Politik Apresiasi

Oleh: Kristanto Budi Prabowo*

Terakota.id–Dengan bergas kita dipaksa untuk segera mengerti model operatif praktek politik yang terjadi pada bangsa kita. Demokrasi memang menawarkan kebebasan mengekspresikan sikap idiologis, dan justru dari situlah karakter budaya sebuah bangsa menjumpai tantangannya.

Dari praktek politik yang dipertontonkan kepada kita, sadar atau tidak, terbangun sebuah sikap personal dan kadang menjadi komunal bagaimana tiap orang hidup dalam dunia politiknya. Asumsi saya adalah, tiap orang selalu berpolitik. Orang yang mengaku paling apolitik sekalipun sebenarnya adalah sebuah sikap politik.

Operatif praktek politik tidak hanya menentukan bagaimana sebuah sistem kekuasaan dan managemen masyarakat dijalankan, selebihnya hal itu erat dengan segala bentuk asumsi budaya yang kita miliki dalam membayangkan dunia ideal kini dan masa depan sebuah kehidupan berbangsa.

Maka ada baiknya kita berani menguji sejauhmana karakter budaya kita itu membentuk operatif praktek politik kita. Saya akan menggunakan model-model yang akhir-akhir ini menjadi fenomena unik kehidupan demokratis kita. Yang dampaknya tampak mulai dari yang paling optimis hingga yang paling sinis apatis diekspresikan terbuka di tengah masyarakat. Harapannya adalah menemukan refleksi yang jujur terhadap karakter diri dan budaya kita dalam berbangsa.

Model Manipulatif

Ini model yang paling umum dan paling menjangkiti tiap orang. Politik dianggap sebagai mekanisme manipulasi terhadap segala hal untuk membangun dan melestarikan posisi politis tertentu. Kalau tujuannya adalah kekuasaan atau raihan pengikut maka tujuan adalah panglima. Semua bisa direkayasa dalam rangka kepentingan itu. Orang, organisasi, seni, tradisi, dan bahkan hubungan perkawanan persahabatan yang diterjuninya adalah demi sebesar-besarnya manfaat untuk meraup posisi politik dan atau pengumpulan suara pendukung.

Jangan tanya soal ketulusan dalam model ini. Kadang bahkan transparansi atau akuntabilitas hanyalah alat untuk mengatur orang lain dan bukan pada fungsi asalinya untuk menjaga diri menjadi bertanggungjawab. Orang dan segala jenis kegiatannya, komunitas dalam ragam kepeduliannya hingga pada kelestarian semesta adalah aset yang perlu diperlakukan sedemikian licik agar mendukung dirinya dan agenda yang hanya dirinya yang tahu.

Baca juga :  Menanti Kabar Bima Petrus, Wiji Thukul dan Mereka yang Hilang

Bayangkan saja praktek politik model seperti ini yang lantas didukung oleh modal tak terbatas dan kekuatan pendukung keamanan dan pasukan manipulator nalar publik. Masyarakat akan dengan mudah terbius dan terlena dengan apapun isu yang dihubungkan pada janji-janji perbaikan dan pemurnian. Apalagi jika hal itu sedikit saja dibumbuhi dengan kelezatan otoritas keselamatan dunia akhirat yang ditawarkan agama. Ingat, begitulah memang fenomena politik manipulatif, semua tahu, dan anehnya banyak yang masih terobsesi untuk menjadi pelaku dan bersukarela menjadi pendukungnya.

Model Raja Penguasa

Istilah sosiologisnya adalah relasi patron-client. Praktek politik yang dibangun dalam siatem ini mengandalkan orang-orang tertentu yang dianggap bos-bos dalam politik. Tak jarang hal ini adalah wujud konsekuensi dari relasi sosial yang ada. Seperti hubungan kerja, strata dalam organisasi, dan bahkan dalam relasi keluarga. Ada asumsi bahwa politik adalah mengikuti pendirian politis tokoh yang dianggap lebih berkuasa secara sosial, ekonomi dan tradisi.

Relasi politis antara bos dan anak buah ini adalah gejala budaya kalau tak mau disebut sebagai mentalitas masyarakat dalam berpolitik. Karena, mempercayakan dan bahkan mewakilkan hak politik pada yang dianggapnya lebih berhak karena memiliki lebih banyak modal sosial, ekonomi, dan tradisi adalah kecenderungan umum yang sering dianggap sebagai lumrah dan oleh karenanya mudah dimaklumi secara masal. Alasan sederhananya adalah untuk memuaskan semua pihak. Bos mendapat dukungan politik dan para pendukung mendapat imbalan langsung dan tidak langsung dalam kehidupan sosial, ekonomi, atau tradisionalnya.

Dalam beragam bentuk kreatif model ini direkayasa sedemikian rupa agar figur politik terposisikan sebagai layaknya penguasa raja yang nantinya (diharapkan) berbelaskasih, berkehendak untuk berbagi pada para pendukungnya. Loyalitas politis adalah kepatuhan dan pembelaan yang membabi buta. Model penguasa raja seperti ini tidak terlalu mempedulikan sistem politik dan kesepakan idiologisnya, mengukur etika kekuasaan juga berdasar pada relasi patron-client itu, dan biasanya akan mempermainkan isu-isu sensitif apa saja asalkan tidak mempertanyakan pertanggungjawaban relasi yang dibangunnya.

Baca juga :  "Yesus Orang Papua"

Model Kharisma Borjuis

Seturut dengan lunturnya penghargaan pada intelektualitas paska rezim otoritarian yang telah menjalankan praktek brain-drain dalam sistem intelektualitas politis kita, model kharisma yang berkembang di masyarakat adalah yabg bersifat borjuis. Nama besar yang digunakan sebagai modal membangun model ini adalah nama leluhur. Entah perorangan nama ayah, ibu, paman, mertua yang memang secara intelektual dan patriotik telah memberi peran penting bagi berdiri dan tegaknya negara atau nama pimpinan panutan kharismatis keagamaan atau tradisi kelokalan tertentu.

Kharisma dibangun dengan cara yang unik memanfaatkan sistem kepercayaan masyarakat yang melihat penguasa bukan dari intelektualitas dan semangat patriotisme melainkan dari nama besar dibaliknya. Kadang nama besar yang dianggapnya pasti akan berada di pihaknya (kalau saja masih hidup). Demikian uniknya hingga kadang harus membangun mitologi tertentu agar kharisma borjuis itu terus dipercaya bisa secara langgeng terwariskan pada penerusnya.

Ruang terhadap model ini begitu kuat tidak hanya dalam masyarakat tradisionil namun juga pada kalangan masyarakat intelektual. Meskipun tak pernah dilakukan analisa secara mendetail, namun sering nampak bahwa intelektualitas dan jiwa patriotisme hanyalah persoalan gelar dan pangkat saja. Bukan pada bentuk nyata progresifitas pemikiran yang brilian bagi masa depan bangsa atau pemberdayaan ketahanan semesta yang seharusnya terus perlu digelorakan sebagai sikap patriotik kesetaraan hidup kemanusiaan sebagai bangsa merdeka.

Dalam model inilah pergulatan mengenai tradisi kearifan lokal, otoritas agama dan sistem kepercayaan, serta mentalitas bangsa merdeka dipertaruhkan. Melihat begitu masih kuatnya model ini dipraktekkan tidak hanya di tingkat nasional namun juga di tingkat lokal sebenarnya memperlihatkan dengan jelas tingkat kedewasaan hidup masyarakat dalam berdemokrasi.

Terobosan baru yang dalam tiap generasi selalu terjadi karena memang selalu dipelopori oleh generasi muda, pasti akan menghadapi hadangan gelombang ketidakpuasan yang seringkali tidak logis. Betapa tidak. Karena asumsi mendasar dalam gelombang seperti itu biasanya didorong oleh semangat agar model kharisma borjuis lah yang kembali dipraktekkan. Dan kalaupun terjadi negosiaai politik, maka persis seperti dalam model kharismatik borjuasi kuno, akan terciptalah mekanisme bergaining yang kembali menyadarkan masyarakat bahwa model seperti ini tidak bisa dihilangkan dari muka bumi. Oleh gerakan kuat generasi muda pemilik masa depan bangsa sekalipun.

Baca juga :  Membedah Babad Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini