Ilustrasi: http://allhdwallpapers.com)
Iklan terakota

Terakota.id–Sore tadi, sepulang dari kantor dan sembari menunggu datangnya Pak mlijo (tukang sayur) langganan yang biasa lewat depan rumah, saya berdiri tepekur di gerbang garasi. Cuaca sedang cerah, angin berhembus cukup kuat, dan udara terasa hangat. Saya jadi terbayang pada keadaan beberapa hari belakangan. Setiap hari, langit mendung, hujan turun dengan deras tak peduli pagi, siang, sore, atau malam. Udara kadang terasa sedingin es di rumah saya.

Saya mensyukuri cuaca cerah itu karena merasa agak bosan juga setiap kali pulang saya harus menyetir di bawah guyuran hujan yang membuat jarak pandang terbatas. Udara yang hangat juga lebih saya sukai dibandingkan udara beku seperti beberapa waktu terakhir, di mana air mandi rasanya menyakiti sendi-sendi dan tulang-tulang saya yang menua.

Tanpa saya arahkan, pikiran saya membuat perbandingan-perbandingan: ‘cerah’ dibandingkan dengan ‘hujan’ atau ‘mendung’, ‘udara hangat’ dibandingkan dengan ‘udara dingin’, ‘jarak pandang jauh dan bebas’ dibandingkan dengan ‘jarak pandang yang terbatas’. Dan, dari setiap rangkaian perbandingan tersebut, yang disebut pertama lebih saya sukai atau saya anggap lebih baik daripada yang saya sebut kedua.

Juga masih tanpa saya arahkan, pikiran saya terbang begitu saja ke masa-masa silam. Saat saya masih duduk di bangku sekolah, ibu guru kelas satu saya senang membuat perbandingan-perbandingan untuk menjelaskan sesuatu kepada kami, para murid belianya. Ibu Mujilah, nama guru saya tersebut, mengajarkan tentang mana yang baik dengan cara membandingkannya dengan yang tidak baik, mana yang bersih dengan cara membandingkannya dengan yang kotor atau mesum, mana yang indah dengan cara membandingkannya dengan yang buruk rupa, mana yang pintar dengan cara membandingkannya dengan yang bodoh.

Ingatan saya lalu terbawa ke masa yang lebih purba lagi, yaitu saat saya belum bersekolah. Ibu saya, seorang ibu rumah tangga yang seumur hidupnya tinggal di sebuah kampung di pelosok Sleman, mengajarkan kepada kami tentang berhemat dalam perbandingannya dengan sikap boros, lengkap dengan contohnya dari tetangga-tetangga kami. Ibu juga mengajarkan tentang sikap berbakti pada orang tua dalam perbandingannya dengan sikap durhaka, dengan menggunakan dongeng Malin Kundang dan Bawang Merah-Bawang Putih.

Kurang-lebih demikianlah pengetahuan dan pemahaman akan berbagai hal yang saya peroleh dari sejak saya masih sangat kecil. Hampir semua hal datang kepada saya untuk saya rengkuh dan mengerti dalam perbandingan (atau perbedaan) dengan hal yang lain. Dengan kata lain, saya mulai mengetahui dan memahami berbagai hal karena hal-hal itu dibandingkan dengan hal lain. Saya yakin bahwa saya tidak sendirian di sini. Banyak dari antara kita memperoleh pengetahuan melalui pola yang kemudian disebut sebagai oposisi biner oleh kalangan pemikir strukturalis dan pascastrukturalis atau dekonstruktif.

Oposisi Biner dan Problemnya

Menurut pandangan kaum pemikir strukturalis, yang lantas dilengkapi sekaligus dikritisi dan disanggah sampai kadar tertentu oleh para pemikir pascastrukturalis atau dekonstuktif, cara kita mengetahui dan memahami sesuatu adalah dengan pola oposisi biner. Bahasa, yang merupakan inti dan kendaraan dari pengetahuan dan pemahaman, juga beroperasi secara demikian. Dalam pola opisisi biner, sesuatu diketahui dan dipahami dalam perbedaan atau kontrasnya dengan yang lain yang sepadan atau sebanding.

Dengan demikian, seperti dalam contoh kasus saya di atas, kita mengetahui dan memahami ‘terang’ dalam perbedaannya dengan ‘gelap’. Kita memahami ‘baik’ dalam perbedaannya dengan ‘jahat’ atau ‘buruk’. Kita mengetahui ‘keindahan’ karena ada yang lain yang kita bisa anggap sebagai ‘bukan-keindahan’. Pola oposisi biner ini penting dan membantu sekali kita untuk melihat dunia dan diri kita sendiri.

Oposisi biner menciptakan struktur yang rapi dan seakan-akan solid. Dengan pola ini, banyak hal dapat kita tempatkan atau kategorikan atau klasifikasikan menurut fitur atau elemen dari hal tersebut (oleh para pemikir pascastrukturalis, itu lantas ditambahi dengan ‘berdasarkan kepentingan kita’). Di sini, kita terlihat seperti seseorang yang menulis di sehelai kertas putih, membagi kertas tersebut menjadi dua—kolom kiri dan kolom kanan—dengan cara menarik garis pemisah yang tegas di tengahnya. Di kolom sebelah kiri, kita menuliskan sesuatu (biasanya sifat atau fitur atau elemen darinya) dan di kolom kanan, kita menuliskan bandingan atau kontrasnya. Kalau di kolom kiri kita menulis ‘terang’, di kolom kanan, kita akan tuliskan ‘gelap’, dan seterusnya.

Pola oposisi biner ini menciptakan semacam ilusi keteraturan dan struktur yang jelas. Dan, memang begitulah yang diinginkan atau dicita-citakan oleh paradigma positivistik dalam ilmu pengetahuan. Paradigma positivistik menginginkan bahwa kita sebagai peneliti atau pengkaji berada terpisah dari objek penelitian atau penelaahan kita. Ada jarak yang dijaga dengan ketat. Setelah jarak tersebut ada dan ditegakkan, objek tersebut pun didekati sesteril mungkin. Objek tersebut ‘dingin’ dan tidak boleh ada bias.

Dalam perspektif ini, apa yang ‘putih’ akan selalu ‘putih’, apa yang ‘hitam’ selamanya ‘hitam’. Tidak akan terjadi dan tidak boleh terjadi percampuran atau bias di antara keduanya. Juga tidak dimungkinkan adanya gradasi atau ruang abu-abu di antara kedua hal tersebut.

Cara pandang yang demikian, yang terlahir dari pola berpikir oposisi biner, sangat mewarnai kehidupan kita. Dan karena sampai kadar yang mendalam cara pandang ini memudahkan kehidupan kita, menjadikan hidup kita lebih sederhana dan gampang serta terlihat wajar, kita cenderung nyaman ‘berkubang’ di situ. Pendeknya, karena cara berpikir dan memahami ‘hitam-putih’ itu sederhana, kita tidak ingin memperumitkannya.

Cara pandang ini memanifestasi dalam banyak artefak budaya kita, termasuk sastra (populer), film, kartun anak-anak, dan semacamnya. Dalam berbagai artefak tersebut, persoalan hidup dan kemasyarakatan dipandang dan dipahami secara biner, secara hitam-putih dan lugas. Semua hal bisa dikategorikan dan ditempatkan entah di kolom kiri atau di kolom kanan. Tidak ada sesuatu di antara keduanya.

Saya pernah mengulik ini, secara sangat singkat, dalam artikel yang saya tulis untuk mengkritisi film animasi Adit & Sopo-Jarwo yang tayang di stasiun televisi nasional di negara kita (Nusadaily.com, 13 Juli 2021). Contoh lain yang juga jelas adalah film-film superhero besutan Holywood, khususnya yang dibuat lebih dari sedasawarsa lalu. Dalam film-film bertemakan kepahlawanan tersebut, secara tanpa skrupel sedikit pun dan bisa dipastikan bahwa strukturnya berkisar di perjuangan sang pahlawan super, yang digambarkan sebagai sosok yang serba baik, pada akhir cerita menang dan menghancurkan musuh-musuhnya yang seperti monster yang jahat dan keji.

Sayangnya, pola oposisi biner ini, meskipun berpretensi membantu manusia melihat dan memahami dunia dan dirinya sendiri dengan baik dan terstruktur, pada dasarnya memberikan kepada kita cara memahami yang miopis, yang tidak utuh, parsial, dan berpotensi menyesatkan. Dunia, kehidupan, manusia, dan bahkan organisme yang terlihat sederhana, dalam kenyataannya adalah sesuatu yang kompleks sekali.

Pada kenyataannya, bahasa yang dipandang sebagai inti dan kendaraan pengetahuan dan pemahaman bukanlah sesuatu yang solid, tetapi sesuatu yang cair, mengalir, dinamis, dan senantiasa bisa berubah dan mengubah. Intinya, bagaimana kita bisa yakin tentang sesuatu dalam perbandingannya dengan sesuatu yang lain apabila ‘kendaraan’ yang kita gunakan untuk menjelaskan konsep tentang sesuatu itu sendiri selalu bergerak, selalu mrucut atau elusif?

Ini belum bicara tentang kompleksitas spektrum di antara dua oposisi biner. Di antara yang ‘baik’ dan yang ‘jahat’, terdapat sebuah spektrum mahaluas dari kemungkinan yang situasional dan, pastinya, bias. Tidak dapat tidak, kita membutuhkan semacam struktur yang solid dan bisa terpegang dalam memahami kompleksitas realitas dunia dan diri kita. Namun, pada waktu yang sama, dibutuhkan kesadaran yang genuine dan mendalam bahwa terdapat lebih banyak kompleksitas daripada yang bisa dijelaskan oleh pola oposisi biner.

Menyitir Derrida, tidak dapat dipungkiri bahwa oposisi biner itu tidak sempurna, tetapi kita tetap membutuhkannya untuk memahami sebagian dari realitas. Sebagian yang lain perlu dijelaskan dengan pendekatan yang lain pula. Pola oposisi biner adalah sebuah jembatan keledai pengetahuan, dan bukan jalan raya itu sendiri.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini