Pilah Sampah Sekarang Juga Oleh : Mayedha Adifirsta*

Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Supit Urang Malang menumpuk sampah dari penduduk Kota Malang. Setiap hari sekitar 600 ton sampah dibuang ke sini. (Terakota/ Nur Sitti Khadijah).

Terakota.id-Disadari atau tidak, tumpukan sampah di sekeliling kita awalnya merupakan barang yang bermanfaat. Kemasan plastik maupun kertas, elektronik, bahkan tekstil. Bisa dibayangkan sulitnya hidup tanpa material tersebut? Begitu praktis dan ekonomisnya material tersebut untuk menunjang kehidupan manusia. Material tersebut telah melekat dalam kehidupan kita.

Namun menjadi masalah tatkala materail tersebut terbengkalai, berakhir di tempat sampah dan menjadi limbah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung Kabupaten Malang diprediksi bakal mengalami overload atau kelebihan beban beberapa tahun mendatang. Setiap hari, jumlah sampah organik dan anorganik yang masuk TPA Talangagung mencapai 400 Ton atau setara dengan 400 unit Avanza.

Limbah yang terbengkalai dan menumpuk tersebut menghasilkan gas metana sehingga menimbulkan polusi udara. Jika dibiarkan timbunan sampah menghasilkan lindi yang bakal mencemari tanah dan air. Tumpukan sampah juga akan menjadi sarang penyakit.

Material yang awalnya memberikan kemudahan, kini justru menyumbang permasalahan. Padahal material-material tersebut dapat didaur ulang. Lalu mengapa tidak ada keseimbangan antara material yang diproduksi (potensi sampah) dengan sampah yang dapat dikembalikan untuk didaur ulang?

Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga

Melihat bigger picture tersebut, kami menyadari ada satu langkah yang salah, yaitu mengenai cara kita membuang sampah. Kita membuang material tersebut dalam satu kantong atau wadah yang sama. Material anorganik (plastik, kertas) bercampur dengan sampah sisa makanan (kering dan basah), cairan tubuh (air liur, ingus), hingga limbah medis atau obat-obatan. Percampuran tersebut menyebabkan sampah anorganik tidak memenuhi kualifikasi untuk dapat didaur ulang.

Sampah plastik yang telah dipilah dikemas dan siap kirim ke industri daur ulang. (Terakota/Eko Widianto).

Perlu kita ketahui, mesin yang digunakan mendaur ulang membutuhkan pasokan material sampah yang bersih. Sampah-sampah tersebut akan lolos menuju proses daur ulang apabila berada dalam kondisi bersih (memungkinkan untuk dibersihkan dan disterilkan) dan juga terkelompokkan sesuai jenisnya (homogen). Tutup botol yang berbahan HDPE harus diolah secara terpisah dengan badan botol yang berjenis bahan PET. Hal tersebut ibarat air laut yang harus dipisahkan garamnya terlebih dahulu unsur air dan agar dapat dikonsumsi secara tepat guna.

Kualitas sampah yang buruk akan dapat mengganggu kinerja mesin, serta mencemari kualitas barang hasil daur ulang. Bahkan berpotensi merusak keduanya. Bayangkan apabila ada secuil HDPE (bahan tutup botol) yang tertanam di badan botol berbahan PET bening. Tentu secara fungsi dan estetika dapat dikatakan sebagai produk gagal. Begitu juga dengan daur ulang sampah organik, proses pengomposan dapat gagal apabila tercampur dengan sampah jenis lain yang mengandung bahan kimia buatan ataupun sampah anorganik. Logikanya adalah input yang buruk menghasilkan output yang buruk.

Tapikan Bisa Dibersihkan?

Memungut sampah yang bersih saja kita enggan, apalagi yang kotor. Sampah-sampah yang dipilah sedari awal akan meningkatkan potensi untuk dapat didaur ulang dengan tepat. Sampah anorganik dapat diubah menjadi material solid yang dapat digunakan kembali untuk kemasan, atapun barang-barang bernilai estetik-ekonomis, sebagaimana yang dilakukan oleh Robries Gallery di Surabaya. Sedangkan sampah organik dapat dikompos menjadi pupuk yang baik untuk vegetasi, atau bahkan budidaya larva/maggot sebagai pakan ternak seperti yang dijalankan Magalarva.

Segala upaya daur ulang akan menghadapi kesulitan apabila tidak didukung oleh pasokan sampah-sampah dengan kualitas yang baik. Salah satu gerakan sederhana yang dapat dilakukan oleh semua orang, baik dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia sekalipun adalah dengan cara membuang sampah sesuai jenisnya. Atau biasa disebut dengan istiah pilah sampah yang saat ini sedang dikampanyekan iLitterless, sebuah organisasi non pemerintahan yang berbasis di Kota Malang.

iLitterless berkonsentrasi pada persoalan sampah rumah tangga dan industri makanan dan minuman yang berada di daerah perkotaan. Sampah bekas kemasan banyak ditemukan di masyarakat kota yang memiliki ritme kerja atau aktivitas yang padat. Pertimbangannya adalah tersedianya produk-produk instan atau layanan pengiriman makanan yang praktis ketimbang harus memasak sendiri.

 

View this post on Instagram

A post shared by iLitterless (@ilitterless)

Pola konsumsi yang seperti itu mendorong peningkatan jumlah sampah anorganik berupa kemasan sekali pakai pada sektor rumah tangga. Begitupun dengan jumlah sampah yang dihasilkan dari industri makanan dan minuman itu sendiri. Kemasan bahan dan bumbu dapur menjadi sampah yang reguler di masing-masing kedai atau depot.

Tentunya akan menjadi hal yang baik apabila di setiap rumah atau kedai memiliki wadah pembuangan sesuai kategori, dengan begitu pasokan material sampah daur ulang akan meningkat. iLitterless memperkenalkan cara membuang sampah yang mudah, yaitu adalah dengan menyimpan sampah anorganik – dalam keadaan bersih – pada suatu wadah, seperti bak/ember, karung, atau tong.

Ketika wadah tersebut sudah penuh sampah anorganik, barulah dilakukan pemilahan sesuai kategorinya. Pemilahan dilakukan hanya pada waktu dua mingguan, atau bahkan satu bulan sekali, menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Sampah yang sudah dipilah, homogen, dan “dikunci” sesuai kategori tersebut kemudian dapat diserahkan kepada petugas kebersihan. Ataupun ditukar dengan uang di Bank Sampah terdekat, maupun pemulung sekitar.

Modern problems, require modern solutions. Meningkatnya permasalahan juga perlu diimbangi dengan tanggungjawab yang lebih inovatif namun juga praktis. Memilah sampah adalah salah satu cara yang paling sederhana, dan paling memungkinkan untuk dapat kita lakukan sebagai individu perkotaan dengan aktivitas yang padat.

Proses berikutnya akan dapat dilaksanakan dengan lebih ringan oleh para petugas kebersihan, pemulung, pengepul, pencacah, hingga sampai pada perusahaan daur ulang. Dengan begitu, jumlah tumpukan sampah di TPA juga akan berkurang seiring dengan banyaknya sampah yang dapat didaur ulang.

Beragam jenis tas dan dompet produk bahan daur ulang yang dijual di kantor Bank Sampah Malang (BSM). (Terakota/ Eko Widianto).

Langkah besar berikutnya dapat kita tingkatkan dengan mengurangi penggunaan sampah agar dapat mendorong produksi kemasan yang lebih efektif dan efisien, dengan membudayakan konsumsi produk berbasis isi ulang (refill) misalnya. Hingga membenahi manajemen pengelolaan sampah pada level menengah (kelompok) dan makro (politik) yang tentunya membutuhkan peran pemerintah dalam pelaksanaan program. Serta membuat kebijakan sebagai pondasi gerakan penyelamatan lingkungan.

Kebijakan tersebut akan dapat membuka jalan bagi komunitas atau organisasi non pemerintahan untuk ikut berpartisipasi dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Sederhananya, sampah yang terkumpul secara komunal per dasa wisma atapun rukun tetangga akan memberikan dampak yang lebih signifikan daripada per individu atau kepala keluarga (KK). Hal tersebut akan lebih mudah tercapai apabila pemerintah turut memberi dorongan berupa peraturan maupun kerjasama program.

*Mahasiswa Pasca Sarjana UMM dan CO Founder iLitterless.

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini