Pesona di Kaki Gunung Kelud

Oleh: Luthfi J Kurniawan*

Terakota.id–Pertengahan Desember 2017, pukul 06.30 WIB para siswa kelas enam SD Negeri 2 Merjosari, Kota Malang berkumpul di Lapangan Merjosari. Rumput lapangan sepak bolah dibasahi embun pagi menjadi titik keberangkatan. Terik mentari yang masih bercadar embun menjadi saksi dimulainya perjalanan eduwisata.

Menumpang sebuah bus, rombongan para siswa bertolak ke Blitar, sebuah kota kecil di pesisir selatan Jawa Timur. Kota Blitar juga tepat berada di kaki Gunung Kelud. Blitar dikenal sebagai kota para tokoh pejuang kemerdekaan. Namun sejarah juga mencatat kisah kelam di zaman pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru.

Menemani siswa SD Negeri 2 Merjosari, perjalanan memakan waktu kurang lebih selama dua jam. Melintasi bendungan Ir. Sutami, dikenal dengan bendungan Karangkates. Terletak di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang berbatasan dengan Kabupaten Blitar.

Kota Blitar memiliki cukup banyak objek wisata. Mulai wisata religi, wisata alam, pegunungan, pantai, maupun wisata sejarah. Wisata sejarah misalnya meliputi Candi Penataran, Candi Gambar, Arca Warak, Candi Kontes, Candi Sawentar, Komplek Makam Bung Karno yang juga terdapat Museum Bung Karno, ada juga istana Gebang.

Sementara wisata alam, ada Gunung Kelud, Gunung Butak dan beberapa lokasi wisata Pantai. Ditambah sejumlah objek wisata air terjun. Termasuk wisata Gua Embultuk. Berdasarkan cerita di masyarakat, goa pernah menjadi tempat persembunyian dari masyarakat yang diduga sebagai anggota PKI.  Kota Blitar juga terdapat wisata religi yaitu Gua Maria Sendangrejo.  Saban perayaan Natal selalu ramai dikunjungi umat kristiani.

Secara geografis Blitar terletak di tenggara Kota Surabaya, berjarak sekitar 150-an kilometer. Dari Surabaya perjalanan ditempuh sekitar empat jam, jika dalam kondisi lalu lintas normal. Tak macet. Pada zaman dahulu, kota yang berada di lereng Gunung Kelud ini memiliki sejarah penting bagi perkembangan Kerajaan Majapahit. Berdasarkan beberapa literatur maupun informasi tentang sejarah, Blitar, didirikan Nilasuwarna atau dikenal bernama Gusti Sudomo.

Nilasuwarna merupakan keturunan seorang Adipati di Tuban, tugas utama Nilasuwarna adalah menumpas bala tentara Bangsa Tartar. Kerajaan Majapahit menduga Tartar melakukan politik kolonialisme.  Nilasuwarna berhasil memukul mundur bala tentara Tartar,  sehingga Kerajaan Majapahit menganugerahi penguasaan wilayah Blitar.  Awalnya Blitar bernama Balitar singkatan dari Bali Tartar atau Tartar kembali.

Nama ini merupakan sebuah penanda bahwa tentara bangsa Tartar dapat dikalahkan oleh Majapahit. Dalam perkembangannya, Kadipaten Blitar diperintah Adipati Aryo Blitar I, Adipati Aryo Blitar II, dan Adipati Aryo Blitar III. Pergantian dari Adipati Aryo Blitar I ke Adipati Aryo Blitar II diwarnai perebutan kekuasaan dengan terbunuhnya Adipati Aryo Blitar I.

Demikian juga saat pergantian dari Adipati Aryo Blitar II kepada Adipati Aryo Blitar III. Juga diwarnai dengan perebutan kekuasaan yang ditandai dengan terbunuhnya Adipati Aryo Blitar II. Ada motif dendam kesumat. Adipati Blitar III merupakan anak dari Adipati Aryo Blitar I.

Semenjak Blitar diperintah Adipati Aryo Blitar III inilah Kadipaten Blitar diserahkan kepada penjajah Belanda. Sebagai kompensasi atas Belanda membantu Kerajaan Kartasura Hadiningrat dalam perang saudara yang berkecamuk di wilayah Kerajaan Kartasura Hadiningrat.

Awalnya Blitar merupakan wilayah perdikan dari Kerajaan Kartasura Hadiningrat yang diperintah Raja Amangkurat. Semenjak Kadipaten Blitar dibawah kekuasaan penjajah Belanda maka berakhir pulalah keberadaan Kadipaten Blitar. Sejak itu, Blitar mengalami masa-masa penjajahan dan sekaligus mengalami pelbagi pergolakan rakyat Blitar dalam melawan penjajah kolonial Belanda.

Berwisata di Blitar selain ke Gunung Kelud, wisatawan juga ramai berkunjung ke Candi Penataran dan komplek makam Bung Karno. Di dalam komplek pemakaman Bung Karno terdapat Museum Bung Karno. Wisatawan juga banyak yang berkunjung ke Istana Gebang, rumah tinggal masa kecil Bung Karno.

Wisatawan mengunjungi Candi Penataran Blitar saat musim libur sekolah akhir 2017. (Foto : Luthfi J Kurniawan).

Tidak ketinggalan, wisatawan juga mengunjungi kampung Coklat terletak di Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Sebuah perkebunan coklat yang dikemas untuk wisata pendidikan pertanian buah coklat. Juga disediakan beranekaragam minuman dan kundapan berbahan baku coklat.

Selama di Blitar, rombongan SDN Merjosari 2 Kota Malang, berkunjung ke Candi Penataran, Komplek Makam Bung Karno, kampung Coklat diakhiri berwisata di pemandian Sumber Udel. Sepanjang perjalanan eduwisata ini dipandu tim eduwisata Teraenterprise, lini usaha dari Terakota.id. Sepanjang perjalanan, tim pemandu juga berbagi informasi mengenai sejarah dan wisata di Blitar.

Pemandu menggunakan pendekatan dengan kadar bahasa anak seusia sekolah dasar. Menerangkan dan membagi informasi penting berkaitan dengan lokasi wisata yang dikunjungi. Misalnya sejarah Candi Penataran, mengenalkan siapa Bung Karno, apa saja yang telah Bung Karno perjuangkan, dan lain sebagainya.

Semua kenangan perjalanan yang menyenangkan dan memperkaya pengetahuan ini dokumentasi dalam bentuk video dan foto. Siang itu cuaca cukup terik saat rombongan berkunjung sekaligus berziarah ke makam proklamator RI, Presiden Sukarno alias Bung Karno. Keringat tidak bisa dicegah untuk tidak menetes.

Makam Bung Karno dipadati pengunjung, kami bertemu dengan para peziarah lainnya. Tampak rombongan dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Mereka melakukan kegiatan pembacaan tahlil di pusara Bung Karno. Makam Presiden pertama Republik Indonesia ini diapit makam kedua orang tuanya.

Ketika berada di komplek makam banyak pengunjung yang memberikan komentar mengenai Ir. Sukarno. S emasa hidup hingga wafatnya selalu memberi manfaat kepada masyarakat. Contohnya adalah roda perekonomian yang bergerak di sekitar makam telah memberikan hal positif kepada pemerintah Kota Blitar. Dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Tahlil dibaca dan digemakan di area cungkup makam Sang Proklamator. Setelah itu, diakhiri dengan tabur bunga di atas pusara Bung Karno dan kedua orang tuanya. Prosesi ziarah telah sempurna dilakukan. Kaki-kaki pun beranjak. Melangkah menuju bus yang akan mengantar siswa kembali ke Malang. Di dada terbersit harapan. Anak-anak ini lah yang kelak meneruskan perjuangan Bung Karno.

*Direktur Intrans Publishing, Pegiat Sosial, dan Dosen di Fisip UMM

Tinggalkan Balasan