimana dia representasikan dalam ungkapan yang disampaikan Juliet, mawar tetaplah memancarkan keindahan meskipun namanya diganti dengan yang lain. Dan nama Juliet dan Romeo akan tetap identik dengan dua pemilik cinta tulus dan dua orang yang tak mau terlibat dalam konflik kedua pihak meskipun nama keduanya diganti nama lain.

Dalam politik yang melibatkan para pendukung partai dan calon presiden dan wakil presiden, nama-nama tokoh yang berkompetisi sangat dibela bahkan dijunjung tinggi. Jika nama-nama berpengaruh dan sedang berkompetisi itu kemudian mempengaruhi pembentukan frasa-frasa yang bertebaran yang diekspresikan para pendukung mereka misalnya “Saya Jokowi” atau “Saya cinta Jokowi” dan frasa kebalikannya “Saya Prabowo” atau “Saya cinta Prabowo” sebagai ekpresi verbal yang merepresentasikan pilihan dan dukungan bahkan fanatisme, maka nama-nama berpengaruh itu berpotensi menginternalisasi dalam diri dan mengontrol pikiran dan kesadaran.

Akibatkan daya kritis dan logika bisa dikalahkan dengan perasaan dan emosi. Membela tak perlu dilakukan secara membabibuta. Jika ada yang perlu dikritik, maka secara obyektif kritik bisa disampaikan secara konstrukif dan solutif demi perbaikan. Saya kira banyak orang baik yang mendukung kedua calon presiden dan wakil presiden dalam pilpres 2019. Nama, sikap, pemikiran, dan tingkah laku baik mereka menjadi pertaruhan.

Dalam perhelatan Pilpres Indonesia 2019 telah banyak yang kehilangan nyawa, seperti petugas KPPS, aparat dan juga rakyat. Ratusan jumlahnya. Mereka adalah bagian dari proses berkompetisi dan berkontestasi. Pasca pilpres, suasana masih memanas. Sudah tak terhitung ekspresi-ekspresi bahasa dari kedua pendukung yang memanaskan mata, pikiran dan perasaan.

Kita paham bahwa kedua pihak yang berkompetisi dalam Pilpres menginginkan hasil yang terbaik. Setelah nanti semua proses Pemilu bisa dikawal dan dilakukan dengan baik, jujur, terbuka dan bertanggung jawab, maka saatnya untuk melakukan rekonsiliasi demi bangsa ini. Prasangka dan dugaan tertentu yang bersifat negatif terkait dengan pemilu sudah semestinya disampaikan dan dimanifetasikan dalam proses berkoridor konstitusional.

Di berbagai media sosial saya menyaksikan para pendukung kedua calon presiden masih banyak yang tak bisa lepas dari dua nama junjungannya. Ekspresi para pendukung itu bisa dipahami sebagai ungkapan rasa cinta, harapan dan juga kepentingan-kepentingan. Namun demikian, saya berimajinasi bahwa mereka pasti juga membutuhkan ruang untuk mencintai diri sendiri, untuk memikirkan kehidupan pribadi mereka, untuk menyadari bahwa banyak hal yang tak bisa digantunkan pada nama-nama yang mungkin mereka duga bisa menyelesaikan semua masalah bangsa ini.

Untuk menuju rekonsiliasi, bangsa ini tak perlu harus menunggu jatuhnya korban-korban dan ekspresi kebencian makin membara seperti dalam drama Romeo dan Juliet. Tokoh-tokoh bangsa berpikiran dan bernurani jernih yang mengedepankan kepentingan kesatuan bangsa dibutuhkan untuk tetap menjaga cinta dan perdamaian bangsa ini dari ancaman perpecahan dan konflik berkepanjangan.

*Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini