Peta Budaya Jawa Timur

Oleh : Cokro Wibowo Sumarsono

Terakota.id–Secara kultural Jawa Timur merupakan sebuah mozaik kebudayaan dengan subkultur yang sangat beragam. Namun justru dengan adanya keberagaman tersebut yang menjadi tali pengikat adanya jiwa persatuan, buktinya Jawa Timur adalah satu-satunya propinsi yang belum pernah memekarkan diri sejak masa awal kemerdekaan. Hal ini dapat terjadi karena kematangan budaya yang sudah mengakar kuat di relung hati masyarakat Jawa Timur.

Sejarah mencatat bahwa pendirian Kerajaan Majapahit dilakukan secara bersama-sama oleh suku Jawa subkultur Jenggala-Singhasari di bawah kepemimpinan Raden Wijaya yang dibantu oleh masyarakat Jawa subkultur Panjalu-Kadiri dan suku Madura di bawah pimpinan Aria Wiraraja.

Tiga kekuatan utama di Jawa Timur tersebut memiliki saham yang sama dalam proses pendirian Majapahit. Perselisihan berkepanjangan antara pewaris klan Jenggala dan klan Panjalu yang diteruskan oleh klan Kadiri dengan klan Singhasari berhasil dipersatukan oleh Raden Wijaya dalam sistem tatanegara baru bernama Majapahit. Suku Madura yang sebelumnya kurang mendapatkan peran, pada masa awal Majapahit mendapatkan kepercayaan yang sangat besar dari Negara.

Patih Nambi dan Menteri Mancanagari Ranggalawe menempati posisi kunci dalam pemerintahan, sedangkan Aria Wiraraja memimpin daerah otonom luas di wilayah Tapal Kuda yang disebut dengan tlatah Lamajang Tigang Juru yang berpusat di tempuran kali Bondoyudo Lumajang.

Persatuan antar subkultur tersebut dipupuk sejak Raja Kertanegara Singhasari mencanangkan konsepsi Cakramandala Dwipantara. Sebuah doktrin persatuan nasional dalam menyatukan pulau-pulau di Nusantara guna menghadapi ancaman nyata kekuatan Tartar Mongol yang ketika itu telah menguasai separuh belahan dunia. Persatuan antar subkultur tersebut dipupuk semakin hebat lagi dengan digalakkannya tradisi Panji, yaitu wiracarita asli Jawa Timur yang menceritakan kisah romantika dan perjuangan Raden Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji Candrakirana dengan latar belakang dinamika pasang surut hubungan antara Jenggala dan Panjalu beserta kerajaan-kerajaan lainnya di Jawa Timur.

Saat itu wiracarita Panji mengalahkan kepopuleran Ramayana dan Mahabarata, menyebar hingga ke seluruh penjuru Asia Tenggara. Hingga saat ini wiracarita Panji telah bermetamorfosis menjadi banyak ragam kesenian tradisi seperti Wayang Topeng Dalang Malang, Wayang Beber Pacitan, Wayang Krucil, Wayang Gedhog serta puluhan cerita rakyat.

Persatuan antar subkultur tersebut terus berlanjut pada saat pusat kuasa bergeser ke tengah pulau Jawa hingga melahirkan istilah Bang Wetan atau Brang Wetan untuk menandai masyarakat Jawa Timuran. Pada masa kolonialisme persatuan antara subkultur kembali mengerucut. Trunojoyo dan Untung Suropati berhasil menyatukan etnis Jawa dan Madura guna melawan Belanda.

Selanjutnya Jawa Timur selatan mulai dari Pacitan hingga Banyuwangi dipenuhi oleh sisa-sisa pejuang Diponegaran paska berakhirnya Perang Jawa tahun 1830 M. Mereka mendirikan ratusan perkampungan baru di daerah-daerah terpencil untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang ditopang oleh infrastruktur modern yaitu jalan raya pos Anyer-Panarukan di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Dalam formasi pasukan Diponegoro terdapat ratusan Kyai, puluhan haji belasan penghulu serta banyak guru ngaji yang ikut bertempur melawan Belanda. Rajutan antara sisa-sisa kekuatan Laskar Diponegaran dengan pesantren-pesantren kuno yang dipelopori oleh Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo menghasilkan sebuah pola perjuangan berbasis pesantren.

Mengubah strategi perjuangan bersenjata menjadi perjuangan pendidikan karakter, moral dan agama sekaligus. Spirit religiusitas ditanamkan secara bersamaan dengan nilai-nilai patriotisme yang kelak memunculkan gagasan national staat (negara bangsa) secara massal di kalangan pesantren. Meledak secara heroik pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya paska diumumkannya fatwa Resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh Hasyim Asyari. Sekali lagi persatuan antar subkultur di Jawa Timur kembali dibuktikan secara nyata di lapangan.

Subkultur Panjalu untuk selanjutnya bermetamorfosis menjadi subkultur Mataraman, yaitu daerah yang dipengaruhi secara kuat oleh kultur budaya Mataram Islam. Daerah ini merupakan daerah terluas yang meliputi wilayah eks Karesidenan Madiun dan Kadiri serta daerah-daerah di pesisir selatan Jawa basis pertahanan Laskar Diponegaran.

Subkultur Jenggala untuk selanjutnya bermetamorfosis menjadi subkultur Arek, meliputi bekas wilayah inti Panjalu dan Singhasari yaitu wilayah Malang Raya, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan sekitarnya. Disebut subkultur Arek karena masyarakat di daerah ini menggunakan istilah arek guna menyebut istilah bocah.

Subkultur Pendalungan menempati daerah bekas wilayah kekuasaan Lamajang Tigang Juru dan Blambangan. Merupakan daerah percampuran antara etnis Jawa dan Madura yang melahirkan corak kebudayaannya sendiri. Menempati wilayah ujung timur Jawa Timur, sering diistilahkan dengan daerah Tapal Kuda karena jika dilihat dari atas wilayah di sebelah timur kawasan Bromo Tengger Semeru ini mirip dengan ladam tapal kuda. Sementara itu pulau Madura tetap menjadi basis tradisional berkembangnya budaya asli Madura.

Di kawasan Bromo berdiam subkultur Tengger, pewaris tradisi Majapahitan yang masih eksis dengan segala ritual adatnya. Di bekas wilayah Jipang Panolan, tepatnya di tapal batas Jawa Tengah dengan Jawa Timur bagian utara berdiam subkultur Samin atau Sedulur Sikep. Di pantai utara berdiam subkultur Jawa Pesisiran yang banyak bekerja sebagai nelayan dan petani tambak.

Keberagaman subkultur tersebut telah ada sejak lama, hidup rukun berdampingan hingga saat ini. Tumbuh berkembangnya beragam seni tradisi bisa menjadi penanda cakupan luasan persebaran subkultur di era modern. Daerah-daerah yang masih gemar menggelar pertunjukan wayang kulit gagrak Mataraman (Jogja-Solo) merupakan daerah persebaran subkultur Mataraman.

Daerah-daerah yang masih gemar menanggap pagelaran Wayang Kulit gaya Jawa Timuran merupakan daerah persebaran subkultur Arek. Kekhasan dialek dan logat bahasa juga menjadi penanda yang paling mudah bagi para penutur bahasa masing-masing pendukung subkultur yang ada.

Wong Mataraman menjunjung etika sopan santun dan sering menggunakan bahasa simbolik dalam menyampaikan maksudnya, menjalankan ritual keagamaan dengan balutan tradisi Jawa yang unik. Subkultur Arek terkenal dengan sifat keterbukaan dan kedinamisan geraknya. Subkultur Pendalungan terkenal dengan budaya santri dan kecepatannya dalam beradaptasi dengan lingkungan.

Subkultur Tengger dan Samin terkenal sebagai penjaga kelestarian adat dan tradisi asli. Masyarakat Madura terkenal dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, selain sebagai santri yang taat dalam menjalankan syariat agama. Sedangkan subkultur Jawa Pesisiran memiliki karakter terbuka dan mampu beradaptasi dengan perubahan dari luar secara cepat.

Pemetaan budaya diperlukan sebagai landasan awal bagi perumusan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Propinsi Jawa Timur sebagai langkah kongkrit dalam melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta menjalankan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2018 tentang Tata Cara Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah dan Strategi Kebudayaan yang baru diundangkan pada tanggal 14 Agustus 2018 kemarin.

Semoga Perpres tersebut dapat menjadi kado istimewa bagi segenap anak bangsa yang gandrung akan bangkitnya Kebudayaan Nasional di tengah-tengah peringatan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-73. Dirgahayu Indonesia !

Glugu Tinatar, Landungsari Malang
Jumat Wage, 17 Agustus 2018

*Cokro Wibowo Sumarsono, pimpinan Padepokan Glugu Tinatar

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini