Piala Kalpataru Diarak Keliling Kota Malang Sembari Kampanye Less Plastic

piala-kalpataru-diarak-keliling-kota-malang-sembari-kampanye-less-plastic
Kesenian tradisional mengiringi arak-arakan Bambang Irianto dan Piala Kalpataru. (Terakota/Moch Farabi Wardana).

Terakota.id–Ketua RW 23, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing Kota Malang Bambang Irianto diarak keliling Kota Malang. Arak-arakan terdiri dari komunitas Aremania, seniman, pegiat lingkungan, pasukan kuning dan komunitas Malang Willys Club. Bambang menumpang Jeep Willys sembari memboyong piala Kalpataru kategori Pembina Lingkungan.

Penghargaan Kalpataru diserahkan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya kepada Bambang Irianto di Bitung, Sulawesi Utara 29 Agustus 2019. Bambang menerima penghargaan lantaran dinilai sebagai sosok yang berhasil mengubah kampung Glintung yang kumuh dan langganan banjir menjadi hijau, bersih dan sejuk.

Arak-arakan dimulai dari Universitas Islam Malang-Universitas Brawijaya Malang-Balai Kota Malang-Malang Post dan berakhir di RW 23 Kelurahan Purwantoro alias Kampung Glintung atau yang dikenal Kampung 3G (Glintung Go Green). Arak-arakan meriah, disambut masyarakat dan publik Malang sepanjang perjalanan.

Sementara di Balai Kota Malang, disambut kesenian tradisional meliputi tarian dan kelompok atau grup dawai Museum Musik Indonesia (MMI). Grup dawai tampil khusus dengan intrumen sapek. Dentingan dawai instrumen tradisi suku Dayak nan merdu menyambut kehadiran Bambang Irianto dengan piala Kalpataru.

Grup Dawai MMI menyajikan sejumlah lagu antara lain Inani Keke, Cublak-cublak Suweng, Berita Cuaca, Kepada Alam dan Penciptanya. Serta lagu yang diciptalan khusus untuk menyambut penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup berjudul Kalpataru. “Lagu ini diciptakan Mas Azis Franklin kemarin malam,” kata Ketua Museum Musik Indonesia, Hengki Herwanto.

Pelaksana Tugas Wali Kota Malang, Sutiaji bangga atas prestasi Bambang Irianto dan kiprahnya dalam mengubah kawasan kumuh dan banjir menjadi daerah yang ramah lingkungan. Apalagi, kini banyak daerah yang belajar konservasi air dan lingkungan ke Kampung Glintung. Bahkan, Bambang Irianto juga menjadi motivator dan penggerak lingkungan di sejumlah kota dan daerah di Nusantara.

“Saat awal menjabat Wakil Wali Kota Malang 2013, saya ikut turun membersihkan sungai di Kampung Glintung,” katanya.  Saat itu, katanya, jika hujan Glintung pasti banjir. Pemerintah, katanya, menjadi mediator, katalisator di masyarakat. Namun harus selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) agar terarah.

Pemerintah, ujar Sutiaji, mendukung dan menjadikan kampung konservasi air 3G sebagai model atau percontohan. Terutama atas kiprah Bambang Irianto dalam memovitasi masyarakat untuk bergerak bersama memperbaiki kawasan. “Tak mudah untuk menggerakkan masyarakat,” kata Sutiaji.

Selain itu usaha konservasi air atau menabung air di Kampung Glintung turut menggerakkan ekonomi masyarakat setempat. Ekonomi meningkat, warga menghasilkan aneka produk makanan olahan. Serta memaksimalkan lahan yang tersedia untuk pertanian (Urban farming), sekaligus bagian dari ketahanan pangan.

“Semua kebutuhan sehari-hari bisa didapat dari lingkungan sekitar. Sekaligus berperan untuk mengendalikan inflasi,” katanya.  Selain itu juga dibangun training center yang fokus mengenai urban farming dan konservasi air. Peserta datang dari berbagai daerah dan berbayar.

“Mereka berhasil mendirikan koperasi, memproduksi makanan, minuman dan oleh-oleh disediakan masyarakat setempat. Termasuk penginapan untuk peserta pelatihan,” katanya.

Bambang mengakui jika awalnya kesulitan mengubah pola pikir warganya dalam mengubah wajah kampung. Untuk menghijaukan kampung, ia memanfaatkan potensi yang ada dan tanpa dana besar. Masyarakat diwajibkan menanam tanaman hias dan tanaman hijau di depan rumah masing-masing.

“Saya terpaksa menggunakan kekuasaan stempel sebagai media memaksa warga. Warga wajib menanam tanaman hias, jika tidak tak akan mendapat layanan administrasi,” katanya.

Setelah terpilih sebagai Ketua RW, Bambang memamparkan konsep membangun Glintung menjadi kampung wisata dalam sebuah rapat. Saat itu, banyak yang mencibir dan menudingnya sebagai orang gila.

piala-kalpataru-diarak-keliling-kota-malang-sembari-kampanye-less-plastic
Bambang Irianto secara simbolis menyerahkan Piala Kalpataru kepada Pelaksana Tugas Wali Kota Malang Sutiaji. (Terakota/Moch Farabi Wardana).

Bambang tetap perlahan-lahan mengajak masyarakat untuk memperbaiki lingkungan. Caranya dengan kerja bakti, bergotong royong. Apalagi kampung Glintung juga selalu langganan banjir saat musim hujan. Penyebabnya banyak  lahan terbuka hijau sudah berdiri bangunan.

Sementara saluran air dan drainase semakin lama semakin menyempit. Perkampungan warga juga semakin padat. Bahkan saat banjir, sandal dan sepatu warga juga hanyut ke selokan maupun sungai. Masalah itu timbul sejak bertahun-tahun. “Kalau hujan alamat banjir. Air sampai sepaha orang dewasa,” kata warga setempat, Jaying yang tinggal sejak 1964.

Bambang Irianto menggandeng Profesor Muhammad Bisri saat itu menjabat Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang. Gayung bersambut, Bisri yang mengusulkan dibangun sumur injeksi di kawasan tersebut. Sumur injeksi dibangun dengan biaya dari Universitas Brawijaya. Sedangkan pengerjaan dilakukan bergotong royong dengan warga setempat.

Tahap awal warga bersama Bisri merembug titik yang harus dibangun sumur injeksi. Bisri menghitung, seharusnya di Malang dibangun ribuan sumur injeksi untuk mengendalikan banjir. Sebagai daerah dataran tinggi, banjir di Malang terjadi karena permasalahan drainase. Air hujan tak bisa terserap langsung ke tanah, ruang terbuka hijau berkurang berganti bangunan.

Sehingga air mengalir tak terarah, sedangkan selokan dan drainase tak  bisa menampung seluruh air hujan. Akibatnya terjadi banjir di titik-titik tertentu. Sumur injeksi juga berfungsi untuk menampung air tanah. Sementara selama ini air tanah disedot besar-besaran untuk kepentingan industri, perhotelan  dan perumahan.

piala-kalpataru-diarak-keliling-kota-malang-sembari-kampanye-less-plastic
SUMUR INJEKSI. Bambang Irianto bersama Direktur Utama Perum Jasa Tirta Raymond Valiand memeriksa sumur injeksi. (Terakota/Eko Widianto).

Kampung Glintung telah dibangun sebanyak tujuh buah sumur injeksi. Menampung sekitar 42 ribu liter air. Selain sumur injeksi, Kampung Glintung juga membangun biopori di sejumlah ruas jalan di kawasan tersebut. Mereka membangun lubang biopori dengan diameter 10-30 centimeter sedalam 80-100 centimeter.

Lubang terbuat dari bekas kaleng cat. Sehingga tak membutuhkan modal. Di dalam biopori dimasukkan sampah organik sehingga terjadi proses pengomposan. Air terserap tanah, sedangkan kompos bisa dipanen untuk pupuk tanaman. Total di kampung berpenduduk 480 Kepala Keluarga tersebut memiliki 700 lubang biopori. Total mampu menampung 14 ribu liter air.

Kampung Glintung masuk nominasi lima besar dalam Guangzhou International Award for Urban Innovation 2016. Bambang Irianto juga mendapat penghargaan dalam ajang festival prestasi Indonesia yang diberikan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

Selain mengarak piala Kalpataru juga dideklarasikan Less Plastic. Sebuah gerakan mengurangi sampah plastik. Mulai mengurangi kantung kresek beralih menggunakan kantung kain dan kertas. Selain itu mengurangi kebiasaan menggunakan air minum dalam kemasan dengan menggunakan botol isi ulang.

* Moch Farabi Wardana turut menyumbang bahan dalam laporan Terakota.id

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini