Pesona Kampung Adat Cireundeu

pesona-kampung-adat-cireundeu
Masyarakat kampung adat Cireundeu sungkem kepada pemuka adat memperingati tahun baru saka Sunda. (Foto : Tribunnews).

Oleh : Neng Eri Sofiana*

Terakota.id–Kampung Cireundeu terletak di kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Kota Cimahi Jawa Barat. Berasal dari nama “pohon rendeu” yang sebelumnya populasinya banyak di tempat ini. Pohon reundeu adalah tanaman herbal yang menjadi bahan baku obat. Kampung Cireundeu dari Kota Cimahi berjarak sekitar lima kilometer. Kampung seluas 64 hektare yang terdiri dari 60 hektare lahan pertanian/leuweung (hutan) dan 4 hektare kawasan permukiman.

Kawasan hutan terbagi menjadileuweung larangan (hutan larangan), leuweung tutupan (hutan reboisasi) dan leuweung baladahan (hutan pertanian). Hutan larangan tidak boleh ditebang berperan sebagai penyimpanan air. Sedangkan leuweung tutupan (hutan reboisasi) pepohonannya dapat digunakan dan diadakan reboisasi. leuweung baladahan (hutan pertanian) merupakan hutan yang digunakan berkebun dan biasa ditanami jagung, kacang tanah, singkong atau umbi-umbian.

Kampung Cirendeu dihuni oleh 367 kepala keluarga atau kurang lebih 1.200 jiwa. Terdiri dari 550 orang perempuan dan 650 orang laki-laki. Kondisi sosial masyarakat di kampung Cireundeu memiliki keadaan sosial yang terbuka dengan masyarakat luar. Namun kebanyakan masyarakat kampung Cireundeu tidak suka merantau atau berpisah dengan orang-orang sekerabat.

Pola pemukiman di kampung Cireundeu memiliki pintu samping yang harus menghadap ke arah timur. Bertujuan agar masuknya cahaya matahari ke bumi. Kehidupan antar masyarakat hidup dengan semangat gotong royong. Kampung Cireundeu didominasi masyarakat Muslim, namun keberadaan masyarakat adat menjadikan kampung banyak dikunjungi dan dijadikan tempat wisata, penelitian, acara adat, bahkan acara-acara lain yang bekerjasama dengan berbagai pihak.

Masyarakat adat tersebar di tiga RT. Jumlahnya sebanyak 67 kepala keluarga dengan 59 kepala keluarga. Berdiri sebuah masjid, dan bale sarasehan atau tempat untuk berkumpul atau pertemuan masyarakat adat.

Kehidupan yang harmonis dan saling gotong royong tergambar dalam setiap kegiatan seperti saat kelahiran yang saling membantu dalam menyediakan kendaraan. Saat ada keluarga warga yang meninggal, mereka saling membantu menggali tanah. Namun masyarakat yang berbeda keyakinan tak ikut serta dalam ritual pemakaman.

Sedangkan dalam perkawinan, masyarakat adat dan agama atau kepercayaan lain saling mengucapkan permisi dan mengundang satu sama lain. Namun kebiasaan masyarakat datang sehari sebelum acara perkawinan digelar. Sehingga saat hari perkawinan, undangan yang datang adalah keluarga, sudara, teman dan lainnya.

Adapun peringatan atau upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat adat, seperti peringatan satu sura atau tanggal 1 sura sesuai kalender Saka Sunda. Masyarakat dengan kepercayaan lain mengikuti persiapan dan ikut berpartisipasi dalam jalannya acara.

Sunda Wiwitan

Mereka memiliki kesenian gondang,[1] karinding,[2] dan angklung buncis[3] yang biasanya ditampilkan dalam ritual upacara adat tertentu. Seperti upacara satu sura[4] atau sekedar upacara menyambut tamu. Masyarakat adat di kampung ini adalah bagian dari Sunda Wiwitan yang tersebar di daerah Cigugur-Kuningan-Cirebon dengan nama Agama Djawa-Sunda (ADS), Sunda Wiwitan Suku Baduy di Kanekes (Lebak,Banten), Kasepuhan di Cipta gelar (Banten Kidul, Sukabumi), Cisolok-Sukabumi, Kampung Naga-Tasikmalaya.

Sunda Wiwitan berasal dari kata sunda dan wiwitan. Istilah “sunda” menurut P. Djatikusumah dimaknai dalam tiga kategori konsep mendasar, yaitu: Pertama, sunda filosofis yangberarti bodas (putih), bersih, cahaya, indah, bagus, cantik, baik dan sebagainya. Kedua, Sunda etnis yang berarti atau merujuk pada komunitas masyarakat suku bangsa Sunda yang Tuhan ciptakan seperti halnya suku dan bangsa lain di muka bumi.

Selamat datang di Kampung adat Cireundeu. (Foto : infobdg.com).

Dalam hal ini tentunya berkaitan pula dengan kebudayaan Sunda yang melekat cara dan ciri manusia Sunda itu sendiri. Ketiga, Sunda geografis yang berarti mengacu sebagai penamaan suatu wilayah geografis berdasarkan peta dunia sejak masa lalu terhadap wilayah Indonesia atau Nusantara yaitu sebagai tataran wilayah Sunda Besar (The Greater Sunda Islands) meliputi himpunan pulau yang berukuran besar (Sumatera, Jawa, Madura, Kalimantan) dan Sunda Kecil (The Lesser Sunda Islands) yaitu deretan pulau yang berukuran lebih kecil yang terletak di sebelah timur pulau Jawa (pulau Bali, Lombok, Flores, Sumbawa, Sumba, Roti dan lain-lain).[5]

Sedangkan kata “wiwitan” secara bahasa berarti asal mula. Maka dapat diartikan bahwa Sunda Wiwitan berarti Sunda asal atau Sunda asli atau disebut juga agama Jati Sunda. Ia diyakini sebagai sebuah agama yang besar. Agama leluhur bangsa yang sangat peduli terhadap alam dan sopan santun. Adapun pandangan masyarakat adat Cireundeu terhadap agama adalah ageman (pegangan) untuk tuntunan hidup (keselamatan) yang tidak bisa lepas dari pemaknaan budaya yang artinya ketika seseorang beragama maka secara tidak langsung dan tidak disadari ia sedang menjalankan dan memaknai budaya yang melekat pada agama yang dianut.

Hal ini dikuatkan dengan adanya pepatah Sunda yang mengatakan bahwa “ulah poho kana kulah getih sorangan” yang artinya jangan lupa akan tanah kelahiran atau ibu pertiwi, serta sebuah ungkapan yang mengingatkan sebuah hak dan bukan “budaya batur dimumule, budaya sorangan dipohokeun cul dogdog tinggal igel” yang artinya budaya bangsa lain dipelihara, sementara budaya bangsa sendiri dilupakan. Konsep agama dalam kepercayaan masyarakat adat Cireundeu penganut Sunda wiwitan yakni Tuhan yang disebut “Gusti Sikang Sakang Sawiji Wiji” atau di atas segalanya pencipta mereka, setiap manusia akan kembali kepada Tuhan “Mulih Kajati Mulang Ka Asal”.

Pada abad 18 sesepuh Cirendeu atau mamak Haji Ali mempunyai kesadaran untuk tidak terjajah, kemudian mencari sebuah jawaban atau dukungan hingga ia mengembara dan pada abad 19 sampai di Cigugur Kuningan dan bertemu dengan Pangeran Madrais. Setelah bertemui dengan Pangeran Madrais, sesepuh Cirendeu merasa telah menemukan jawaban dan bertemu dengan orang yang dicari.

Mengonsumsi Singkong atau Rasi

Pada abad yang sama, keturunan sesepuh Cireundeu menimba ilmu ke pangeran Madrais hingga cucu perempuan sesepuhnya yang bernama Ibu Anom atau Ibu Enceu menikah dengan Pangeran Madrais. Kemudian sekitar tahun 1930, Pangeran Madrais pernah mengunjungi Cireundeu. Pangeran Sepuh pernah mendengar keinginan warga Cireundeu yang menimba ilmu kepadanya untuk dapat merdeka lahir batin atau dalam arti untuk tidak mengkonsumsi nasi beras dari padi.

Hingga kini, masyarakat adat mengonsum­si singkong atau ketela yang disebut dengan rasi sebagai makanan pokok secara turun temurun. Diawali pada tahun 1918 ketika sawah-sawah yang mengering. Kemu­dian para leluhur menyarankan dan berpesan untuk menanamkan ketela sebagai pengganti padi. Karena tanaman ketela dapat dita­nam pada musim kering maupun musim hujan dan melihat ketersediaan lahan untuk menanam padi semakin sempit dan kecil, banyak sawah-sawah yang telah berganti gedung.

Sejak 1924 masyarakat adat Cireundeu mulai mengon­sumsi ketela hingga saat ini. Masyarakat adat mengolah singkong dengan cara digiling, diendapkan dan disaring men­jadi aci atau sagu. Ampas dari olahan sagu yang dikeringkan juga dibuat men­jadi rasi atau beras singkong. Tidak hanya itu, singkongpun diolah menjadi berbagai camilan seperti opak, egg roll, cireng, simping, bolu, bahkan dendeng kulit singkong yang dikemas dan dijual sebagai oleh-oleh.

Dengan konsistensi masyarakat adat yang mengonsumsi rasi sebagai makanan pokok, membuat masyarakat adat tidak pernah mengonsumsi beras. Hal ini bukan berarti masyarakat adat mengharamkan beras dari padi, namun melestarikan dan mengikuti pesan sesepuh. Rasa kenyang dari konsumsi ketela lebih lama dibandingkan dengan padi. Sehingga masyarakat adat cukup makan dua kali sehari.

Menurut tokoh pemuda Kang Yana), masyarakat adat ingin memberitahukan pada masyarakat Indonesia bahwa sumber pangan bukanlah hanya beras. Sehingga harga beras mahal, sampai impor beras, dan lahan sawah menyempit tidak menjadi masalah.

[1] Gondang atau musik sunda ialah lagu atau papantunan atau pantun-pantun pada tutunggulan atau menghasilkan bunyi-bunyian yang terdengar dari pukulan alu dan lesung yang dimainkan oleh beberapa orang. Biasa dilakukan pada saat panen raya.

[2] Karinding atau alat musik tradisional Sunda yang dibuat dari bambu, umumnya memiliki panjang 10 cm dan lebar 2 cm, ada tiga ruas dengan ruas pertama tempat mengetuk karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah, ruas tengah ada bagian bambu yang dipotong hingga bergetar saat karinding diketuk dengan jari, dan ruas ketiga (paling kiri) sebagai pegangan. Para karuhun atau orang sunda terdahulu menggunakan alat ini sebagai pengusir hama, juga digunakan untuk pengiring rajah atau doa saat ritual di upacara adat. Cara memainkannya dengan menempelkan ruas tengah karinding di depan mulut yang agak terbuka, lalu memukul atau menyetir ujung ruas paling kanan karinding dengan satu jari hingga “jarum” itulah dihasilkan suara yang nantinya direnonansi oleh mulut. Suara yang dikeluarkan akan tergantung dari rongga mulut, nafas, dan lidah.

[3] Angklung buncis ialah permainan angklung di sekitaran Bandung atau Priangan yang kata buncis berasal dari teks lagu yang dimainkan di dalamnya, yakni “cis kacang buncis nyengcle”.

[4] Upacara Satu Sura merupakan hari besar bagi masyarakat adat Cireundeu. Upacara ini merupakan wujud syukur atas segala nikmat yang diberikan Sang Kuasa pada masyarakat adat dengan mengenakan pakaian khusus, laki-laki biasanya menggunakan pakaian pangsi (baju berkancing dan celana panjang hitam) dan perempuan berke­baya pu­tih. Mereka  mem­buat gegunungan sesajen yang berisi buah-buahan dan rasi (nasi singkong). yang memiliki makna dan filosofi tersendiri. Ia dibawa ke Bale, dimana seluruh masyarakat adat berkumpul dan mendengarkan wejangan sesepuh.

[5] Berkaitan dengan pemahaman ketiga, menurut R.W. van Bemmelen Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan menurut data sejarah sunda adalah wilayah di bagian barat pulau Jawa dengan segala aktifitas kehidupan manusia yang muncul pertama kali pada abad ke-9 Masehi. Dalam perkembangan lain, istilah Sunda digunakan dalam konotasi manusia atau kelompok manusia, yaitu urang sunda (orang Sunda), mereka adalah orang yang mengaku dirinya dan diakui oleh orang lain sebagai orang Sunda.

pesona-kampung-adat-cireundeu

*Mojang Sunda tinggal di Ponorogo. Senang menggeluti kebudayaan dan dunia hukum Islam.

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.


Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini