Pesan Melestarikan Alam dari Kupatan Kendeng

Terakota.id–Menjelang lebaran ketupat, puluhan ibu-ibu pegunungan Kendeng berjalan kaki dari Posko Tolak Semen Desa Timbrangan, Gunem, Kabupaten Rembang. Masing-masing menenyeng klenting, yakni gerabah tempat air dan beras. Mereka berjalan beririgan menuju Sendang Wali, sumber mata air desa setempat.

Sumber mata air ini mengalir sepanjang tahun, meski musim kemarau.  Mereka mencuci beras di Sendang Wali sembari membawa air untuk merendam beras untuk ketupat. Aktivitas ini dikenal masyarakat Kendeng dengan sebutan temon banyu atau bertemu air. “Ketupat yang dicuci dan direndam air Sendang Wali lebih enak,” kata  tokoh adat sedulur sikep atau wong samin, Gunretno dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Temon banyu merupakan bagian dari prosesi kupatan kendeng atau ketupat kendeng. Ketupat yang dimasak ibu-ibu Kendeng, lantas dirangkai seperti gunung atau tumpeng. Setelah ditata dan dihias, puluhan orang memanggul kupat atau ketupat yang dibentuk gunungan itu.

Bagian atas gunungan diikat rumpun gabah dan jagung serta dipuncak dipasang bendera merah putih. Mereka mengarak gunungan ketupat ke sebuah tanah lapang di Desa Timbrangan, Gunem, Kabupaten Rembang 19 Juni 2018. Brokohan atau syukuran alam ini digeler Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK)

Saban tahun sepekan setelah lebaran, masyarakat Kendeng menggelar kupatan Kendeng. Tahun ini bertemakan “Nandur Kabecikan Ngopeni Paseduluran“, artinya menanam kebaikan memelihara persaudaraan.

Malam hari, digelar prosesi upacara lamporan yakni sebuah ritual untuk mengusir hama. Hama bagi petani tak hanya wereng, tikus, dan belalang. Tetapi juga kebijakan pemerintah yang tak mendukung petani. Termasuk pendirian pabrik semen yang mengancam aktivitas pertanian dan kehidupan para petani di Kendeng.

Kupatan Kendeng dilanjutkan halal bihalal diselingi diskusi hasil kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) di Omah Kendeng Sukolilo, Pati, 20 Juni 2018. Halal bihalal dihadiri Ketua tim KLHS Soeryo Adiwibowo, tim penilai KLHS Sudharto, tim KLHS Hartuti, dan Kiai Haji M. Zaim Ahmad Ma’some.

Kupatan Kendeng dilanjutkan halal bihalal diselingi diskusi hasil kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) di Omah Kendeng Sukolilo, Pati, 20 Juni 2018. (Foto : dokumentasi JM PKK).

Berlanjur dengan panggung rakyat bersama sejumlah musisi antara lain Navicula, Marjinal, Sisir Tanah, maupun Kepal SPI.  Musisi ini memiliki perhatian atas lingkungan dan kegiatan sosial. ”Acara ini sebagai ajang silaturahmi dalam momen lebaran,  sekaligus syukuran atas keluarnya hasil KLHS II,” ujarnya.

KLHS ini merupakan hasil pertemuan para petani Kendeng dengan Presiden Joko Widodo 2 Agustus 2016. Presiden memutuskan untuk membuat KLHS di pegunungan Kendeng meliputi Kabupaten Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Tuban, Bojonegoro dan Lamongan. KLHS dikoordinir Kantor Staf Kepresidenan, Kementrrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai ketua panitia pengarah, selama proses KLHS selama setahun semua ijin dihentikan.

KLHS tahap 1 khusus kawasan cekungan air tanah (CAT) Watuputih diumumkan pada 12 April 2017. Salah satunya merekomendasikan CAT Watuputih dan sekitarnya sebagai kawasan lindung dan ditetapkan sebagai kawasan bentang alam karst (KBAK). Dilarang melakukan kegiatan yang mengganggu sistem akuifer.

Sedangkan KLHS tahap 2 yang dilakukan meliputi tujuh kabupaten di wilayah pegunungan  Kendeng. Hasilnya diumumkan pada 14 Mei 2018. Rekomendasi secara umum ketujuh kabupaten mayoritas wilayahnya merupakan kawasan resapan air. Sehingga pengembangan kawasan tetap harus menjaga lanskap serta memelihara konservasi air.

JM-PPK menyampaikan kritik yakni kajian yang dilakukan Kementrian ESDM dalam tidak melakukan secara terbuka sesuai keputusan Presiden. Rekomendasi KLHS tak tegas melarang penambangan atau eksploitasi di pegunungan Kendeng sebagai jawaban atas ancaman krisis air di tujuh kabupaten. Serta berkurangnya lahan produktif berupa sawah dan hutan yang beralih fungsi menjadi kawasan tambang.

Gunretno menuntut usaha pemerintah atas kondisi ekosistem yang berada di titik kritis. Pemerintah harus mengambil langkah darurat, konkrit, terencana dengan baik, dan sistematis untuk mencegah kemerosotan ekosistem Pegunungan Kendeng. Yakni dengan melakukan moratorium terhadap semua izin lingkungan dan izin usaha pertambangan di seluruh kawasan Pegunungan Kendeng.

KLHS tidak mengkaji proyeksi kebutuhan semen nasional terhadap produksi semen di Jawa.  Berdasarkan data dari Kementrian Perindustrian, dari tiga perusahaan semen yang sedang berproduksi di Pulau Jawa antara lain PT  Indocement di tiga lokasi memiliki cadangan batu gamping 11.773,43 juta ton, produksi 10.007,42 juta ton. PT Semen Indonesia cadangan batu gamping di 3 lokasi sebesar 2.026,18 juta ton, produksi 1.722,26 juta ton.  PT. Holcim memiliki cadangan batu gamping di dua lokasi sebesar 130,99 juta ton, produksi sebesar 111,34 juta ton.

Pada 2025,  berdasarkan asumsi pertumbuhan konsumsi 10 persen per tahun, dengan rata-rata pertumbuhan kebutuhan semen tiap tahun 5 persen diperkirakan kebutuhan mencapai 1259,8 juta ton. Cadangan batu gamping tertambang yang dihimpun dari delapan Ijin Usaha Penambangan (IUP) batu gamping milik tiga perusahaan semen terbesar di Indonesia, meliputi Indocement, Semen Indonesia dan Holcim tercatat 13.930,60 juta ton.

Dengan asumsi tingkat efisiensi bahan baku mencapai 85 persen cadangan batu gamping ini bisa menjadi produk semen sebanyak 11.841,01 juta ton. Kelangsungan hidup mayoritas petani dan masyarakat luas sangat bergantung pada kelestarian sumber mata air. Kerusakan pengunungan Kendeng sebagai kawasan resapan air raksasa, akan mengakibatkan hilangnya ribuan sungai bawah tanah dan mata air.

Idul Fitri 1 Syawal 1439 H menjadi titik balik bagi upaya penyelamatan sumber daya alam di seluruh Indonesia.  Berharap momentum lebaran ini mendorong kita semua untuk memegang teguh UUD 1945. “Bumi dan air dan kekayaan alam di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar besar kemakmuran rakyat, bukan malah sebaliknya dikuasai negara dan dipergunakan untuk kepentingan pemodal.”

Gunretno mengutip Tembang Pocung :

Tembang Pocung

Nadyan watu

Mung mangkono kang kadulu

Ning tetep piguno

Tumrap gesang kita iki

Awit dadi omah banyu

Ingkang nyata

(Walaupun batu, Hanya seperti itu yang terlihat tapi tetap berguna, Untuk hidup kita ini, Karena jadi “rumah air”Yang nyata)

 

 

 

Tinggalkan Balasan